Review – Skakmat (2015)

written by Rangga Adithia on December 10, 2015 in CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia with one Comment

Setelah menggelitik saraf tawa lewat Kapan Kawin di bulan Februari silam, saya kemudian memang berharap Skakmat bakal kocak, untuk urusan komedi kacau-kacauan, Ody C Harahap bisa dibilang punya banyak pengalaman. Pertanyaannya sekarang, apakah Ody mampu menggarap film yang punya elemen baku hantam alias action di dalamnya? Jadi, tidak saja mampu membuat penontonnya tertawa tapi juga sekaligus terhibur dengan sajian aksi-aksi kelahinya. Skakmat pastinya punya tugas yang berat dalam menghadirkan formula film action-comedy dengan porsi yang berimbang, termasuk bagaimana tetap bisa serius pukul-pukulan dan tendang-tendangan selagi filmnya juga dituntut untuk ngelawak. Maka pemilihan Tanta Ginting dan Donny Alamsyah merupakan langkah yang tepat, ditandemkan dalam situasi yang chaos nan amburadul, kedua unsur aksi dan komedi nantinya mampu terwakili dengan baik oleh karakter Jamal dan Dito. Ditulis oleh Salman Aristo, apa yang ditawarkan Skakmat jelas berpotensi untuk menampilkan tidak hanya lawakan gila, tapi juga adegan laga yang menghibur, dan potensi tersebut tidak disia-siakan oleh Ody, Skakmat nyatanya memang gila dan menghibur.

Membuat orang ketawa itu bukan pekerjaan yang mudah, setiap penonton punya seleranya masing-masing dalam merespon komedi, untungnya Skakmat tampak sudah siap melayani beragam tipe penonton, termasuk orang yang susah ketawa macam saya. Skakmat tidak terjebak dengan satu trik, seperti variasi jurus yang nantinya dipamerkan oleh Donny Alamsyah dan Cecep Arif Rahman sebagai Bos Tanah Tinggi, lawakan-lawakannya juga variatif. Skakmat tidak akan mati duluan karena tidak lucu, dengan memanfaatkan berbagai kekacauan, beberapa adegan yang memang diniatkan guyon tersebut pada akhirnya berhasil memancing tawa di tengah aksi jotos-jotosan. Ody tahu betul bagaimana meramu kekacauan serta menempatkannya di tempat yang tidak disangka-sangka, misalnya di metro mini yang kemudian diubah jadi arena pertarungan antara Dito dan anak buah Mami Tuti (Hannah Al Rashid). Situasi kacau macam inilah yang dimanfaatkan Skakmat untuk ciptakan kelucuan dan mengundang penonton untuk tertawa, selain tetap memperlihatkan aksi-aksi pukul sana tendang sini, tak lupa dengan action-nya.

Aksi Ody dalam menggabungkan guyon dan berantem memang ngehe, dia dapat menampilkan suguhan laga yang menggenjot adrenalin, sekaligus membuat saya tergelitik dengan komedinya. Walau berstatus film action-comedy, bukan berarti presentasi Skakmat terbungkus serba tidak serius, apalagi ketika berurusan soal bagian aksinya. Beragam adegan pertarungannya justru tampil meyakinkan dan disiapkan dengan matang, jadi tidak tampak asal pukul dan tendang. Koreografi tarung yang disodorkan tidak hanya hadirkan gerakan-gerakan jurus yang keren, tapi juga terasa begitu bertenaga, saya yang menonton seperti ikutan kena pukul, kena sikut dan kena tendang. Pertanyaan saya di awal paragraf langsung dijawab oleh Ody sekali gebuk, Skakmat ternyata mampu menghadirkan suguhan adegan laga yang mengasyikkan, walaupun nantinya harus berdampingan dengan scene komedi. Tempat-tempat yang dipilih untuk dijadikan arena bag-big-bug pun tak hanya mendukung tersajinya adegan perkelahian yang seru, tetapi juga sanggup dimanfaatkan dengan baik untuk hadirkan momen-momen jenaka. Dari ribut di gang sempit hingga nantinya membuat sebuah rumah hancur berantakan.

Untuk urusan berkelahi, Donny Alamsyah dan kawan-kawan, termasuk juga para fighter perempuan yang sudah beraksi dengan maksimal, membuktikan Skakmat memang unggul ketika menampilkan sejumlah adegan laga. Begitupula guyonan-guyonannya yang serba kacau, walaupun di beberapa bagian meleset tidak kena sasaran dan gagal membuat saya tertawa, bukan berarti Skakmat sama sekali tak lucu, saya menyukai ramuan film ini saat membaur komedi dengan aksi-aksinya. Hanya saja apabila berbicara soal komedi, Skakmat lagi-lagi harus terbentur oleh yang namanya selera humor masing-masing penontonnya, tapi saya sudah cukup puas dipertontonkan aksi-aksi jenaka Tanta Ginting dan Donny Alamsyah ketika berjibaku dengan anak buah Mami Tuti dan Bos Tanah Tinggi. Adegan berkelahi di rumah Ibunda Dito yang “brutal” dengan tambahan bubuk merica dan ulekan sambel boleh jadi adalah momen paling gila di Skakmat. Tapi jika harus memilih, adegan Donny Alamsyah mengangkat lampu taman jelas jadi bagian yang paling brengsek dan memorable—tribut kepada ‘Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita’. Skakmat harus diakui masih punya beberapa kekurangan, tapi saya juga begitu menghargai usahanya untuk menghasilkan tontonan yang menghibur.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Bone Tomaha...
Review - Raksasa Dar...
Review - Blair Witch...
Review - Rumah Malai...