Review – Paranormal Activity: The Ghost Dimension

written by Rangga Adithia on November 3, 2015 in American Film and CinemaTherapy and Horror with no comments

Di review ‘Paranormal Activity 4’ saya sempat berkomentar seperti ini “sampai sekuel berapapun saya pasti nonton”, dengan rasa sangat menyesal saya terpaksa tarik kembali perkataan tersebut. Seri Paranormal Activity tak saja sudah berada di titik paling menjemukkan, tapi lanjutan kisah Toby dan para penyembah setan berjuluk The Midwives ini juga makin terlihat mengada-ngada. Parahnya, di film keenam yang berembel-embel ‘The Ghost Dimension’ ini, para pembuatnya tidak lagi memperdulikan alasan yang membuat Paranormal Activity (dulu) jadi horor yang efektif dalam urusannya menakuti. Bukan dengan banyaknya penampakan, tapi justru tanpa pernah menampilkan dengan jelas sosok “si pengganggu”. Pada akhirnya penonton pun seperti diajak untuk menerka-nerka dan berimajinasi, ini asyiknya Paranormal Activity karena memaksa saya untuk menghadirkan horor di kepala sendiri. Sayangnya ‘The Ghost Dimension’ ingin berbuat lebih, jika film keempat wujud Toby mulai ditampakkan samar-samar, kali ini mereka memilih untuk membuatnya jadi dedemit yang narsis, doyan muncul dan sadar kamera.

Seri penutup ini (jika memang benar disudahi) terlihat begitu menyedihkan dan terkesan memaksa, walaupun secara keseluruhan tampak lebih baik ketimbang ‘Paranormal Activity: The Marked Ones’, ‘The Ghost Dimension’ tetap saja tampil tanpa menghadirkan sesuatu yang baru dalam urusannya menakut-nakuti, trik-triknya hanya pengulangan dari seri-serinya terdahulu. Well, saya sebetulnya tak akan terlalu peduli apabila ‘The Ghost Dimension’ ingin memakai taktik serupa, toh Paranormal Activity 2-4 pun beberapa kali mengulang cara yang sama untuk menakuti atau mengejutkan penonton. Tetapi saya masih bisa menikmati empat film tersebut, sekalipun disodorkan trik daur-ulang, beberapa momen dalam film untungnya terbukti tetap efektif dalam menghasilkan rasa cekam dan ketakutan. Sebagai orang yang mengaku penggemar Paranormal Activity, saya akui semakin kesini, film-film Paranormal Activity memang mengalami kemunduran, tapi saya jujur tak pernah bosan ataupun kapok datang ke bioskop dan menonton orang-orang nenteng kamera merekam segala kegiatan gaib di rumah mereka.

Diarahkan oleh Gregory Plotkin, ‘Paranormal Activity: The Ghost Dimension’ tak ada bedanya dengan horor-horor yang belakangan rilis, film horor dengan status modern yang tampaknya hanya ingin melayani para penonton mainstream saja. Penonton horor yang menganggap film horor seram itu apabila penampakannya sering dan banyak jump scare-nya, makin banyak dikejutkan berarti sah disebut menyeramkan. Saya bukannya tidak suka dikagetkan, tapi setumpuk jump scare tak akan menjamin film horor akan jadi menakutkan, sebaliknya, alih-alih sukses memberikan rasa takut, menjejalkan terus-menerus jump scare malah akan bikin penonton kelelahan duluan. Inilah yang terjadi di ‘The Ghost Dimension’ ketika berusaha menghantarkan horornya, ketimbang melanjutkan formula yang sudah ada (yang sudah terbukti efektif), Gregory Plotkin dan sekelompok penulis yang terdiri dari Jason Pagan, Andrew Stark, Adam Robitel dan Gavin Heffernan justru ingin ‘The Ghost Dimension’ buru-buru mengejutkan penonton dengan berbagai jump scare basi, termasuk kemunculan Toby dalam bentuk CGI.

Saya menggemari Paranormal Activity bukan saja karena kemasan found footage-nya, tapi juga elemen film ini yang bisa membuat saya percaya dengan bullsyitan di dalamnya. ‘The Ghost Dimension’ bodohnya menghancurkan kepercayaan itu dengan memberikan saya sosok Toby yang bisa dilihat, Toby sekarang memiliki bentuk sekumpulan asap hitam yang nantinya terbang kesana-kemari dan dapat muncul sesukanya. Lalu apakah penampakan Toby yang dibuat sejelas mungkin tersebut membuat ‘The Ghost Dimension’ menjadi menakutkan, well jawabannya tidak sama sekali. Tidak saja karena CGI-nya yang terlihat buruk rupa tetapi juga karena Gregory Plotkin hanya peduli pada bagaimana membuat penonton kaget pada jump scare yang telah disiapkan, tanpa kemudian berusaha menghadirkan suasana mencekam terlebih dahulu. Walaupun ada satu-dua momen yang masih bisa dikatakan menyenangkan, ditambah lagi dengan karakter-karakternya yang mudah disukai, sayangnya ‘The Ghost Dimension’ sebagai sebuah penutup dapat dikatakan gagal, tidak saja dalam urusannya menakuti tapi juga menjawab segala pertanyaan yang selama ini menumpuk, semoga ini memang yang terakhir.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Blair Witch...
Review - Dukun Linta...
Review - Rumah Malai...