Review – Nay (2015)

written by Rangga Adithia on November 24, 2015 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with one Comment

Nyontek! Copy-paste! Well, saya tidak menyangkal kemiripan antara Nay dengan Locke (Steven Knight, 2013) yang dilakonkan dengan sangat cemerlang oleh Tom Hardy tersebut. Tapi akan tidak adil rasanya jika kata-kata menyontek itu hanya bersumber pada sebuah trailer berdurasi 2 menit, atau lebih dungunya lagi kalau ikut-ikut menuduh bilang plagiat, padahal belum nonton kedua filmnya. Saya tak perlu heran, toh poster film Indonesia yang ada gambar pemainnya ngadep sama persis dengan poster Hollywood, langsung begitu gampangnya diteriaki nyontek. Djenar Maesa Ayu itu penulis, dia tahu nyontek itu haram. Lagipula yang disebut orisinil malah belum tentu se-orisinil itu. Steven Knight mungkin juga “nyontek” dan memperoleh idenya dari film lain yang sedang dia tonton, siapa tahu kan. Ya, terlepas dari mirip, termasuk hadirnya monolog dan setting yang memanfaatkan mobil, Djenar setidaknya sanggup memodifikasi Nay jadi suguhan yang berbeda. Ada rasa yang jelas tak sama ketika saya ikut menumpang duduk di mobil BMW X5-nya Ivan Locke dengan Mini Cooper berwarna kuning yang disetiri oleh Nay.

Saya orang yang tak pandai cari-cari kesalahan dalam sebuah film, apalagi ketika Nay sanggup membuai dan sibuk mengajak penontonnya berkontemplasi selama 80 menit durasinya, selama kita berada di kursi belakang, sambil mengamati luar jendela mobil. Ada pengemis meminta-minta sedekah untuk makan. Ada gedung-gedung yang berlomba menyentuh langit. Ada barisan mobil mengantri panjang. Ada jajanan pinggir jalan yang menggoda. Ada dua perempuan yang marah. Ada Jakarta yang terasa amat puitis. Kemana Jakarta yang saya kenal? Jalanan Jakarta yang barbar itu? Film Nay seperti menyembunyikan wajah barbarnya, mengganti wajahnya yang dekil semrawut jadi terkesan mendamaikan. Bahkan jalan Gatot Subroto yang brutal, yang biasanya penuh pengendara berwajah merah, bermata murka, siap memaki berteriak “anjing!” apabila jalurnya terpotong, malam itu di film Nay tergambar berbeda. Walaupun masih diperlihatkan deretan mobil yang berjajar “parkir” membentuk garis agak tak beraturan, jalanan Jakarta terkesan lebih ramah, menenangkan, berhias cahaya lampu lalu lintas dan penerang jalan.

Djenar tidak hanya mengajak saya jalan-jalan melihat Jakarta, menemani Nay di balik kemudi—sedangkan saya anteng di kursi belakang mendengarkan coleteh dan amukannya, tapi juga memberikan saya sebuah pengalaman yang berharga, dari jalan-jalan yang setiap jengkalnya penuh makna. Dari tujuan awal ke rumah Ben, untuk mendiskusikan soal masa depan janin yang sekarang menghuni perut Nay, sampai napak tilas yang nantinya membuka lembar demi lembar masa lalu kelam Nay, perjalanan ini benar-benar membuat saya tak lagi tergoda untuk lihat ke luar jendela, menikmati lembutnya malam Jakarta, tapi justru tertunduk diam menatap ke dalam batin, merenung. Orang di kursi belakang itu sekarang bukan lagi hanya pengamat dan pendengar, tapi nimbrung diajak berdialog. Walau Nay tak pernah sekalipun menengok ke belakang atau mengintip spion tengah, walau saya dengan Nay tak pernah bertatap langsung, film ini serasa menyeret saya ke dalam obrolan. Tanpa sadar, saya sesekali mencoba menenangkan Nay, “Tenang dong Nay”, sesama manusia yang gampang ngamuk, saya tahu itu percuma.

Perjalanan Nay terbingkai dengan sinematografi nan elok, membuat mata terasa adem, selagi emosi terguncang. Ipung Rachmat Syaiful di balik kameranya sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat jempolan, tidak hanya menyulap chaos-nya jalanan Jakarta jadi terkesan puitis, tetapi juga mampu menghadirkan mood yang tepat dalam tiap adegan, yang pada akhirnya membuat saya begitu nyaman mendampingi monolog Nay. Memilih Sha Ine Febriyanti sebagai Nay pun adalah langkah yang begitu tepat, olehnya, karakter Nay tak hanya jadi memiliki nyawa, monolognya pun hidup dan tampil memikat. Hadirkan performa akting berkelas, Sha Ine Febriyanti menjelma jadi karakter yang tahu bagaimana mengajak saya ikut berinteraksi, larut semakin dalam kala konflik dan emosi makin memuncak. Diantara tawa dan letupan amarah, Sha Ine Febriyanti dan Djenar berkolaborasi menciptakan karakter yang membuat saya peduli dan ingin makin mengenalnya di sepanjang perjalanan Nay. Saya ikut marah, saya ikut sesak, saya ikut senyum, malam itu saya mendapat teman ngobrol yang asyik bernama Nay, walaupun tak pernah bertatap langsung. Terima kasih buat jalan-jalannya, Nay, terima kasih.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - The Wailing...
Review - The Girl wi...
Review - Under the S...