Review – Misterius (2015)

written by Rangga Adithia on November 6, 2015 in CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with 9 comments

Bermodalkan dua film horor hantu-hantuannya yang seram, Angker (2014) dan Kemasukan Setan (2013), saya tentu saja amat berharap Muhammad Yusuf bakal melakukan hal yang sama di Misterius, tak hanya kembali menghadirkan konsep horor yang tradisional, tapi juga memberikan pengalaman menakutkan berujung mimpi buruk. Ketika kebanyakan film horor lokal yang tayang di bioskop tampak senang mencekoki penontonnya dengan penampakan instan, dan memanfaatkan efek suara super bising untuk membuat telinga mereka berdarah. Yusuf memilih pakai cara-cara yang sederhana untuk menciptakan rasa takut dan suasana yang mencekam. Film-film horornya memaksimalkan lagi peran atmosfer yang selama ini seperti terlupakan dan hilang dari sinema horor Indonesia. That’s why, horor yang dibuat oleh Yusuf lebih terasa efektif, bukan sekedar memancing penonton untuk menjerit tapi juga menggali ketakutan kita. Memang, tak semua orang bisa ditakuti oleh Misterius, tapi setidaknya formula yang dipakai Yusuf masih ampuh dalam upayanya menghantarkan tontonan horor yang “mengasyikkan”.

Berlatar cerita rumah yang kedatangan arwah penasaran, Misterius nantinya tak akan terlihat muluk-muluk ketika menjabarkan halaman demi halaman skripnya. Plotnya terkesan minim eksplorasi dan tidak banyak informasi soal karakternya, tapi saya tak melihatnya sebagai sesuatu yang mengganggu. Toh, saya datang ke bioskop dengan tujuan yang tidak muluk-muluk pula, hanya ingin ditakut-takuti, saya tak berekspektasi Misterius akan dijejali jalinan penceritaan yang rumit dan diselipi konflik yang (sok) berbobot. Apa yang sudah dilakukan oleh Muhammad Yusuf pada muatan ceritanya yang lagi-lagi menyinggung soal hamil di luar nikah itu, saya pikir sudah lebih dari cukup sebagai penopang sajian horor di Misterius. Yusuf tahu bagaimana membangun plotnya untuk pada akhirnya membuat saya merasa ngeri duluan, membayangkan Wulan yang ditugasi untuk pergi ke dunia gaib dan Ibu Lestari yang harus mengambil susuk di mayat Sumiyati. Belum apa-apa Misterius sudah berhasil memaksa saya untuk menciptakan wujud horor dan sesuatu yang menakutkan di kepala sendiri, disinilah letak kebangsatannya.

Berbeda dengan Angker yang pelit penampakan, frekuensi kemunculan hantu di Misterius nantinya akan dibuat lebih sering, Yusuf bahkan berani menghadirkan sosok arwah gentayangan lebih cepat dari yang saya duga. Untungnya, kehadiran hantu Sumiyati yang terkesan diburu-buru tersebut tak merusak suasana cekam yang sedang coba dibangun oleh Muhammad Yusuf. Intensitas penampakannya pun, walau terasa makin meningkat tapi tetap dijaga untuk minimalis, treatment yang sama di Angker kembali dipakai untuk Misterius, termasuk hantu-hantunya yang hanya diam berdiri di pojokan dan melakukan gerakan seperlunya. Cara ini sekali lagi terbukti lebih efektif ketimbang jump scare numpang lewat sekelebat dengan tambahan efek suara yang hingar-bingar. Trik sederhana Yusuf tidak saja membuat setiap penampakan dedemit di Misterius terasa meyakinkan, tapi juga ikut membantu menaikkan level mencekam film ini dari menit ke menitnya. Yah, sekalipun penampakannya lebih banyak, Yusuf tak begitu saja melupakan unsur penting yang membuat film horornya tampil menakutkan, yakni atmosfernya.

Durasi boleh sekejap mata tak sampai 90 menit, tapi Misterius berhasil membuat saya stress setengah mati, penyebabnya tentu saja atmosfer cekam yang teramat menyesakkan dan berbagai penampakan ngehenya. Jika biasanya saya gampang mengucapkan bangsat dan kata-kata sumpah serapah lainnya ketika dikagetkan atau ditakuti, kali ini saya memilih untuk banyak-banyak istighfar dan baca-baca doa—saya serius melakukan itu di bioskop saking takutnya. Tapi Misterius tidak saja menarik karena Yusuf mampu mencengkram sekaligus mengendalikan rasa takut penontonnya—bahkan saya bisa dibuat takut oleh kursi tua—penambahan pernak-pernik ritualnya yang cukup detil pun semakin menambahkan daya pikat pada filmnya, seperti yang Yusuf tunjukkan juga di Angker. Muhammad Yusuf di Misterius tidak hanya memberikan saya sebuah pengalaman horor menakutkan, tapi juga memperlihatkan kalau penampakan di awal film dan kemunculan hantu yang jumlahnya setumpuk, tak selamanya membuat film horor jadi buruk, justru jika diperlakukan dengan trik yang benar malah akan menambah keseramannya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Invitat...
Review - Indonesia K...
Tujuh Film Horor Fav...
Review - The Devil's...