Review – Midnight Show

written by Rangga Adithia on November 12, 2015 in CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with 13 comments

Sebagai penggemar film berdarah-darah, slasher, apapun sebutannya, munculnya Midnight Show tentu saja mendatangkan senyum lebar di wajah saya, mengingat perfilman Indonesia yang memang jarang kehadiran film seperti ini, isinya hanya orang gila yang seenaknya bunuh-bunuhin orang. Saya tidak saja butuh tontonan alternatif dikala sinema lokal dikepung oleh film-film bertemakan drama cinta-cintaan dan tangis-tangisan, tetapi juga sangat merindukan bau darah di bioskop. Jadi Midnight Show bisa dibilang muncul di saat yang tepat, dan sesekali film kita juga perlu guyuran bergalon-galon darah, tak melulu basah oleh hujan air mata. Disutradarai Ginanti Rona Tembang Asri, saya tidak berharap film ini akan sama dengan Killers ataupun menuntut bisa sesinting Rumah Dara. Meskipun dua film garapan Mo Brothers tersebut memajang nama Ginanti sebagai asisten sutradara (turut juga membantu di Safe Haven, The Raid dan Berandal), saya menginginkan Midnight Show dapat menampilkan tak saja kegilaannya tersendiri, tapi juga rasa sakit yang berbeda. Well, tantangan kecil tersebut tampaknya langsung terjawab, Ginanti yang katanya doyan film-film disturbing ini nyatanya mampu keluar dari bayang-bayang para mentornya, dan membuat film yang tak kalah sakitnya.

Midnight Show dibuka dengan amat menjanjikan, seorang perempuan tergeletak bersimbah darah digorok anaknya sendiri. Kejadian dari 15 tahun silam tersebut kemudian menginspirasi sebuah film berjudul ‘Bocah’, yang bakal mereka-ulang pembantaian keji yang dilakukan Bagas terhadap keluarganya sendiri. Salah-satu bioskop yang menayangkan film tersebut adalah Podium, alih-alih mendapatkan keuntungan dari film berstatus kontroversial, pertunjukan tengah malam justru berubah menjadi mimpi buruk, tidak saja bagi karyawannya tapi juga penonton bernasib malang, yang datang untuk menonton bukan malah kehilangan nyawa. Memanfaatkan setting bioskop betulan sebagai arena bermain-mainnya, Ginanti tidak akan terlalu terburu-buru membanjiri lantai dan temboknya dengan darah, dia punya tugas untuk memperkenalkan karakter-karakternya. Separuh pertama Midnight Show pun jadi ajang perkenalan, termasuk memberikan informasi yang secukupnya untuk karakter Naya yang diperankan oleh Acha Septriasa. Cara ini tidak saja membuat saya pada akhirnya mengetahui background story tiap orang yang berkeliaran di Podium, tapi juga membiarkan saya asyik sendiri menebak-nebak siapa yang akan berdarah-darah duluan, menerka siapa pembunuhnya.

Salah-satu keasyikan Midnight Show memang terletak pada bagian “tebak-tebak buah manggis”, siapa si pembunuh bertopeng? Apakah salah-satu dari karyawan Podium? Jangan-jangan pelakunya adalah Bagas sendiri. Rasa penasaran dengan sendirinya terbentuk, bermacam pertanyaan makin menumpuk di kepala, selagi Ginanti juga sedang menyiapkan keasyikan berikutnya. Midnight Show tentunya tidak akan membiarkan penontonnya menganggur, sambil menunggu setumpuk pertanyaan tersebut terjawab, Ginanti juga punya sederet adegan darah-darahan yang akan memancing teriakan “anjing!”. Untuk mereka yang memang menanti dimandikan oleh darah, Midnight Show tak saja akan menceburkan penontonnya ke dalam kubangan getih kalau kata orang sunda, tapi juga tahu bagaimana cara membuat adegan berdarah-darah yang menyenangkan. Tidak ada yang mubazir, setiap tetes darah betul-betul dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Ginanti, tak disia-siakan dan tak tanggung-tanggung dalam upayanya menghadirkan adegan-adegan yang serba brutal. Darah dimana-mana, mayat bergelimpangan, Bioskop Podium berubah fungsi tak lagi jadi tempat nonton tapi area penjagalan orang.

Kelebihan Midnight Show dalam urusan brutal-brutalan memang jempolan, saya menyukai cara Ginanti mengesekusi setiap adegan pembunuhan dan penyiksaan, semua kebiadaban terbungkus rapih dan tampak meyakinkan. Terlepas dari nilai plus-nya, sayangnya Midnight Show terlihat terbata-bata saat menjabarkan layer demi layer penceritaannya. Di tengah aksi berdarah-darah yang asyik, beberapa bagian ceritanya terasa dipaksakan menjadi rumit untuk menopang twist-nya di penghujung durasi nanti. Idenya sebetulnya sangat menarik dan sakit, hanya saja Midnight Show terlalu ingin menjelaskan semuanya, mungkin takut penonton tak mengerti dengan jalan cerita ataupun twist-nya. Pengaruhnya jelas terasa ketika film mempersilahkan dialog-dialognya untuk memberi banyak penjelasan, tensi ketegangan yang awalnya sudah meninggi kemudian menurun perlahan di paruh akhir. Untungnya, Midnight Show tetap masih menyisakan beberapa kesenangan, kebrutalan dan persediaan galon-galon darah untuk disiramkan ke penontonnya, termasuk mengguyur saya yang kala itu terlihat gembira seperti anak kecil yang menonton film kartun kesukaannya, keluar bioskop saya benar-benar bau darah.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - The Invitat...
Review - Lights Out
Review - The Girl wi...