Review – Kakak (2015)

written by Rangga Adithia on November 8, 2015 in CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with one Comment

Walaupun dikategorikan sebagai seorang yang penakut, saya juga tipikal orang yang sebenarnya sulit untuk ditakut-takuti oleh film horor. Menurut saya, pantas atau tidaknya sebuah film horor itu disebut seram bukan terletak pada tampang hantunya yang menakutkan, atau seberapa banyak jump scare yang sukses bikin kaget penontonnya. Selain bagaimana si pembuat film meramu atmosfernya, ada satu hal yang selalu saya lakukan untuk pada akhirnya memutuskan “anjing, film ini serem!!”, yaitu membayangkan saya berada di film tersebut. Ketika menonton Kakak, saya akan memposisikan diri saya pada situasi horor di film tersebut, jadi saat ada adegan yang memperlihatkan Laudya Chintya Bella sedang berhadapan dengan sosok hantu anak perempuan (lebih mirip Sadako cilik), saya kemudian mencoba bayangkan tukar posisi dengan Bella, takut apa nga? Nah, Kakak punya potensi untuk menjadi horor yang seram, tapi tampaknya si pembuat film sendiri tidak percaya diri apakah film horornya bisa menakuti penonton. Alhasil, telinga saya lagi-lagi harus jadi korban efek suara yang terlalu bising, alih-alih membuat suatu adegan jadi kelihatan menakutkan, Kakak justru malah menjengkelkan.

Ivander Tedjasukmana sebetulnya bukan sosok yang baru di sinema horor lokal, sebelumnya dia mendampingi Monty Tiwa membesut Keramat, lalu pernah jadi asisten sutradara untuk film Anak Setan dan Pocong 3. Laudya Cynthia Bella juga bukan kali pertama berurusan dengan dedemit, dia sudah lebih berpengalaman berkat perannya di Lentera Merah arahan Hanung Bramantyo, dan Kuntilanak 3 yang disutradarai oleh Rizal Mantovani. Sedangkan Surya Saputra, walaupun dia lebih banyak berlakon di film-film ber-genre drama, namanya setidaknya pernah terdaftar di film thriller-nya Joko Anwar Modus Anomali. Terakhir ada Yafi Tesa Zahara si Sadako cilik, tampang imutnya sering muncul di film-film horor macam Wewe, Hantu Pohon Boneka dan 308. Didukung oleh sutradara dan barisan cast-nya yang punya pengalaman berkecimpung di dunia horor dan thriller, apa yang nantinya ditawarkan oleh Kakak memang harus diakui menjanjikan, tidak hanya dari unsur menakut-nakutinya tetapi juga ketika melihat cerita yang dibawakan, plus bagaimana para karakternya dimainkan oleh para bintangnya.

Tanpa menyodorkan hantu, pembuka Kakak sebenarnya boleh dibilang “seram”, ada adegan seorang anak perempuan yang asmanya kambuh tapi nyawanya tak tertolong, sedangkan orang tuanya malah asyik bertengkar saling menyalahkan. Lalu kita juga dipertontonkan Kirana yang diperankan oleh Bella sedang geletak di tepi jalan, penuh darah, keguguran dan kesakitan. Setelah itu Kakak tidak akan tergesa-gesa menyeret penontonnya masuk ke bagian horor-horornya, separuh pertama film akan diawali dengan drama yang menyorot lika-liku rumah tangga Adi (Surya Saputra) dan Kirana. Kakak punya banyak waktu untuk mengenalkan kita dengan pasangan suami istri yang baru saja pindah ke rumah baru ini, Ivan ternyata peduli pada karakternya, membiarkan mereka menyatukan chemistry-nya dengan baik, agar penonton lebih bisa diyakinkan dengan status hubungan Bella dan Surya, jika mereka benar-benar seperti layaknya pasangan suami istri yang sedang menanti anak. Pada akhirnya treatment yang diberikan Ivan kepada karakternya membuahkan hasil menarik: saya lebih peduli pada Adi dan Kirana, tapi sayangnya kepedulian tersebut tidak menular ketika horornya meneror.

Kakak tahu betul bagaimana menciptakan chemistry yang manis antara Bella dan Surya, sekaligus membangun konflik yang menarik ke dalam penceritaan. Bagian yang mengupas drama rumah tangga memang terasa sangat mendominasi, tetapi saya tidak akan terlalu mempermasalahkan itu, selama porsi horornya nantinya punya perlakuan yang adil. Kenyataannya justru sebaliknya, di saat Kakak mulai menebar teror demi terornya, melepas sosok hantu-anak-perempuan-berambut-panjang-bergaun-putih-kotor, daya tarik yang sebelumnya menempel erat justru perlahan-lahan berontak ingin melepaskan diri. Terlepas dari berbagai trik yang kadaluarsa, Kakak tidak hanya memiliki level kepercayaan diri yang rendah saat mencoba menakut-nakuti penontonnya, tapi juga jatuh ke lembah nista dan hina ketika merancang penampakan tanpa mempedulikan keselamatan penontonnya. Sederet jump scare-nya jadi tidak efektif, bukan saja karena kurangnya atmosfer mencekam yang melekat pada setiap adegan yang ditujukan untuk mengejutkan penonton, tapi juga disebabkan pemakaian efek suara yang tak manusiawi. Jujur, jika bukan karena pakaian “minimalis” yang dikenakan oleh Bella, saya mungkin sudah meninggalkan Kakak dan memilih untuk nongkrong di soto bogor Pak Ace.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Ghost Diary...
Review - Dukun Linta...
Review - Telaga Angk...