Review – The Wedding and Bebek Betutu (2015)

written by Rangga Adithia on October 22, 2015 in CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia with no comments

Lucu itu relatif dan menyangkut soal selera, kebanyakan orang mungkin saja bisa dibuat terguling-guling tertawa menonton film-film Warkop DKI, termasuk saya. Tapi sebagian lagi mungkin lebih cocok dengan humor di film-filmnya Benyamin. Ketika anak sekarang lebih senang disuguhi lawakan Raditya Dika atau stand up comedy, saya lebih memilih untuk menertawakan Srimulat, Ketoprak Humor dan Ludruk Kirun. Mana yang lebih lucu ‘Tetangga Masa Gitu’ atau ‘Preman Pensiun’? kalau mau menuruti selera humor, saya tentu menunjuk Kang Komar dan teman-temannya. Jadi jika ada orang yang bilang ‘The Wedding and Bebek Betutu’ lucu, yah menurut saya sah-sah saja, toh balik ke selera masing-masing penontonnya. Sayangnya, saya ada di posisi penonton yang kesulitan untuk dibuat tertawa oleh Tora Sudiro, Aming dan kawan-kawan. Well, saya bisa dibilang penggemar acara Extravaganza ketika waktu masih mengudara dulu, tapi tampaknya apa-apa yang dulunya kocak belum tentu kocak pada saat ditonton sekarang, lawakan ternyata juga punya tanggal kadaluarsa alias expiry date, mirip kayak mie instan saja.

Kecuali elo sejenius Benyamin yang bisa menciptakan formula komedi yang tidak lekang dimakan jaman, tidak ada tanggal kadaluarsanya, awet sepanjang masa. Buat yang rindu dengan pemain-pemain Extravaganza, film yang bisa dikatakan ajang reunian ini memang tepat untuk jadi sekedar obat kangen, tapi kalau yang dicari adalah tontonan dengan lawakan-lawakan segar, maka ‘The Wedding and Bebek Betutu’ mungkin hanya akan meninggalkan kekecewaan. Diarahkan oleh Hilman Mutasi, Tora Sudiro dan kawan-kawan nantinya akan dijebloskan dalam situasi yang serba pelik, penuh kesalahpahaman dan juga intrik. Dimulai dengan rencana pernikahan akbar antara Lana (Adinda Thomas) dengan Bagas (Omesh). Lana sendiri adalah anak dari pemilik hotel mewah, Rama Sastranegara (Ronal Surapradja) dan Rani Sastranegara (Mieke Amalia), sedangkan Bagas, keturunan bangsawan Jawa, Edo Wicaksono (Indra Birowo) dan Pradiastuti Wicaksono (TJ). Adanya sabotase kemudian membuat royal wedding tersebut terancam bakalan bubar jalan, tapi untungnya Angga (Sogi Indra Dhuaja) sang manajer gerak cepat membentuk tim agar pernikahan tidak jadi batal, termasuk Tora yang punya misi khusus mencari orang yang bisa memasak bebek betutu pesanan Bapak Edo.

Begitu tiba di paruh awal ‘The Wedding and Bebek Betutu’, cara pengemasannya yang serba artistik langsung menyita perhatian. Yup, setting hotel GH Universal Bandung benar-benar dimanfaatkan untuk memanjakan mata penontonnya agar betah berlama-lama menatap ke layar. Tak hanya didukung lokasinya, penataan kostum dan pemilihan tone untuk ‘The Wedding and Bebek Betutu’ dirasa begitu tepat agar nantinya penonton semakin terpikat sekaligus nyaman. Terbukti, saat saya belum bisa menemukan kelucuan untuk ditertawakan, setidaknya visualnya sanggup membuat saya tetap berada di kursi, ada yang bisa saya nikmati sambil menunggu aksi kocak Aming dan geng yang mampu membuat saya tertawa. Pada separuh pertamanya, ‘The Wedding and Bebek Betutu’ memang terlihat bakalan menjanjikan, ada beberapa kelucuan yang dihadirkan Hilman Mutasi, walau saya tak bisa menyebutnya sebagai sesuatu yang baru, humor ala Extravaganza yang sering mereka tampilkan dulu (untungnya) masih lucu. Setengah jam awal masih bisa dikatakan menyenangkan, selagi Hilman sibuk men-set plot dan menyiapkan beragam kekonyolan dan kekacauan di ‘The Wedding and Bebek Betutu’.

Rasa menyenangkan yang dirasakan di paruh pertama ‘The Wedding and Bebek Betutu’ kemudian mulai terkikis habis di pertengahan film, suara cekikikan yang awalnya masih menghiasi beberapa adegan lawaknya pun kian redup. Kala cerita berkembang semakin dibuat kacau dan status pernikahan Lana dan Bagas makin complicated, ‘The Wedding and Bebek Betutu’ justru kekurangan materinya yang paling penting, yaitu komedi. Hanya menyisakan rasa penasaran, kelucuan demi kelucuannya banyak yang terkesan dipaksakan dan berulang-ulang, apalagi saya melihat hanya beberapa pemain yang mampu tampil konsisten untuk melawak, walaupun enggak lucu. Keindahan alam Bandung menjadi satu-satunya yang bisa menghibur dan membuat saya bertahan hingga akhirnya tiba di bagian terujung film ini. ‘The Wedding and Bebek Betutu’ tak hanya membosankan tapi juga akan mudah untuk dilupakan, saat saya masih bisa menikmati sisi artistik dan pernak-pernik visualnya yang cantik, komedinya malah sulit untuk ditertawakan, alhasil saya terpaksa pasang wajah datar hampir di sepanjang durasi.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Deathgasm (...
Review - The Invitat...
Review - Warkop DKI ...