Review – The Final Girls (2015)

written by Rangga Adithia on October 28, 2015 in American Film and CinemaTherapy and Horror with 4 comments

Keng…keng…keng…keng…pang…pang…pang…pang. Seru kali yah kalau kita bisa masuk ke dalam film yang kita favoritkan, seperti Danny Madigan di Last Action Hero yang secara ajaib bisa beraksi bareng jagoannya Jack Slater. Tapi apa yang terjadi jika kita terjebak masuk ke dalam sebuah film horor, berhadapan dengan pembunuh bertopeng yang kerjanya bacok-bacokin orang pakai machete. Itulah yang menimpa Max Cartwright (Taissa Farmiga) dan kawan-kawannya, alih-alih keluar dari gedung bioskop yang terbakar, mereka justru terbangun sudah ada di dalam film berjudul Camp Bloodbath. Kata seru tampaknya tidak lagi pas untuk menyebut “keajaiban” yang sudah mereka alami, apalagi ketika nantinya mereka harus berusaha mati-matian untuk menyelamatkan diri dari si tukang jagal yang tak kenal ampun. Premis “The Final Girls” tentu saja kelihatan menggiurkan bagi mereka yang merindukan aksi-aksi berdarah yang biasa dipertontonkan di film-film slasher, eh tapi tunggu dulu, film arahan Todd Strauss-Schulson ini bukanlah film horor bunuh-bunuhan pakai parang segede gaban sembarangan.

Layaknya tiket ajaib kepunyaan Danny, “The Final Girls” pun adalah film slasher “ajaib” dengan formula gila, yang tidak hanya akan membiarkan penonton untuk diam menatap ke film hingga durasi habis, tapi juga menyeret kita seakan masuk dalam kegilaannya. Todd akan mengajak kita untuk bersenang-senang, dan film ini punya banyak kesenangan untuk dibagi-bagikan, dari mulai aksi-aksi dagelan yang membuat perut ini sakit menahan tawa, sampai perasaan girang saat golok sudah menancap manis di tubuh korbannya. Seperti The Cabin in the Woods yang kemudian berhasil menyajikan sebuah meta horor yang mengasyikkan, karena si pembuat film mengerti apa yang sedang mereka buat, Todd pun terlihat tak saja paham bagaimana merancang filmnya sesuai dengan apa yang dia inginkan, tapi juga memiliki pengetahuan yang mendalam tentang jenis film yang dia kerjakan, khususnya subgenre horor yang mengusung setting “perkemahan musim panas” sebagai area bermainnya. Tak heran jika “The Final Girls” akan terkemas seperti sebuah surat cinta penggemar pada sang idola, sebuah tribut persembahan Todd untuk film-film bertemakan camp slasher yang berjaya di era 80-an.

Untuk film horor yang memiliki judul garang “The Final Girls”, apalagi dihubung-hubungkan dengan slasher, saya tentu saja akan menaruh harapan film ini bakal menjejalkan penontonnya dengan setumpuk aksi sabet-menyabet, sayat-sayatan, tusuk-menusuk, dan kepala buntung menggelinding. Todd punya semua itu, dia tak melupakan elemen terpenting dari film slasher dan memboyongnya ke dalam “The Final Girls”. Jika saya biasanya mudah bilang puas ketika film sejenis sudah menjalankan tugasnya dengan baik, menghadirkan beragam keceriaan berdarah-darah, Todd justru ingin penontonnya tak sekedar mandi darah, tapi juga tanpa disangka-sangka membuat kita terikat secara emosional. Todd peduli bagaimana menciptakan karakter-karakter yang bisa disukai penonton, bukan hanya tampil konyol-konyolan dan mati dibacok, tetapi juga memperlakukan mereka sebagai penghubung antara film dan kita yang duduk menontonnya. Ada chemistry amat hangat sekaligus manis antara Max dan Ibunya yang diperankan Malin Akerman, membuat saya dengan gampang tak saja meyakini relasi mereka sebagai Ibu dan anak, tapi juga terbawa perasaan ketika salah-satunya menghilang.

“The Final Girls” adalah kasus langka, dimana film slasher berhasil membuat saya tidak begitu saja mengacuhkan karakter-karakternya untuk mati di tangan orang gila berkedok topeng kayu, sekalipun karakter tersebut yang paling pantas untuk mati karena menyebalkan. Ketika Todd sibuk merancang meta horornya, dia pun memberikan ruang yang cukup untuk penonton mengenal karakter-karakternya, berbagi apapun perasaan yang mereka rasakan, senang ataupun duka. Walaupun tampilannya yang konyol, dibalik aksi crot-crot-crotan dan serangkaian lawakan, “The Final Girls” juga bisa memperlihatkan wajah seriusnya, membiarkan aliran emosi sampai ke penontonnya dan membuat kita terikat selama 90 menit, sambil menikmati sajian kegilaan hasil kreasi Todd, Joshua John Miller dan M.A. Fortin. Dibanding film slasher yang “sebenarnya”, tingkat sadis-sadisan dalam “The Final Girls” bisa dikatakan lebih sopan, tetapi bukan berarti mengurangi keseruannya. Todd tetap punya film gila yang dibuat dengan caranya sendiri, film horor slasher yang tak sekedar memberikan hiburan menyenangkan semata, tapi juga kembali mengingatkan kenapa saya begitu menggemari film horor, jadi thank you Todd!!


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Ghost Diary...
Review - The Invitat...
Review - The Girl wi...