Review – 3 (2015)

written by Rangga Adithia on October 18, 2015 in Action and CinemaTherapy and Film Indonesia with no comments

Kalau mau gila yah jangan setengah-setengah, itulah yang saya lihat dari seorang Anggy Umbara, filmnya bisa dibilang totally gila. Sejak “Mama Cake” kegilaannya tak saja tergambar jelas lewat caranya menata visual, tapi juga bagaimana Anggy bercerita, dia tipikal sutradara yang tidak mau berkompromi. Seleranya memang tidak biasa, tengok saja “Comic 8” dan sekuelnya yang menghalalkan segala cara untuk menampilkan aksi-aksi yang berlebihan. Gayanya memang seperti itu, tak mau yang namanya main aman, walau sekilas sok asyik, tapi Anggy harus diakui punya nyali, tak sekedar punya visi gila tapi juga mampu menterjemahkan yang gila-gila itu dalam bahasa gambar yang tak wajar, nyeleneh, sinting dan dengan banyak slow-motion. Anggy berani ambil resiko untuk mewujudkan visi dan juga konsep gila yang ada di kepalanya, dari sekedar ingin mewarnai rerumputan jadi biru hingga kepengen punya monster buaya raksasa. Jika ada pertanyaan apakah Anggy bisa lebih gila lagi? Well, film terbarunya menjawab itu. “3” mengajak kita untuk melihat level kegilaan Anggy yang baru, sebuah film aksi yang tidak hanya memiliki daya hantam yang keras dalam urusan menggebrak adrenalin, tapi juga tak disangka-sangka memiliki nyali besar untuk mengangkat isu yang sensitif.

“The Raid” dan “Berandal” tampaknya tak hanya jadi benchmark baru bagaimana sebuah film laga harus dibuat, tapi (khususnya) di Indonesia, film arahan Gareth Evans tersebut juga jadi semacam pemicu tren film-film action yang belakangan mulai bermunculan. “3” mungkin juga salah-satu film yang dengan sigap bereaksi cepat untuk mengikuti arus tren saat ini, tapi saya tahu Anggy Umbara tak akan membuat film laga yang biasa-biasa saja atau sekedar ikut-ikutan. “3” tentu saja jadi momentum yang tepat bagi Anggy untuk membuktikan dia juga mampu buat film yang serius. Tapi mari kesampingkan dulu sajian adegan tarung yang Anggy hadirkan sangat ciamik di “3”, karena di luar kebiasaan, saya justru lebih tertarik dengan cerita yang dihadirkan oleh Anggy di tengah hingar-bingar gebukan dan suara tulang yang remuk. Jujur saja, untuk film yang isinya baku hantam dan adu jotos, saya jarang peduli dengan cerita. Pukul-pukulannya bisa bikin saya girang saja itu sudah lebih dari cukup. “3” adalah pengecualian, karena skrip keroyokan Bounty, Anggy dan Fajar Umbara sudah berhasil menyolok mata saya sejak awal.

Jakarta tahun 2036, agama dicap sebagai barang haram dan pemeluknya adalah teroris. Banyak Mesjid katanya berubah fungsi menjadi gudang, pesantren pun jadi target operasi aparat untuk dihancurkan dan para ulama diseret masuk bui. “3” tak sekedar menjabarkan premis yang provokatif hanya untuk bisa dikatakan kontroversial, lalu memanfaatkannya untuk publisitas semata, nope film ini tidak semurahan itu. Ketika kebanyakan film kita seringkali bermasalah dengan skrip, Anggy dengan “3”-nya kemudian terlihat begitu stand out, tak hanya disebabkan oleh pemilihan konten yang “berbahaya”, tetapi juga karena Umbara bersaudara tahu bagaimana menghasilkan skrip yang solid sekaligus memikat. Sinting tetapi juga berani, dari ide untuk menampilkan Jakarta yang ber-setting futuristik, plus segala perangkat canggih serba transparan, hingga plotnya yang nantinya bilang agama itu kuno, biang keladi kericuhan dan sumber datangnya kekerasan. Edan! “3” sekali lagi punya nyali begitu besar bermain di teritori yang sensitif, dan yang lebih edan lagi, Anggy sanggup menghasilkan film laga yang tidak hanya menarik dari sisi aksi, tapi juga menciptakan daya pikat yang kuat dalam penceritaan.

Seperti “2014: Siapa Di Atas Presiden” yang mencoba hadirkan Indonesia dalam versi yang berbeda, komplit dengan segala carut marutnya dan konspirasi politik tingkat tinggi yang membuat ceritanya makin menarik. Keberanian dan keunikan “3” untuk menggambarkan Indonesia sebagai negeri dystopia dan Jakarta disulap jadi kota futuristik yang penghuninya mayoritas tidak lagi beragama Islam tapi penganut aliran liberal, bukan hanya memberikan elemen menarik pada film ini, tapi juga menyodorkan penonton pengalaman yang belum pernah diberikan film Indonesia lainnya. “3” seperti mengajak kita ke dunia yang asing tapi terasa amat familiar, dan setting yang sudah dibuat sedemikian rupa apik—walau efek masih terasa kasar disana-sini—kemudian tidak saja dijadikan ruang untuk permainan gebuk-gebukan oleh Anggy, tapi juga area bercerita dan juga tempat berdakwah. “3” begitu asyik dalam merangkai plot, Anggy memanfaatkan segalanya dengan baik, termasuk bagaimana dia menyiapkan tiap intrik dan konfliknya untuk pada akhirnya membuat jalinan cerita yang bergulir kian memikat dan mencengkram.

Kelebihan “3” dalam bercerita tak hanya terlihat dari caranya menuturkan kisah di tiap babaknya, ataupun bagaimana Anggy bermain-main dengan konflik serta beragam intrik yang menyusup masuk di tengah penceritaan. Perlakuan film ini pada karakternya juga turut punya andil yang besar dalam menghadirkan cerita yang membuat saya betah duduk menghabiskan 122 menit durasi “3”. Karakter Alif, Lam dan Mim yang diperankan oleh Cornelio Sunny, Abimana Aryasatya dan Agus Kuncoro bukan saja diperlihatkan jago menggebuk musuh, tapi juga piawai dalam urusan merebut hati penontonnya, alhasil kita ada di pihak mereka sedari awal karena kita memang peduli. Karakter-karakter yang dimunculkan seimbang sama menariknya dengan “dunia fantasi” yang dihadirkan di “3”, didukung pula oleh barisan aktor dan aktris yang mampu mempertontonkan akting yang sama edannya dengan sang sutradara. Entah itu ketika beradu dialog ataupun saat tiba waktunya untuk pamerkan koreografi tarung, Abimana dan kawan-kawan sudah berhasil membuat saya terpukau. Soal aksi baku hantam, saya tidak akan banyak bicara lagi, saya menyukai setiap jurus, pukulan dan tendangannya. Dengan tata musik garang gubahan Al, “3” tidak saja (so far) jadi film terbaik Anggy Umbara tapi juga salah-satu film Indonesia terbaik rilisan tahun ini.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - Headshot
10 Film Horor Ternge...
Review - Get Out (20...