Review – No Escape (2015)

written by Rangga Adithia on September 18, 2015 in American Film and CinemaTherapy and Thriller with 3 comments

Sebagai orang yang mengaku penggemar John Erick Dowdle, saya tentu saja tak bisa menutupi perasaan heboh bercampur gembira saat mengetahui ‘No Escape’ disutradarai olehnya. Alasannya tak saja karena proyek ini mempertemukan dua kakak-beradik sinting—dimana Drew Dowdle kembali bertanggung jawab dalam penulisan naskah—tetapi juga rasa penasaran kronis ingin melihat Erick keluar dari comfort zone-nya menangani film-film horor. Walau setelah menonton hasil akhirnya, ‘No Escape’ sebetulnya berada tak terlalu jauh dari area bermain Erick, masih bisa dibilang memperlihatkan horor, bedanya sumber kengeriannya tidak datang dari alam gaib, zombie atau seorang pembunuh berantai yang punya 800 kaset VHS. Dowdle bersaudara kali ini akan mengajak kita untuk merasakan apa jadinya terjebak di tengah-tengah kerusuhan berdarah. ‘No Escape’ akan terlihat lebih horor ketimbang film yang mempertontonkan hantu, setan, dedemit, mayat hidup atau genderuwo. Melihat manusia-manusia begitu bringas tidak lagi punya rasa kemanusiaan adalah horor yang sebenarnya, membuat ‘As Above, So Below’ terlihat tak lagi menakutkan dan ‘Sinister 2’ bagaikan film kartun minggu pagi.

‘No Escape’ dibuka dengan kepindahan Jack Dwyer (Owen Wilson) dan keluarga ke negara di sekitar Asia Tenggara (yang sengaja tak pernah disebut namanya di film). Jack mendapatkan pekerjaan baru di negara tersebut dan berharap untuk memulai kehidupan yang lebih baik bersama istrinya, Annie (Lake Bell), dan dua malaikat kecilnya, Lucy (Sterling Jerins) dan Beeze (Claire Geare). Apesnya, Jack datang di waktu yang tidak tepat, alih-alih menemui kebahagiaan di negara baru, dia dan keluarganya justru disambut kemalangan. Kedatangan Jack berbarengan dengan peristiwa kudeta yang berujung pada terbunuhnya perdana menteri oleh kelompok pemberontak. Kota mulai dilanda kerusuhan dan hotel tempat tinggal Jack diserang oleh sekelompok orang yang mengincar warga asing. Setiap kamar digeledah dan penghuninya yang bukan penduduk pribumi langsung dihabisi tak kenal ampun. Beruntung, Jack dan keluarga bisa melarikan diri ke atap hotel dan selamat dari amukan orang-orang biadab yang tidak punya belas kasihan. Mimpi buruk sayangnya belum berakhir, Jack dan keluarga nantinya akan diseret paksa oleh John Erick Dowdle yang bangsat, untuk menjalani serangkaian momen yang tak saja menyiksa fisik tapi juga batin, mengerikan sekaligus mengiris nurani.

Film belum sampai setengah durasinya, saya sudah kenyang meng-anjing-anjingi ‘No Escape’ yang sejak awal memang tak memberikan penontonnya waktu untuk bersiap dengan apa yang akan ditontonnya. John Erick Dowdle sama bedebahnya dengan kelompok pemberontak anjing yang dengan seenaknya membacoki dan menembaki orang-orang yang tak bersalah. Tanpa adanya peringatan lebih dulu, Erick langsung menyeret kita dalam kekacauan, memaksa kita untuk menonton beragam kebengisan yang bisa manusia lakukan ketika mereka tak lagi mengenal empati, kehilangan rasa prikemanusiaan dan dibutakan hatinya. ‘No Escape’ tak saja memberikan kejutan-kejutan yang menyesakkan, tapi juga membangkitkan rasa takut dan trauma karena seketika mengingatkan pada kerusuhan Mei 1998. Bercampur dengan bayangan bahwa kerusuhan bisa kapan saja terulang, melihat apa yang nantinya menimpa Jack Dwyer dan keluarganya tentu saja menciptakan rasa ngeri berdosis ganda. ‘No Escape’ adalah mimpi buruk berdurasi 103 menit yang tak pernah mengijinkan penontonnya untuk terbangun cepat-cepat.

Anjing! Bangsat! Kunyuk! Monyong! Goblok! Bajingan! Taik banget! ‘No Escape’ tak saja jadi perjalanan yang penuh sumpah serapah—tampaknya akan jadi film kedua terbanyak disumpah-serapahi setelah The Poughkeepsie Tapes—tapi juga film yang benar-benar memberikan rasa tidak menyenangkan ketika menonton. Tak ada tepuk tangan ataupun sorak-sorai kegembiraan, semua tergantikan oleh rasa sesak, stress dan haru ketika melihat kepahitan yang harus dirasakan oleh Jack Dwyer dan keluarganya. Satu-satunya yang bisa melegakan adalah saat saya bisa berteriak “mampus!” setiap kali penjahatnya mati, tidak lupa mengucapkan “Alhamdulillah” karena bisa menyaksikkan keluarga Jack Dwyer lolos dari maut. Walaupun dibuat kesal oleh ulah menyebalkan Lucy dan Beeze, saya tetap ingin melihat Jack Dwyer dan keluarganya selamat, Erick Dowdle tahu bagaimana cara instan membuat saya peduli dengan nasib mereka hingga film selesai. Well, pada akhirnya cerita yang setipis kertas itulah yang justru tak saya pedulikan, karena untuk kali ini saya lebih mementingkan rasa dan pengalaman yang telah Dowdle bersaudara berikan, ‘No Escape’ memang bangsat bukan main, tak saja membuat saya merasakan takut tapi juga memberi pengalaman yang luar biasa ngeri.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

15 Film Indonesia Te...
Review - Talak 3
Review - Iblis (2016...
Review - Lights Out