Review – Last Shift (2015)

written by Rangga Adithia on September 26, 2015 in American Film and CinemaTherapy and Horror with 4 comments

Anthony DiBlasi tampaknya senang bermain-main dengan psikologis penonton, sekaligus mengeksplorasi ketakutan dalam filmnya, seperti yang dilakukannya di “Dread”. Jika di film yang dibintangi Jackson Rathbone tersebut, DiBlasi terkesan bertanya “apa sih yang paling lo takutin?”, kali ini lewat film terbarunya bertajuk “Last Shift”, sang sutradara kembali mempertanyakan hal yang sama, bedanya di film ini DiBlasi mampu mengesekusi ide horornya jauh lebih baik. Berfokus pada Jessica Loren (Juliana Harkavy), seorang polisi berstatus “anak baru” yang dapat tugas jaga malam sendirian di sebuah kantor polisi yang tak lagi dipakai. DiBlasi nantinya akan mengajak penonton untuk ikut menemani Jessica menjaga gedung kosong—semua penghuninya sudah pindah ke markas baru, termasuk panggilan darurat 9-1-1 yang telah dialihkan kesana. Well, tugas yang kelihatan gampang, tapi kemudian gangguan demi gangguan yang muncul mulai menguji kesabaran serta keberanian Jessica, termasuk kewarasannya. Dari gelandangan yang pipis sembarangan, hingga perempuan yang tiba-tiba menghubungi meminta bantuan, dari mendengar suara-suara aneh sampai melihat penampakan yang tak masuk di akal. Tugas jaga malam Jessica pun seketika berubah jadi mimpi buruk.

Jangankan sendirian di sebuah gedung kosong bekas kantor polisi yang pastinya meninggalkan jejak-jejak peristiwa tak menyenangkan di masa lalu, ditinggalkan di rumah sendiri saja mungkin akan menciptakan rasa paranoid. Takut ada yang tiba-tiba menemani di ruang tamu tapi tidak berwajah, takut ada sosok bayangan yang mengintip ketika kita bikin mie instant di dapur, atau sekedar takut rumah didatangi rampok, berhubung sekarang banyak berita perampokan yang disertai pembunuhan. Mungkin si Anthony DiBlasi pun pernah merasakan hal yang sama, takut saat sendirian di sebuah tempat, pengalamannya kemudian melahirkan ide untuk membuat “Last Shift”. Dari ide sederhana yang tampaknya pernah dialami hampir semua orang ini, DiBlasi hanya tinggal menambahkan “lokasi” yang tidak saja menyeramkan tapi juga unik, pemilihan kantor polisi untuk tempat bermain pun dirasa sangat tepat. Apalagi “Last Shift” sengaja menambahkan elemen sekte sesat dan unsur pemujaan setan ke dalam penceritaan, langkah tersebut tak saja membuat film jadi punya daya tariknya sendiri, tapi juga menggenjot rasa cekam ketika kita berada di gedung yang konon pernah terjadi aksi bunuh diri tersebut.

Setelah kemarin-kemarin disuguhkan aneka film horor yang gagal membuat saya ketakutan—menunjukan jari telunjuk ke arah “Sinister 2” dan “Dark Awakening” sekaligus mengacungkan jari tengah pada “Demona”—akhirnya rasa dahaga saya akan horor yang mengasyikkan terpuaskan oleh munculnya “Last Shift”. Dengan durasi sekitar 90 menitan, apa yang membuat Anthony DiBlasi kemudian sukses menghadirkan tontonan horor yang menyenangkan, adalah karena dia mengerti cara memaksimalkan ketakutan dalam diri penontonnya. Sejak awal, “Last Shift” tak akan terlalu banyak basa-basi, DiBlasi terlihat tidak mau buang-buang waktu. Setelah memperkenalkan Jessica Lorens sebentar, permainan DiBlasi pun segera dimulai dengan mengajak kita jalan keliling gedung, mengeksplor ruangan demi ruangannya yang kosong, termasuk mendatangi ruang sempit yang biasa dipakai untuk mengurung para pelanggar hukum. Tak terkesan buru-buru, atmosfir dan rasa cekam pun dibangun perlahan-lahan, walau hanya bermodalkan bebunyian berisik, formula menakuti ciptaan DiBlasi langsung mujarab dalam menghasilkan perasaan berdebar-debar kala saya menghampiri satu-persatu ruangan.

“Last Shift” jelas sudah mengingatkan lagi kenapa saya menyukai film horor, tak saja pada akhirnya saya bisa merasakan asyiknya ditakut-takuti, tapi juga karena usaha maksimal DiBlasi dalam menghadirkan ke-creepy-an yang menyenangkan. Sambil berselimut misteri, untuk menciptakan rasa takut pun DiBlasi tak sekedar mengandalkan penampakan-penampakan saja, tapi juga memanfaatkan beragam bebunyian yang bisa dibilang punya efek yang brengsek dalam membuat seluruh tubuh saya bergidik. Sound design-nya betul-betul berhasil hadirkan suasana tak nyaman, membuat gelisah dan paranoid setengah gila. Cara DiBlasi membangun ketakutan memang terbukti ampuh, bahkan sebelum film ini mempertontonkan penampakan-penampakannya, segala bebunyian berisik itu membuat merinding sejak awal. Ketika tiba waktunya “Last Shift” memunculkan wujud-wujud serem, film ini pun tak hanya menawarkan momen-momen mengagetkan yang bedebah, tapi juga melakukannya dengan trik-trik mengejutkan yang bisa dikatakan tidak disangka-sangka sebelumnya. Didukung dempulan make up yang menyeramkan, ditambah atmosfir pekat yang mencekam, segala penampakan pun menjadi lebih terasa efektif hasilkan efek terkejut yang berlipat ganda. “Last Shift” benar-benar memberikan pengalaman horor yang begitu menyenangkan, film yang membuat saya girang mampus sudah bisa ditakuti-takuti. Love it! All hail the king of hell!


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Invitat...
Review - Ada Apa Den...
Review - Telaga Angk...
Review - Rumah Malai...