Review – Dark Awakening

written by Rangga Adithia on September 5, 2015 in American Film and CinemaTherapy and Horror with 2 comments

“Dark Awakening” dibuka dengan drama ruang persidangan yang diakhiri bunyi letusan pistol, terdakwa yang baru saja divonis bebas, tergeletak tidak bernyawa setelah ditembak seorang ayah yang tidak terima dengan keputusan hakim. Saya pikir nantinya si terdakwa akan jadi arwah penasaran, kemudian mencoba balas dendam atas kematiannya. Tapi ternyata adegan di awal tersebut memang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan penceritaan yang akan dihadirkan “Dark Awakening”. Kita akan diperkenalkan dengan James Thomas (Jason Cook), jaksa wilayah yang kebetulan ada di tengah sidang berdarah tadi. Setelah mengetahui kalau ibunya baru saja meninggal dunia, James mengajak keluarga untuk pulang kampung ke daerah Cedar Rock Falls di Carolina Utara. Setibanya di Cedar Rock, mereka langsung menemui keanehan dengan tingkah laku penduduk lokal sana, terutama saat menatap Danny (William Pifer), anak laki-laki James dan Jennifer (Valerie Azlynn). Tak lama setelah James beserta keluarganya menempati rumah sang Ibu, peristiwa-peristiwa ganjil pun mulai berdatangan mengusik kedamaian mereka, termasuk Danny yang katanya punya “teman baru” di rumah tersebut.

Mengusung tema yang sudah berulang kali dipertontonkan di film horor, sebuah rumah tua berhantu, saya akan memaklumi apabila “Dark Awakening” nantinya dipenuhi keklisean. Asalkan Dean C. Jones setidaknya mampu menyulap sesuatu yang tampak klise untuk tetap menarik dan tentunya sanggup menakuti, tetapi sayangnya, Dean terlihat kesulitan untuk melakukan salah-satunya. Penampakan makhluk-makhluk gaib berwujud anak-anak yang nantinya berseliweran kesana-kemari, harus saya akui tampil menarik dengan riasan yang menyeramkan. Soal make up dan efek praktikalnya, “Dark Awakening” memang beruntung ditangani sutradara yang punya status veteran dalam dunia per-make-up-an. Dari serial TV “Star Trek: The Next Generation” hingga ke “X-Men: First Class”, dari film slasher “Slumber Party Massacre III” sampai “Ouija”, keahlian si Dean C. Jones dalam soal rias-merias wajah orang jadi seram tampaknya memang tak perlu diragukan lagi. “Dark Awakening” pun setidaknya sedikit terselamatkan dengan tampilan hantu-hantunya yang tidak terlihat menggelikan atau malah jadi bahan tertawaan.

Mengandalkan kehadiran hantu-hantu anak kecil bertampang berantakan belum cukup mengangkat potensi ‘Dark Awakening’ untuk jadi horor yang menakutkan. Usaha Dean C. Jones untuk menampilkan visual hantu yang cukup layak tersebut sayangnya tidak diimbangi dengan bangunan atmosfir yang tepat. Saya harusnya bisa merasakan ngeri berada di rumah tua berhantu, tapi ‘Dark Awakening’ tidak mampu memberikan rasa cekam yang saya inginkan. Nuansa horornya yang bisa terbilang hampa, kemudian diperparah dengan esekusi Dean yang lemah, terasa serba tanggung dengan penampakan hanya sebatas lewat tak maksimal ciptakan takut. Walaupun ‘Dark Awakening’ masih sempat menawarkan momen-momen horor yang menarik, tapi tetap saja jauh dari kesan seram yang saya bayangkan. Trik-trik yang dimunculkan Dean juga tak banyak membantu ‘Dark Awakening’ dalam usahanya mengembalikan keyakinan saya jika film ini bisa membuat saya ketakutan. Ketika daya tarik horornya kian terkikis habis seiring durasinya yang  menipis, satu-satunya yang membuat saya bertahan hanya tinggal sajian misteri yang menyelimuti ‘Dark Awakening’, rasa penasaran membuat saya tetap betah.

Kenapa kota Cedar Rock Falls hanya dihuni orang-orang berusia lanjut? Kecuali Danny dan teman-teman tembus pandangnya, saya tidak melihat anak-anak lain berkeliaran di kota tersebut. Rasa ingin tahu membuat saya terikat pada jalinan misteri yang dibubuhkan dalam penceritaan ‘Dark Awakening’, tetapi tampaknya ikatan tersebut tidak akan bertahan lama. Separuh pertama film bergulir, misteri yang dihadirkan memang masih terasa cukup menarik untuk diikuti, sayangnya kenikmatan melahap segala misteri di ‘Dark Awakening’ makin berkurang ketika saya tiba di paruh keduanya. Ikatannya mulai kendor justru di saat Dean C. Jones mengupas satu demi satu misteri yang membungkus filmnya, alih-alih membuat saya semakin penasaran untuk menemukan semua jawabannya bersama dengan Jennifer, ‘Dark Awakening’ justru terlihat kian membosankan hingga penghujung durasinya. Film yang dibintangi oleh Lance Henriksen ini tampaknya akan cocok ditonton untuk mereka yang sedang kesulitan tidur, pemilihan dialog-dialognya dijamin jadi mantra ajaib yang langsung membuat mata terpejam. Tapi jika ingin mencari tontonan yang menyeramkan, saya sarankan hindari ‘Dark Awakening’.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Juara (2016...
Review - Cipali KM 1...
Review - Ada Apa Den...
Review - 3 Srikandi