Review – The Canal (2014)

written by Rangga Adithia on August 14, 2015 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Horror with no comments

Ada rasa yang berbeda saat saya memasuki ranah perfilman horor Eropa, paling terasa adalah cara mereka menuturkan ceritanya. Jika kebanyakan film berlabel American horror tak perlu perhatian khusus dalam mengikuti alur ceritanya, film horor Eropa seringkali mengharuskan saya untuk punya kesabaran ekstra untuk mendalami paparan ceritanya yang bergerak merangkak. Tetapi alur lamban tak menjadikan film membosankan, disinilah keunikan film-film horor Eropa. Tahun lalu ada ‘The Quiet Ones’, film asal Inggris yang sengaja melambankan kecepatan alurnya untuk ikut mempermainkan sisi psikologis penontonnya. ‘Let the Right One In’ (2008) memilih untuk tidak terburu-buru karena ingin penonton hanyut  pelan-pelan terbuai oleh jalinan kisah “cinta monyet” antara Oskar dan Eli. Tidak aneh jika kemudian saya menemukan ‘The Canal’ punya pace serupa, tapi sekali lagi lamban tidak melulu diartikan dengan film membosankan, kadangkala film horor juga butuh mengatur ritme penceritaannya, entah itu untuk membuat kita terikat secara emosional dengan karakter utamanya atau pelan-pelan membuat kita menjadi ikutan gila, seperti apa yang akan dilakukan oleh ‘The Canal’.

Paruh pertama ‘The Canal’ adalah bagian yang paling menguji kesabaran, apakah kalian tipe penonton yang sabar atau tidak akan ketahuan di 45 menit awal film. Walaupun kalian termasuk penonton yang sabar pun, saya pikir tak akan mudah untuk menapaki menit demi menit ‘The Canal’. Apalagi jika sudah lebih dahulu terlanjur punya ekspektasi film yang disutradarai Ivan Kavanagh ini bakal setipe dengan horor-horor kekinian, baru 10 menit sudah tongolin hantunya. Nope, di ‘The Canal’ kita justru akan menemui film horor yang peduli untuk bercerita dan maksud saya benar-benar bercerita, bahkan ketika film ini mulai menakut-nakuti penontonnya, Ivan Kavanagh tak pernah lupa menyelesaikan ceritanya. Well, kita akan diperkenalkan dengan David (Rupert Evans) yang punya pekerjaan sebagai film archivist, termasuk mengarsipkan serta merawat film-film lama yang isinya dokumentasi TKP pembunuhan. Salah-satu filmnya pada akhirnya membuat dia agak stress, karena David mendapati rumah yang dia tempati sekarang bersama istri dan anaknya ternyata dulunya pernah terjadi pembunuhan keji. Belum lagi, David mencurigai istrinya berselingkuh, seiring stress yang semakin bertumpuk, keanehan mulai muncul entah itu hanya di kepala David atau memang nyata.

Mengayun perlahan, ‘The Canal’ punya banyak kesempatan membuat saya tidak hanya mengenal karakter-karakternya, termasuk David dan anaknya yang super menggemaskan itu, tetapi juga memberikan karakter-karakternya ruangan yang lapang untuk bereksplorasi, khususnya David. ‘The Canal’ memang butuh untuk melambankan ritmenya, bukan karena tuntutan agar penonton jadi punya waktu untuk mencerna ceritanya, tapi lebih bertujuan untuk membuat kita merasakan apa yang David rasakan, ketakutan dan strees yang sedang dia alami. ‘The Canal’ tak menawarkan plot dengan struktur penceritaan yang rumit, kerumitan justru datang pada saat kita dikondisikan memilih mana yang kira-kira khayalan David dan mana yang nyata. ‘The Canal’ mampu mempermainkan psikologis penonton, selagi kita dipaksa untuk melahap bagian demi bagian ceritanya yang sepertinya terkesan biasa saja di awal, kemudian mengarah semakin misterius dan akhirnya membuat kita penasaran. Walaupun Ivan Kavanagh di beberapa bagian terlihat terlalu bertele-tele dalam bercerita, saya akui tujuan ‘The Canal’ untuk membuat penontonnya ikutan sinting seperti David terlaksana dengan cukup baik.

Ketika ‘The Canal’ dirasa sudah cukup menghabiskan durasinya untuk mengajak saya menyelam ke dalam pikiran David yang sudah setengah gila, maka film ini setelah itu mulai lebih sering menampakkan beragam visual-visual menakutkan. Di paruh kedua tibalah waktunya untuk ‘The Canal’ membuat David totally gila, semua terwakilkan dengan semakin seringnya David melihat penampakan serta keanehan, termasuk meyakini ada “seseorang” yang ingin membuat keluarganya celaka. Pada titik ini, kita dipaksa ikut meyakini semua yang dilihat David adalah benar terjadi, maka batas antara ilusi dan kenyataan sudah dibuat blur oleh film. Penampakan demi penampakan pun efektif ciptakan rasa ngeri dan tak nyaman, apalagi rasa cekam ‘The Canal’ memang sudah mantap terbangun lebih dulu dari sejak film dimulai. Horornya dibangun pelan-pelan, sambil memasukkan unsur-unsur menegangkan kedalamnya, dari bebunyian yang membuat perasaan tidak enak sampai gambar-gambar disturbing yang lewat begitu saja tanpa lebih dulu bilang permisi. ‘The Canal’ punya momen-momen horor yang mengasyikkan dan beberapa sanggup memaksa saya untuk mikir yang seram-seram duluan, sesuatu yang jarang dilakukan oleh film-film horor kekinian. Apakah kesabaran ekstra di awal kemudian setimpal begitu film melepas horornya? saya akan jawab: IYA!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Deathgasm (...
Review - 3 Srikandi
Review - Before I Wa...