Review – Battle of Surabaya

written by Rangga Adithia on August 24, 2015 in Animation and CinemaTherapy and Film Indonesia with no comments

“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga…”, ketika suara Bung Tomo berkobar-kobar membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk melawan tentara Inggris, di saat yang bersamaan seorang anak bernama Musa sedang menjalani misinya mengantarkan surat-surat penting dan rahasia kepada para pejuang. Nyawanya bisa dibilang jadi taruhan, demi menjaga surat-surat tersebut agar tidak sampai jatuh ke tangan musuh. “Battle of Surabaya” nantinya memang tidak saja berlatar belakang pertempuran sengit antara pejuang Indonesia melawan tentara Inggris pada 10 November 1945, yang memang didasarkan pada sejarah, tetapi juga ikut menghadirkan tokoh-tokoh fiktif untuk menyemarakkan ceritanya. Selain Musa sang kurir yang sehari-harinya bekerja menyemir sepatu, akan ada Yumna yang disuarakan oleh Maudy Ayunda dan Danu yang karakternya agak-agak misterius. Ketiganya dicemplungkan dalam kisah heroik yang akan mengajak kita melihat kembali sejarah sekaligus merasakan petualangan menyenangkan dalam bentuk film animasi…film animasi Indonesia, ini jelas pengalaman yang jarang terjadi.

Butuh tiga tahun untuk merampungkan “Battle of Surabaya” tapi hasilnya dapat dikatakan setimpal. Walaupun masih merasakan kekurangan disana-sini, usaha Aryanto Yuniawan dan kawan-kawan, khususnya para animator pantaslah untuk dihargai serta mendapatkan apresiasi. Kekuatan terbesar “Battle of Surabaya” ini jelas ada di animasinya, barisan animatornya sukses menghasilkan gambar yang luar biasa memukau. Berkiblat pada film animasi Jepang dengan mencampurkan rasa lokal, saya begitu menikmati suguhan visual yang disodorkan oleh “Battle of Surabaya”, dari adegan-adegan yang mempertontonkan perang hingga aksi-aksi kecil yang nantinya meramaikan petualangan Musa mengantarkan surat rahasia. Hebatnya, “Battle of Surabaya” tidak hanya menampilkan gambar-gambar indah semata, tapi memperhatikan betul kualitas serta detilnya, inilah yang membuat keseluruhan animasinya kelihatan berkelas. Cantik ketika menggambarkan alam Surabaya sekaligus apik disaat menghadirkan momen-momen peperangan. Soal gambar, “Battle of Surabaya” memang tidak mengecewakan saya sejak awal film ini dimulai, saya tidak saja dibuat terkagum-kagum tapi juga merasa bangga.

Kapan lagi bisa melihat film animasi lokal di layar lebar, “Battle of Surabaya” ini bisa jadi permulaan, siapa tahu bakal menginspirasi yang lain untuk ikutan buat film animasi, mau 2D ataupun 3D. Tapi dengan catatan, film animasi tidak hanya harus kuat di gambar tapi juga perlu naskah yang solid. “Battle of Surabaya” saya akui lemah dalam penggarapan skrip, tidak secantik visualnya. Lagi-lagi film kita yang mesti terbentur masalah penyampaian cerita, padahal menurut saya “Battle of Surabaya” kelihatan baik-baik saja di separuh awal filmnya, kejangggalannya muncul ketika film ini melompat ke paruh kedua. Aryanto yang merangkap juga sebagai penulis naskah cerita bersama M. Suyanto seperti kesulitan untuk dapat menjaga cerita tidak melebar kemana-mana. Apalagi “Battle of Surabaya” punya banyak sekali karakter untuk diceritakan, termasuk memasukkan “Kipas Hitam”, sebuah organisasi rahasia Jepang yang beranggotakan orang-orang berseragam ala ninja. Konsep “Kipas Hitam” memang bisa dibilang keren, tapi begitu tertuang dalam naskah, tak cukup banyak halaman untuk menceritakan tentang mereka, karena “Battle of Surabaya” juga harus berbagi durasi dengan karakter lain yang sudah berdesakan menunggu untuk tampil dan diceritakan dalam filmnya.

“Battle of Surabaya” memang tidak sempurna, untungnya kekurangannya dalam storytelling tertutupi oleh usaha yang lebih baik dari sisi animasinya. Setidaknya dalam urusan gambar, film ini membuktikan kita juga bisa membuat film animasi yang mumpuni. Gambar-gambar menakjubkan yang ditampilkan oleh “Battle of Surabaya” jelas tidak bisa dianggap remeh, apalagi selain digambar dengan baik, hasil akhirnya makin berkilau ketika didukung oleh scoring, dan pemilihan suara dari pemain yang tepat untuk karakter-karakternya. Ian Saybani, Maudy Ayunda dan Reza Rahadian dirasa begitu pas menyuarakan karakter Musa, Yumna, serta Danu. Dialog-dialog yang diucapkan selaras dengan pergerakan wajah karakter, jadi membuat kesan mereka lebih hidup, tak hanya sekedar karakter kartun saja. Berdurasi hampir 100 menit, walau penyampaian cerita “Battle of Surabaya” ini agak melebar kemana-mana, tapi saya rasakan tak sampai membuat keseluruhan film jadi membosankan. Saya menonton “Battle of Surabaya” untuk mencari film hiburan bukan untuk mencari kesalahan-kesalahan filmnya, terlepas dari adanya kekurangan di sisi penceritaan, untuk tujuannya menghibur penonton, saya akui “Battle of Surabaya” pada akhirnya tidak sekedar memberikan hiburan tapi juga berhasil menciptakan rasa kagum dan bangga. Merdeka!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Tujuh Film Horor Fav...
Review - Don't Breat...
Review - Ratu Ilmu H...