Review – 99% Muhrim: Get Married 5

written by Rangga Adithia on August 4, 2015 in CinemaTherapy and Comedy and Drama and Film Indonesia with no comments

“Yang halal halal saja…yang halal halal saja”, penggalan lirik dari lagu Slank yang berjudul “Halal” tersebut seperti betah nangkring di kepala saya, sampai detik ini saya menulis review “99% Muhrim: Get Married 5”. Semenjak film pertama, band bentukan Bimbim pada 26 Desember 1983 ini memang bisa dibilang tak pernah absen menyumbangkan lagunya untuk dijadikan soundtrack “Get Married”, mulai dari lagu “Plis” sampai “Cubit-Cubitan”. Seperti Nirina Zubir yang tak tergantikan untuk memerankan Mae, grup band Slank juga tak bisa dihilangkan dari film-film “Get Married”. Pemeran Rendy (suaminya Mae) boleh datang dan pergi berganti-ganti, tapi “Get Married” akan sangat berbeda rasanya apabila tidak ada Nirina dan dendangan lagu Slank. Tongkat estafet penyutradaraan bisa berpindah dari tangan Hanung ke Monty dan sekarang Fajar Bustomi, tapi “Get Married” tak bisa lepas dari komedinya yang selalu melibatkan kesalahpahaman dan ditampilkan heboh. Walaupun kelucuannya terkikis seiring bertambahnya sekuel, setidaknya seri-seri “Get Married” masih terlihat konsisten, tidak saja menghadirkan Nirina dan lagu-lagu Slank (lagi), tetapi juga mampu mempertahankan tone komedinya, membuat kita kemudian tidak asing dengan kekonyolan Mae dan keluarganya.

Film baru tentu saja butuh cerita baru, bagaimanapun juga “Get Married 5” tidak mungkin mengulang sumber konflik yang sama. Untungnya film ini tampak tidak perlu jauh-jauh menemukan persoalan yang menarik untuk dibahas, seperti juga seri-seri sebelumnya, menyomot isu-isu yang memang masih “hangat” terjadi di tengah masyarakat kita. Sambil nantinya ikut menyindir, “Get Married 5” sekali lagi mampu memadukan kekonyolan dengan deretan kritikan sosial, yang kali ini coba mengangkat kasus mereka yang mendadak religius, diselingi juga nyinyiran yang ditujukan kepada orang-orang yang kecanduan selfie. Walaupun ada upaya untuk mengkritik secara tidak serius di beberapa bagiannya, setidaknya film ini tak pernah lupa misi utamanya untuk membuat penontonnya tertawa, berbagai kritikan dan sindiran yang berseliweran pun pada akhirnya ditampilkan untuk memancing tawa. Bagaimana Mae yang sudah berevolusi menjadi anak gedongan nantinya tiba-tiba diposisikan untuk ingat kembali dengan Tuhan, dan ingin coba belajar agama lagi, serta Sophie (Anggika Borlsterli) yang diceritakan mendadak ikut pesantren kilat dan pakai hijab serba hitam. Yah, “Get Married 5” saya pikir punya bahan cerita yang menarik, sekaligus berpotensi untuk berdakwah.

Dengan temanya yang lebih religius dari seri terdahulu, “Get Married 5” tentunya tidak bisa terhindar untuk berbagi-bagi pesan penuh hidayah pada penontonnya, walaupun penyampaiannya terbungkus oleh banyolan. Menyesuaikan tema yang mendadak religius tersebut, mau tidak mau “Get Married 5” pun ikut mendadak agak cerewet soal agama, tapi setidaknya Fajar Bustomi tidak membuat film ini jadi mirip seperti sebuah pesantren kilat. “Get Married 5” tetaplah sajian komedi yang menyenangkan, terlepas ceritanya yang dipaksa untuk mendadak religius, ciri khas kekonyolan ala film-film “Get Married” sama sekali tidak hilang. Contoh, lihat saja Mae yang dipaksa oleh cerita untuk kembali ingat agama, belajar baca Al-Quran lagi dan pakai hijab, tapi kelakuan nyeleneh-seenaknya-slengean tetap diperlihatkan. Film ke-5 tapi tidak lupa pada root komedinya, Mae tetaplah Mae yang kita kenal 8 tahun lalu, “Get Married 5” dengan embel-embel 99% Muhrim-nya tetap bisa mempertahankan kegeblekannya, walaupun tampilannya kali ini rada-rada religius. “Get Married 5” memberi petuah sambil tidak lupa membuat saya tertawa, menyindir sana-sini sekaligus tetap terus menggelitik penonton.

Untuk urusan bikin ketawa, “Get Married 5” tidak hanya mengandalkan plot yang memang dibentuk sedemikian rupa agar memancing kericuhan, kehebohan serta kelucuan, tapi juga sekali lagi bergantung pada kekonyolan dan lawakan masing-masing karakternya. Nirina Zubir tetap mampu membawakan lakonnya sebagai Mae dengan baik. Di balik polesan make up mahal dan dandanan mewah, akting Nirina membuat karakter Mae terlihat seperti Mae yang kita kenal dulu, saat dia masih jadi anak kampung. Tak banyak yang berubah, termasuk dalam urusannya membuat saya tertawa dengan aksi kocaknya yang terkesan spontan, apa adanya dan tidak tahu malu. Begitu juga dengan Jaja Mihardja dan Meriam Bellina, yang kembali memerankan orang tua Mae, lawakan yang kesannya asal ceplas-ceplos dari keduanya memang selalu hadirkan kelucuan tersendiri, mengundang gelak tawa ketika “Get Married 5” sedang terlihat kekurangan bahan melawak. Sayang, membuat saya tertawa saja kemudian tidaklah cukup untuk sekedar menjadikan “Get Married 5” film komedi yang berkesan, tetap menghadirkan kehebohan dan kelucuan tapi juga begitu mudah dilupakan ketika saya keluar dari bioskop, satu-satunya yang saya ingat hanyalah “Yang halal halal saja…yang halal halal saja”.


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - The Wailing...
Review - Warkop DKI ...
Review - Before I Wa...