Review – Surga yang Tak Dirindukan (2015)

written by Rangga Adithia on July 28, 2015 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with 2 comments

Saya bukan orang yang anti dengan film berkonten reliji, hanya tidak menyukai film yang bawa-bawa agama, terus lupa untuk bercerita karena terlalu sok sibuk berdakwah, menceramahi dan mengurusi moral penontonnya. Padahal jika film-film yang mengusung tema reliji dibuat terbalik, lebih ingin memaparkan apa isi ceritanya ketimbang mengubah film jadi sebuah mimbar belaka, pesan kebaikan yang ingin disampaikan justru bisa lebih diterima, tidak sekedar numpang lewat masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Coba lihat “Hijrah Cinta”, mungkin dapat dijadikan acuan bagaimana membuat film reliji yang baik, bercerita dulu sambil berdakwah pelan-pelan. “Assalamualaikum Beijing” juga masuk ke dalam daftar film reliji yang bisa saya nikmati, drama romantis berselimut dakwah yang tidak melulu cerewet berceramah dan tak hanya menjual adegan tangis-tangisan. Lalu ada “Hijab” yang memperlihatkan jika film reliji juga bisa begitu menyenangkan, tidak kaku terbebani oleh pesan kebajikan dan moral. Nah, terakhir ada “Mencari Hilal”, banyak bicara soal agama tapi tidak pernah sekalipun terkesan menggurui siapapun, sesekali menceramahi tetapi tak lupa untuk bercerita pada penonton.

Sebetulnya, “Surga yang Tak Dirindukan” masuk dalam daftar film yang dicoret, film yang saya hindari karena kontennya memang berseberangan dengan selera. Satu-satunya alasan yang kemudian mendorong saya untuk nekat menonton film yang dibintangi Fedi Nuril, Laudya Cynthia Bella dan Raline Shah ini, karena ada nama Kuntz Agus terpampang selaku sutradaranya. “Republik Twitter” membuat saya berpikir, mungkin saya akan menyukai “Surga yang Tak Dirindukan”, Kuntz Agus mungkin akan menyajikan sebuah film reliji yang berbeda, tidak seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Ditambah lagi, saya menyukai karya-karyanya Asma Nadia yang sudah lebih dulu difilmkan, termasuk “Rumah Tanpa Jendela”. Well, setengah perjalanan film ini di paruh pertamanya bisa dikatakan mengalir mulus, semulus kulit wajah Arini (Laudya Cynthia Bella). Saya masih bisa terima dicekoki kisah romansa klise yang nantinya dipertontonkan, setidaknya film ini punya niat baik untuk mencoba membangun chemistry antara Pras (Fedi Nuril) dan Arini, takarannya pun dirasa pas. Jadi saya bisa dibuat yakin keduanya saling jatuh cinta, seperti saya meyakini bakal “selamat” hingga film ini selesai.

Rasa nyaman saya sayangnya mulai terusik begitu orang ketiga dimunculkan di “Surga yang Tak Dirindukan”, adanya Mei Rose (Raline Shah) memang titik-balik yang mengubah situasi, tidak hanya yang menggonjang-ganjing kedamaian Pras dan Arini, mengancam keutuhan rumah tangga mereka, tapi juga membuat saya gelisah melihat jalinan cerita yang terlalu mengada-ngada, hanya agar semuanya jadi tampak kacau sekaligus untuk memancing konflik yang lebih besar. Awalnya agak sulit untuk menerima kenyataan kalau Pras kemudian menikah lagi dengan Mei Rose, hanya karena alasan mencegah dia bunuh diri, tapi kalau dipikir-pikir lagi, lelaki normal mana yang akan melewatkan kesempatan untuk bisa menikah dengan perempuan secantik Raline Shah, jadi beruntunglah Fedi Nuril ini, sudah punya Laudya Cynthia Bella, pintar juga cari alasan untuk menikahi Raline Shah. Mungkin akan berbeda situasinya kalau perempuan yang mau bunuh diri bukan Raline Shah, sebut saja misalnya Omaswati, apakah Fedi Nuril masih akan bilang “saya akan menikahi kamu”? atau pura-pura kepleset dan melepaskan pegangan tangan, membiarkan Omas jatuh ke bawah ala Hans Gruber di film Die Hard?

Walaupun kemudian menyadari “Surga yang Tak Dirindukan” memang bukanlah film yang dibuat untuk orang seperti saya, tidak berarti saya kemudian langsung menilai film ini jelek secara keseluruhan. Temanya jelas tak sesuai dengan selera saya, dan butuh perjuangan keras untuk bisa menikmati formula melodramanya yang menyenggol persoalan poligami. Terlepas dari ketidakcocokan, saya harus mengakui kualitas Kuntz Agus dalam membungkus “Surga yang Tak Dirindukan”, filmnya cantik dan pemainnya “dipaksa” untuk mampu bermain bagus maksimal. Di balik derasnya air mata yang membasahi pipi, Laudya dan Raline sama-sama tampil bersinar memerankan karakter mereka masing-masing. Totalitas mereka dalam berakting pada akhirnya tidak hanya membuat kita peduli pada Arini dan Mei Rose, terlibat secara personal dan emosional, tapi juga sekaligus meniupkan nyawa pada kedua karakter, menghidupkan mereka. Dikeroyok dua perempuan cantik, untungnya tak membuat Fedi Nuril kehilangan fokus, performanya masih mampu mengimbangi Laudya dan Raline. Didukung tata produksi, sinematografi dan artistik yang cukup jempolan, “Surga yang Tak Dirindukan” sayangnya tidak bisa saya nikmati sepenuhnya, film reliji yang sulit untuk dapat cinta dari saya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Some Kind o...
Review - The Invitat...
Review - Blair Witch...