Review – WolfCop (2014)

written by Rangga Adithia on June 12, 2015 in Canadian Film and CinemaTherapy and Comedy and Horror with no comments

Menonton film yang punya judul “WolfCop” memang tak perlu berharap bakalan disajikan hidangan mahal dan mewah ala restoran yang pelayannya berpakaian rapih. “WolfCop” ibarat jajanan pinggir jalan yang murah meriah nan gurih, mie goreng double pakai telor kornet atau bakso yang takaran vetsin-nya sembarang terserah si abang. Sehat atau tidak sehat yang penting enak, saya tahu “WolfCop” tidak menawarkan cerita yang bergizi, tapi persetan dengan cerita, karena saya memang sedang mencari kesenangan dari film yang menghibur tanpa otak. Tapi siapa sangka kalau ternyata “WolfCop” juga peduli untuk berbagi cerita yang bisa disebut layak, buat saya itu adalah bonus, kayak abis kenyang bakso terus tahu-tahu ada yang ngasih sebungkus cakwe, hmm mantap betul. Jalinan cerita yang menyenggol-nyenggol tema occult tersebut, nantinya memang meluruskan jalan “WolfCop” untuk semakin mantap dalam menghadirkan aksi-aksi nyeleneh, tidak waras dan tanpa logika. Bersiaplah untuk diajak bersenang-senang, ikut mabuk, dan gila bersama “WolfCop”, tidak perlu serius dan nikmati ketidakwarasannya.

“WolfCop” akan mengajak kita berkenalan dengan Lou Garou (Leo Fafard), polisi di kota kecil bernama Woodhaven yang hari-harinya dihabiskan untuk hangout di bar atau tidur di kantor, ketimbang bertugas menjaga keamanan kotanya dari penjahat yang berkeliaran. Sampai suatu ketika Lou mendapat tugas menyelidiki adanya aktivitas okultisme di kotanya. Tapi sebelum Lou sempat menyelesaikan penyelidikannya, dia dipukul hingga pingsan di tempat kejadian perkara, dimana sebuah upacara tumbal tengah berlangsung. Esok paginya, Lou terbangun sudah berada di tempat tidur dengan simbol pentagram di perut dan tak ingat apa-apa berkaitan dengan kejadian malam sebelumnya. Lou pun merasakan perubahan yang aneh pada dirinya, penciumannya semakin peka dan pendengarannya juga ikut makin tajam. Sebetulnya apa yang terjadi dengan Lou? Well, pertanyaan itu nantinya segera terjawab saat dia sedang berada di bar langganannya. Kota kecil Woodhaven yang damai, tiba-tiba diramaikan kehadiran sosok manusia serigala berseragam polisi yang tetap masih doyan minum alkohol. Makhluk berbulu dan bergigi tajam besar-besar ini pun tak segan-segan menghajar penjahat.

Berbicara soal film werewolf, proses transformasi dari manusia menjadi makhluk berbulu akan selalu jadi atraksi yang saya tunggu-tunggu, begitupula “WolfCop”. Ketika kebanyakan film horor modern beralih menggunakan bantuan komputer untuk menciptakan hantu dan monster-nya, “WolfCop” justru menggunakan efek praktikal untuk mengubah Lou Garou menjadi manusia serigala. Pemilihan tidak memakai CGI saya rasa tepat, tidak hanya konsisten untuk menunjukkan bahwa “WolfCop” memang terasa seperti homage ke film-film horor era 80-an, tapi juga memberikan kesan transformasi manusia serigala tersebut jadi lebih real. Proses perubahannya pun ditampilkan tak terburu-buru, supaya kita bisa melihat jelas saat Lou Garou bertahap berubah jadi serigala jadi-jadian. Dari tangan yang tiba-tiba membesar dan memiliki cakar hingga bagian punggungnya yang membelah berganti jadi tubuh berbulu hitam pekat. Salah-satu bagian keren dari “WolfCop” memang adegan Lou Garou berganti “kostum”, tapi kerennya film tidak terhenti di perubahan Lou jadi werewolf saja, karena departemen efek dan make-up telah bekerja dengan sangat baik menyulap Lou Garou jadi serigala berseragam polisi yang tak saja kelihatan badass tapi juga secara keseluruhan begitu meyakinkan.

Didukung bebunyian synthesizer, “WolfCop” pun sudah siap melakukan aksi-aksi gilanya, begitu juga dengan Lou Garou yang sekarang tampak lebih menakutkan setelah menjadi manusia serigala. Tampang seram dan cakar besar tidak dipakai Lou untuk meneror orang-orang yang tidak bersalah, disinilah bagian yang saya pikir menarik, karena “WolfCop” justru menjadikan manusia serigala bak seperti superhero yang nantinya melumat habis kejahatan dan menegakkan kebenaran di Woodhaven. Untuk urusan beraksi, “WolfCop” tidak saja dipersenjatai adegan-adegan tembak sana-sini yang seru (namanya juga film polisi-polisian), tapi juga dibekali dengan adegan-adegan gory yang bikin mulut meneteskan air liurnya. Well, dari aksi Lou (dalam balutan kostum serigalanya) mencabik wajah rampok minimarket, sampai para penjahat yang kepalanya putus, “WolfCop” tahu gimana caranya menghibur saya dengan action tak warasnya. Selagi asyik dijejali dengan adegan-adegan mutusin kepala atau mencabik wajah musuhnya hingga kulitnya terkelupas habis, “WolfCop” tak akan pernah kelihatan serius, karena sejak awal niatnya memang untuk membuat kita tertawa. Semoga sekuelnya cepat jadi, saya tak sabar melihat aksi “WolfCop”, jagoan baru saya yang berbulu dan badass.


Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Bone Tomaha...
Review - Lukisan Ber...
Review - Rumah Malai...