Review – The Houses October Built (2014)

written by Rangga Adithia on June 8, 2015 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 3 comments

Saya masih ingat dulu sewaktu masih bocah rajin datang ke pasar malam, ramai-ramai bareng teman naek sepeda. Selain mengincar jajanan, mata saya pasti akan tertuju pada satu wahana yang memang sengaja dihias menyeramkan, tiap orang yang keluar dari wahana itu wajahnya pucat seperti habis dikejar setan. Wahana yang kerap bikin saya penasaran tapi belum punya keberanian untuk masuk, yah maklum walau doyan film horor, saya termasuk anak yang penakut. Sampai pada suatu ketika, saya akhirnya beli tiket untuk mencoba wahana tersebut, saya lupa berapa harga tiketnya tapi saya ingat kehilangan satu sendal di dalam, terpaksa pulang pakai sendal hanya sebelah. “The Houses October Built” seperti mengajak saya untuk kembali mengenang tragedi menggelikan tersebut, tragedi hilangnya sendal di wahana rumah hantu. Kehilangan sendal tak membuat saya jadi kapok, dimanapun ada wahana rumah hantu-hantuan, (kalau lagi berani) saya semangat sekali mau masuk, walaupun begitu sampai di dalam saya bakal cepat-cepat cari pintu keluar sambil berteriak. Kangen juga sih ditakut-takuti oleh wahana rumah hantu, sudah lama sekali sejak saya terakhir merasakan jantung mau copot.

Nostalgia masa kecil tersebut jugalah yang memberikan Bobby dan teman-teman satu gengnya ide, untuk mencari wahana rumah hantu yang paling menakutkan dan juga ektrim. Mereka nantinya tak hanya berkeliling mendatangi satu persatu wahana-wahana tersebut, perburuan wahana paling ektrim ini nantinya bakalan didokumentasikan, lengkap dengan behind the scene tentang bagaimana wahana rumah hantu dijalankan dan wawancara dengan orang-orang yang terlibat bisnis menakuti-nakuti ini. “The Houses October Built” awalnya memang menjanjikan, dengan iming-iming mengajak saya ke berbagai macam wahana haunted house, dari yang menyajikan ketegangan ala film-film slasher, sampai yang menawarkan keseruan menembaki gerombolan zombie dengan senapan berpeluru cat. Paruh pertama adalah bagian terbaik dari film ini, saya jadi tahu banyak tentang cerita di balik wahana-wahana ini, walaupun terkesan rekayasa tapi film ini membuat saya percaya apa yang saya lihat adalah kisah nyata. Sambil pindah dari wahana satu ke wahana berikutnya, “The Houses October Built” juga nantinya—layaknya sebuah tontonan dokumenter ala Discovery Channel—akan menampilkan banyak klip yang memuat berita-berita yang mengerikan tentang wahana-wahana ini.

Di paruh pertamanya, “The Houses October Built” memberikan saya harapan jika film ini akan memberikan atraksi-atraksi yang menarik, karena potensinya jelas ada. Walaupun predictable, saya tetap mencoba menikmati apa yang ditawarkan oleh “The Houses October Built”, berusaha untuk betah mengikuti Bobby dalam usahanya menemukan wahana rumah hantu paling ekstrim. Bahkan ketika film ini menghabiskan durasinya dengan obrolan-obrolan tidak penting, saya anggap itu sebagai upaya film untuk mempererat tali pertemanan antara Bobby, Brandy Zack, Mikey dan Jeff. Setidaknya saya pikir “The Houses October Built” tak hanya peduli untuk membuat saya bersenang-senang saja, tapi juga menginginkan saya lebih mengenal Bobby dan teman-temannya, terserah apakah nantinya saya jadi peduli atau tidak ketika hidup mereka mulai terancam. Sayangnya, ketika film ini melompat ke paruh keduanya, saya merasakan keseruannya semakin memudar, pencarian wahana paling ekstrim tak lagi terlihat semenarik seperti di awal film. Kali ini “The Houses October Built” seperti kehilangan arahnya, tersesat di dalam permainannya sendiri dan tidak tahu harus bagaimana di paruh kedua ini.

Pencarian wahana rumah hantu yang dilakukan Bobby dan teman-temannya jadi terkesan terlalu dipaksakan untuk dipenuhi misteri, well awalnya memang seru karena kita jadi dibuat bertanya-tanya dan makin penasaran. Namun sayangnya, misteri yang seenaknya ditumpuk oleh “The Houses October Built” justru malah berbalik jadi bumerang, ketika film ini tidak mampu memberikan jawaban yang layak. Saya bukannya ingin film ini menjelaskan semuanya dengan detail, namun adakalanya film punya kewajiban untuk memberi penjelasan, tidak perlu semua, apalagi “The Houses October Built” sudah banyak meninggalkan pertanyaan dan misteri seputar kelompok bernama blue skeleton. Rasa senang berubah menjadi kekecewaan besar begitu saya melihat cara film ini menuntaskan ceritanya, lebih menyebalkan melihat konklusi film ini ketimbang kehilangan sendal jepit waktu itu. Tak hanya terkesan jadi anti-klimaks tapi esekusinya pun terlihat seperti film yang buru-buru mau selesai, karena benar-benar tidak tahu mau melakukan apa. “The Houses October Built” telah menyia-nyiakan potensinya, padahal didukung klip-klip yang menceritakan kisah berdarah dibalik layar wahana-wahana rumah hantu tersebut, film ini bisa saja jadi sajian horor yang menyenangkan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Surat Dari ...
Review - Turbo Kid (...
Review - Ouija: Orig...