Review – It Follows (2015)

written by Rangga Adithia on June 6, 2015 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 2 comments

Ada orang yang mudah takut sama film horor, ada juga orang yang susah sekali mau ditakuti kaya apapun. Ada orang yang bilang “Insidious” itu film horor yang seram, orang lain bilang film itu enggak ada apa-apanya dibandingkan sama seri-seri film “Ju-On”. Sebagian orang lebih suka ditakuti dengan banyak penampakan dan jump scare, tapi ada juga yang memilih film seperti ‘The Babadook’, mereka lebih suka ditakuti secara psikologis dengan atmosfir horor yang pekat dan juga minim penampakan. Kebanyakan orang lebih suka horor konvensional, beberapa orang justru senang ditakut-takuti pakai gaya horor found footage. Well, menurut saya horor itu seramnya relatif, seram buat saya tapi belum tentu seram di mata orang lain, begitu juga sebaliknya. Setiap orang punya kebebasan untuk memilih apakah “It Follows” itu seram atau sama sekali tidak seram, bukan karena ngikut orang lain bilang seram lalu ikut “iya filmnya seram”, tapi berdasarkan apa yang dirasakan setelah menonton filmnya. Pertanyaan simple, seram atau tidak? Saya sendiri memilih untuk bilang “It Follows” tidak seram, tapi (iya ada tapinya) film ini sudah memberikan saya pengalaman horor yang beda dari yang lain.

Saya sebetulnya tipikal penonton yang gampang ditakutin, “It Follows” hanya tak berada di zona “apa yang saya takuti di film horor”. Tapi bukan berarti film yang disutradarai dan ditulis oleh David Robert Mitchell ini gagal total dalam urusan menyampaikan ketakutan dan rasa ngeri ke penontonnya, “It Follows” malahan film horor yang tahu bagaimana caranya menakuti. Sayangnya cara tersebut tak terlalu mempan untuk pada akhirnya membuat saya takut, mungkin “It Follows” seperti tukang mie rebus pinggir jalan di daerah Ampera, cara membuat mienya dan penyajiannya sangat menarik tapi begitu sampai di lidah tidak enak. Dibuka dengan opening yang cukup brutal, “It Follows” nantinya bakal memperlihatkan Jay Height (Maika Monroe) yang selalu ketakutan karena dikejar oleh “sesuatu”, kemanapun dia lari dan dimanapun dia bersembunyi. Jika menonton “It Follows” berharap ditakut-takuti ala James Wan ataupun “Annabelle”, maka kalian sudah salah pilih film. “It Follows” tidak bergantung pada jump scare, bahkan “sesuatu” yang selalu mengikuti Jay tak melulu ditampilkan menakutkan atau punya muka rusak belepotan darah, karena Mitchell punya cara lain untuk menakuti kita.

“It Follows” lebih mengandalkan atmosfir mencekam dan membangun ketakutan secara perlahan mengikuti alur filmnya yang memang terasa merangkak. Walau pakemnya tampak seperti film-film horor remaja, Mitchell punya perlakuan yang berbeda dengan memberikan karakternya porsi lebih untuk berakting, tak hanya ditampilkan berteriak-teriak lalu mati mengenaskan dan film selesai. “It Follows” justru ingin membuat kita akrab dengan Jay dan kawan-kawan, tidak hanya tahu apa yang membuat mereka takut tapi juga peduli pada nasib mereka. Maika dan teman-temannya pun mampu menghadirkan performa akting yang baik, sesuatu yang jarang diperlihatkan oleh film horor sejenis. Tentu saja Mitchell tidak lupa jika dia sedang membuat film horor, porsinya terbagi efektif untuk bagian yang bertujuan mendekatkan kita dengan karakternya dan bagian yang berisi adegan-adegan Jay sedang dikejar-kejar oleh “sesuatu”. Terlepas hasil akhirnya yang tak seseram yang saya bayangkan, menurut saya Mitchell sudah melakukan hal yang benar dalam upayanya menciptakan rasa cekam yang menyenangkan.

Walaupun tidak seram, setidaknya “It Follows” sudah memberikan saya sebuah pengalaman menonton film horor yang mengasyikkan, berkat keterampilan dan kreatifitas Mitchell dalam usahanya membangun rasa takut yang tidak murahan. Termasuk ketika menyusupkan musik dahsyat hasil racikan Disasterpeace dalam tiap adegan, iringan tembang retro-synth (apapun namanya) dari Disasterpeace tak hanya nikmat di kuping tapi juga merangsang atmosfir jadi kian mencekam. Amat sangat membantu film dalam upayanya membangun rasa takut dan nuansa tidak nyaman, seketika saya jadi ikut paranoid dan merasa ada “sesuatu” berdiri di belakang siap untuk menarik rambut saya. Treatment Mitchell pada horornya, bagaimana dia merancang adegan seram dan penggunaan scoring minimalisnya yang didominasi bebunyian synthesizer tersebut, menjadikan “It Follows” terasa bagaikan film-film horor 80-an, membuat saya nostalgia layaknya menonton film horor buatan John Carpenter. Penyajian “It Follows” harus diakui jempolan, tapi sayangnya Mitchell belum benar-benar bisa menakuti saya dengan film horornya tersebut, walaupun sudah dijejali atmosfir dan scoring yang mencekam.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Talak 3
Review - Turbo Kid (...
Review - Munafik (20...