Review – Dead Snow 2: Red vs. Dead (2014)

written by Rangga Adithia on June 15, 2015 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Comedy and Horror with no comments

“Dead Snow” adalah salah-satu film zombie favorit saya, bisa dibilang masuk di dalam daftar film-film zombie terbaik barengan “Night of the Living Dead”, “Dead Alive” (Braindead), “Zombieland”, “28 Days Later”, “Shaun of the Dead”, “Dawn of the Dead” (versi Romero dan Zack Snyder), “Pontypool” dan “REC” (judulnya sih sebetulnya masih banyak). Tommy Wirkola tidak hanya menawarkan kebrutalan tapi juga memberikan penghormatan pada film zombie, pada George A. Romero, pada Peter Jackson, bahkan salah-satu karakternya memakai kaos “Braindead”. Tommy sudah melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh sutradara lain saat mereka menggarap film zombie, Tommy tak sekedar memiliki visi yang amat liar tapi dia juga tahu bagaimana cara mengesekusinya, agar hasilnya terlihat diluar batas kewajaran. Mau gila yah gila sekalian, itulah yang membedakan film ini dan film zombie lainnya, kegilaannya tidak tanggung-tanggung. Makanya ketika saya mendengar Kolonel Sanders…eh maksud saya Herzog bakalan kembali di sekuel, saya tentunya berharap Tommy akan melipatgandakan level ketidawarasannya di “Dead Snow 2: Red vs. Dead”. Sekuel sudah seharusnya punya skala yang lebih gila ketimbang film pertama, itulah yang dilakukan oleh “Dead Snow 2”.

“Dead Snow 2: Red vs. Dead” akan mempertemukan kita (lagi) dengan survivor satu-satunya dari film pertama, yaitu Martin (Vegar Hoel), yang sekarang punya semacam kekuatan supernatural untuk menghidupkan lagi yang sudah mati jadi zombie. Sedangkan Herzog sedang sibuk menyiapkan pasukan “orang mati”-nya untuk menyelesaikan sebuah misi yang sudah tertunda selama 70 tahun. Martin dengan dibantu kekuatan barunya dan beberapa teman (dan juga zombie) akan berusaha untuk menghentikan Herzog, pertempuran sengit pun tak terelakkan. Jangan membayangkan Tommy akan membuat film perang yang serius, formula tetap dia ambil dari film pertama, hanya saja kali ini dengan bujet yang tentunya lebih besar, skala produksi filmnya pun lebih besar, termasuk mempergunakan tank berjuluk “Tiger I” yang dulu pernah dipakai Jerman pada Perang Dunia ke-2. “Dead Snow 2” pun masih akan dipersenjatai dengan humor-humor “gelap” yang menggelitik sekaligus tidak bermoral, sama seperti yang dilakukan oleh Tommy di film pertama, meminta kita untuk menertawai orang yang ususnya amburadul atau pasukan Herzog yang seenaknya main bacok nenek yang sedang mandi.

Selera humor Tommy Wirkola memang brutal tanpa basa-basi, dari dua tentara zombie yang menarik usus orang untuk digunakan sebagai selang bensin, hingga meledakkan dua orang ibu yang sedang kabur mendorong kereta bayi. Mungkin mudah untuk Tommy menciptakan adegan-adegan brutal penuh darah muncrat, tapi membuatnya jadi layak untuk ditertawakan tampaknya butuh usaha yang lebih keras, tapi sutradara “Hansel and Gretel: Witch Hunters” tersebut berhasil melakukan keduanya, brutal sekaligus kocak. Tapi “Dead Snow 2” tampak punya tanggungan beban untuk terlihat lebih lucu dari film pertama, makanya seperti juga Herzog yang melakukan segala cara demi keberhasilan misinya, Tommy pun tak ingin filmnya gagal, cara apapun ditempuh supaya itu tak terjadi. Tak semua humor di “Dead Snow 2” itu membuahkan hasil yang sama, beberapa komedinya lucu setengah mati, sebagian sisanya terbagi antara biasa saja dan tak lucu. Well, setidaknya ketika Tommy tidak berhasil membuat saya tertawa, dia masih dapat membuat saya terhibur dengan adegan-adegan gory yang sedap bukan main.

Kebrutalan “Dead Snow 2” memang bagian yang paling menyenangkan, Tommy tahu bagaimana bermain-main dengan bergalon darah yang muncrat, muntahan menjijikkan, pecahan otak berceceran, potongan tubuh hancur berantakan, perut beserta isinya berhamburan dan kepala-kepala yang benyek. Untuk urusan bikin saya senang sekaligus kenyang dengan yang gory-gory, “Dead Snow 2” jelas jago. Sekali lagi Tommy Wirkola tak hanya mempunyai visi serta ide-ide yang liar tapi juga mampu mewujudkannya jadi kenyataan, termasuk menghadirkan tawuran zombie yang epik antara pasukan Herzog vs. pasukan Martin. Atraksi utama yang spektakuler tersebut nantinya terbukti berhasil membuat saya melupakan part-part di “Dead Snow 2” yang terasa agak membosankan. Tommy tidak gagal kok, karena bagian yang draggy dan tidak seru pada akhirnya tertutupi oleh adegan-adegan yang lebih menyenangkan, dan jumlahnya banyak. Jujur, saya lebih suka dengan film pertama, tapi bukan berarti “Dead Snow 2: Red vs. Dead” adalah film yang buruk, Tommy Wirkola sudah membuat sekuel yang dimasak dengan benar dan tepat, hanya saja saya masih merasakan filmnya masih kurang sedap di beberapa bagian.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - The Invitat...
Review - Warkop DKI ...
Review - Telaga Angk...