Review – A Girl Walks Home Alone at Night (2014)

written by Rangga Adithia on June 10, 2015 in American Film and CinemaTherapy and Horror with 2 comments

Setelah mengambil seekor kucing gendut, Arash (Arash Marandi) berjalan santai menuju mobilnya melewati sebuah jembatan, dengan latar pemandangan sungai kering yang dipenuhi tumpukan mayat bukannya air. Dari opening sequence-nya saja ‘A Girl Walks Home Alone at Night’ tampak sudah tak sabar ingin mengajak saya untuk bermain-main, film macam apa yang nantinya akan disodorkan oleh Ana Lily Amirpour? Adegan pembuka tersebut seperti ingin menunjukkan kalau film vampir milik Ana tak saja dibungkus dengan sinematografi serba indah, tapi juga bakalan dipenuhi adegan-adegan simbolik yang penjelasannya bercabang-cabang. Well, ‘A Girl Walks Home Alone at Night’ memang film vampir, tapi horor yang akan ditawarkan oleh Ana jelas bukan berasal dari gambar-gambar seram. Ana punya caranya sendiri untuk mengartikan “apa itu horor” dan menjabarkan kata “menakutkan” dengan gaya yang tak biasa saya lihat di film-film vampir lain. Melihat sosok cewek berjubah gelap berdiri diam di tengah jalan, mungkin tidak akan terasa menakutkan, tapi tunggulah hingga “The Girl” (sebutan untuk cewek berjubah) mengikuti korbannya dan setelah itu memangsa korbannya.

Ber-setting di kota berjuluk “Bad City”—kelakuan penghuninya yang membuang mayat sembarangan ternyata memang sesuai dengan nama kotanya—film yang diadaptasi dari novel grafis berjudul sama ini begitu mahir mempermainkan kita. Permainan penuh misteri yang nantinya akan mengajak kita menebak-nebak apa yang akan dilakukan oleh The Girl sepanjang film diputar, mengasyikkan bahkan bisa dibilang lebih asyik ketimbang adegan-adegan horornya. Semisterius gerak-geriknya ketika menghampiri para korbannya, vampir perempuan berkerudung panjang ini pun selalu melakukan hal-hal yang tak pernah saya sangka-sangka, motif dan niatnya sulit untuk ditebak. Well, setiap gambar yang dipertontonkan oleh Ana Lily di ‘A Girl Walks Home Alone at Night’ memang tidak selalu bakalan mudah untuk dimengerti, satu gambar bisa diartikan kemana-mana, tapi maksud Ana Lily membuat filmnya seperti itu bukan untuk membuat penontonnya untuk jadi bingung. Ana Lily sepertinya ingin memberikan kita kebebasan untuk dapat mengartikan sendiri gambar-gambar simbolik tersebut, tanpa dibuat jelas terang menderang, Ana Lily justru membiarkan kita punya kesimpulan sendiri.

Tak semua adegan di ‘A Girl Walks Home Alone at Night’ terkesan simbolik atau terasa ambigu, Ana Lily begitu jelas dalam menghadirkan adegan-adegan ketika The Girl memangsa korbannya, berdarah-darah tapi tak berlebihan. Takarannya pas dalam upayanya menyampaikan rasa mencekam dalam filmnya, Ana Lily tak perlu banyak menjejalkan gambar-gambar menyeramkan, karena kehadiran dan penampakan The Girl sudah cukup untuk memberikan film suasana dingin serta rasa cekam yang luar biasa. Tapi jangan berharap Ana Lily akan berusaha nakut-nakuti sampai kita berteriak kencang, ‘A Girl Walks Home Alone at Night’ bukan horor yang mengobral jump scare atau gambar menyeramkan, area bermainnya hanya di seputar bagaimana membuat kita merasa tidak nyaman, tegang dan tak tenang. Tujuan Ana Lily memang bukan untuk membuat saya menjerit takut, tapi menginginkan saya bisa merasakan mood dan atmosfir yang diciptakan Ana Lily di filmnya. ‘A Girl Walks Home Alone at Night’ akan dipenuhi dengan momen itu, momen-momen dimana kita “dipaksa” untuk ikut merasakan, seolah-olah film ini ingin berbagi apa yang sedang dirasakannya, apa yang dirasakan The Girl.

‘A Girl Walks Home Alone at Night’ memang adalah soal rasa, Ana Lily ingin kita ikut merasakan kegetiran, kesedihan dan ketakutan, tapi dengan cara yang tidak berlebihan. Akan ada adegan yang memperlihatkan The Girl berdiam lama dalam bathtub, begitu juga ketika Ana Lily memperlihatkan dia sedang asyik berdansa, lagi-lagi adegan sederhana yang sebetulnya penuh arti, tapi setidaknya saya bisa menyimpulkan sendiri apa yang dia rasakan dari raut wajahnya ataupun gerak-gerik tubuhnya, walaupun tanpa dibubuhkan dialog sedikitpun. Sheila Vand tak saja mampu bertransformasi menjadi The Girl yang mengerikan dalam balutan jubah yang membuatnya tampak punya sayap seperti kelelawar, tapi juga berkat aktingnya dia bisa menyampaikan apa yang dia rasakan, sedih ataupun sedang jatuh cinta. Yup, ‘A Girl Walks Home Alone at Night’ tanpa saya sangka-sangka ternyata juga dibalut dengan keromantisan, bukan romantis ala Bella Swan dan Edward Cullen. Ana Lily lagi-lagi konsisten dalam presentasi filmnya, scene yang melibatkan seorang vampir dan manusia sedang jatuh cinta pun disajikan penuh simbol dan terbingkai sederhana namun indah luar biasa. Romantis ala Ana Lily tak banyak bicara, tak ada puisi, tak ada dialog cinta, seperti juga horornya yang tidak pernah basa-basi. ‘A Girl Walks Home Alone at Night’ mungkin tidak masuk kategori horor yang seram, tapi persetan dengan seram, karena Ana Lily berhasil menyajikan tontonan horor yang luar biasa indah, termasuk ketika bercerita dan bercinta.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Ghost Diary...
Review - Raksasa Dar...
Review - The Invitat...
Review - Rumah Malai...