Review – The Taking of Deborah Logan (2014)

written by Rangga Adithia on May 27, 2015 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 3 comments

Sebelum saya menulis panjang lebar tentang “The Taking of Deborah Logan”, ada rahasia yang mau saya bagi, kalau saya adalah penyuka film-film found footage, khususnya yang berbau horor. Makanya saat kebanyakan orang tampaknya lelah dengan film bergaya ala-ala dokumenter ini, saya justru antusias setiap kali ada film berlabel found footage atau mokumenter. Saya sudah terlanjur suka ditakuti dengan presentasinya yang memakai kamera bersudut pandang orang pertama, walau tak jarang dibuat kecewa dengan film-film yang hanya memanfaatkannya sebagai gimmick belaka—contohnya bisa dilihat di “The Pyramid” (2014). Tidak semua found footage itu buruk, sayangnya saya memang lebih “jodoh” bertemu dengan film-film yang berantakan ketimbang yang betul-betul diesekusi dengan benar, punya niat dan kreatif. “Tes Nyali” (2015) dapat dijadikan sebagai contoh film dengan penggunaan found footage paling buruk yang pernah saya tonton di bioskop, membuat saya merasa rugi mengeluarkan uang 25 ribu. Tapi saya tidak begitu saja menghindari film-film found footage, film-film seperti “The Taking of Deborah Logan” inilah yang jadi alasan kuat kenapa saya tidak kapok.

“The Taking of Deborah Logan” adalah contoh ketika found footage diperlakukan dengan baik, dan bukan hanya sebagai cara instant untuk bikin film horor murah, tapi jadinya malah murahan. Dengan konsep yang matang dan esekusi yang tidak saja benar tapi juga kreatif, film found footage toh bisa juga terlihat menarik dan tak hanya bawa pulang pusing doang karena efek kamera goyang-goyang. Debut penyutradaraan dari Adam Robitel ini bisa dikatakan mengembalikan martabat film-film found footage, yang akhir-akhir ini dipermalukan oleh mereka yang tak tahu bagaimana cara membuat film found footage yang layak. Didukung dengan skrip yang cukup solid hasil karangan Adam dibantu oleh Gavin Heffernan, “The Taking of Deborah Logan” yang terkesan klise dan terlihat sama saja dengan film-film found footage sebelumnya, kemudian mampu membuktikan film ini memang bukan film horor found footage sembarangan. “The Taking of Deborah Logan” ini bisa dibilang film yang selama ini saya cari, film horor found footage yang tidak hanya layak untuk disebut seram tapi juga tanpa disangka ada ceritanya.

Kepedulian “The Taking of Deborah Logan” pada cerita inilah yang membuat film jadi istimewa, karena jarang-jarang film horor found footage ataupun horor pada umumnya mau menyisihkan durasinya untuk bercerita. Apalagi film ini memiliki konsep yang menarik untuk diceritakan, amat disayangkan jika konsep tersebut hanya jadi tempelan saja hingga film selesai. Untungnya, “The Taking of Deborah Logan” punya kemauan untuk membagi porsi filmnya antara menakuti penonton dan menyampaikan kisahnya. Kisah yang nantinya tak saja jadi penopang film ini ketika tiba waktunya untuk menakut-nakuti tapi juga memberikan film hawa tak menyenangkan. Adegan-adegan kerasukan yang nantinya diperlihatkan memang jadi atraksi yang menakutkan dari “The Taking of Deborah Logan”, tapi menurut saya bagian paling mengerikan dari film ini justru datang dari cerita-cerita yang berfokus pada sebuah ritual pemujaan iblis. Sebetulnya hanya mendengar kisah-kisah ritual demonic tersebut sudah sanggup membuat saya merinding, tapi film ini kemudian mampu memanfaatkan cerita seram tersebut sebagai bahan-bahan utama untuk menciptakan adegan-adegan yang creepy sekaligus disturbing.

Seperti kebanyakan film found footage, “The Taking of Deborah Logan” juga ingin kita untuk bisa bersabar, tapi percayalah kesabaran tersebut nantinya seimbang dengan apa yang kita dapat. Karena horor yang coba dibangun oleh film ini tidak saja berasal dari visual-visual creepy-nya tapi juga kisah yang perlahan dijejalkan pada kita di sepanjang film. Sambil nantinya menceritakan “dongeng” seramnya, “The Taking of Deborah Logan” pun tak lupa melepas satu-persatu adegan horor yang sudah disiapkan, dari yang hanya menampakkan gambar-gambar rekaman ala “Paranormal Activity” dengan segala kelakuan aneh dan creepy si nenek (Jill Larson), hingga nantinya “The Taking of Deborah Logan” sanggup membuat saya beberapa kali berhenti bernafas lewat adegan-adegan mengerikan dengan level disturbing yang taik banget. “The Taking of Deborah Logan” bukanlah film yang tiap lima menit mengobral jump scare tapi film horor yang mampu mengesekusi dengan efektif adegan seramnya yang jumlahnya tidak banyak itu. Meskipun tak banyak, film ini tetap berhasil membuat saya berteriak “Anjing! Anjing! Anjing!” setiap kali adegan seramnya dimunculkan. Dengan performa akting mengerikan dari Jill Larson, “The Taking of Deborah Logan” tak hanya sukses menghadirkan adegan-adegan creepy dan disturbing, tapi juga hadirkan senyum lebar di wajah saya karena akhirnya menemukan film horor found footage yang beneran seram.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - 3 Srikandi
Review - Telaga Angk...
Review - Before I Wa...