Review – LDR (2015)

written by Rangga Adithia on May 16, 2015 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia and Romance with no comments

Nonton film horor yang dicari pasti seramnya, nonton film komedi yang dicari adalah lucunya, nonton film action kita pasti akan mencari serunya, lain lagi saat berbicara film drama apalagi yang bawa-bawa tema cinta, yang terkadang untuk menontonnya tak hanya mengandalkan mata tapi juga melibatkan hati, makanya soal rasa itu amat penting di film macam “LDR” ini. Saya percaya seorang Guntur Soeharjanto bisa memberikan rasa pada filmnya, di “Assalamualaikum Beijing” dia membuktikan itu. Tak hanya cantik dari tampilan luarnya saja dengan setting luar negeri, tapi kita bisa merasakan hati kita juga ikut menonton. Guntur dapat menyampaikan rasa tersebut ke penonton dengan baik, hingga akhirnya saya tak saja menikmati cerita tapi juga bisa ikut merasakan apa yang karakter-karakter di film rasakan. Saya mencari itu di film bertema cinta-cintaan, termasuk juga di “LDR”, saya mau merasakan apa yang nantinya Carrie (Mentari De Marelle) atau karakter lainnya rasakan, entah itu merasakan sedih, bahagia, marah, senang dan kecewa atau bahkan ikut merasakan (kembali) rasanya jatuh cinta.

Rasa tersebut yang nantinya berperan penting membuat kita terkoneksi dengan karakternya, tanpa itu “LDR” hanyalah film jalan-jalan biasa yang mengajak saya melihat-lihat Italia tapi kemudian pulang tidak membawa apa-apa. Mungkin saya terlalu berharap “LDR” bisa melakukan hal yang sama seperti “Assalamualaikum Beijing”, film cinta yang tak melulu ingin kelihatan romantis tapi berusaha untuk menciptakan rasa menyenangkan yang kemudian membuat saya bersedia ikhlas menonton sampai selesai, sekaligus pada akhirnya dibuat peduli dengan masing-masing karakternya tanpa dpaksa. Bagian pertama dari “LDR” (yup, film terbagi jadi dua part) akan mengajak kita berkenalan dengan sosok cewek unik bernama Carrie, dimainkan oleh Mentari De Marelle—orangnya mirip sama Chelsea Islan ternyata—yang ceritanya sedang berlibur ke Verona, Italia. Untuk seorang Carrie yang mengagumi kisah Romeo and Juliet, Verona adalah destinasi impiannya dari sejak kecil. Berharap bertemu sang Romeo, takdir akhirnya mempertemukannya dengan Demas (Verrell Bramasta), seorang cowok yang (ceritanya) sedang galau berat karena putus cinta. Carrie yang awalnya hanya berniat membantu Demas balikan lagi dengan pacarnya, justru diam-diam menyimpan perasaan lain.

Mungkin “LDR” seharusnya tak perlu dibagi jadi dua film terpisah, kesannya jadi memaksakan cerita untuk meregang lebih panjang tapi tampak tak berisi. Kasus yang sama dulu pernah terjadi pada “Perahu Kertas”, alih-alih menghadirkan dua film yang menarik, film yang dibintangi Maudy Ayunda ini justru membosankan. Terbagi jadi dua, film akhirnya dipaksa untuk dijejalkan adegan-adegan yang tak perlu dan penuh basa-basi agar nantinya bisa mengisi slot yang kosong. “LDR” ini seperti mengulang kesalahan yang sama, bagian pertama justru tampak dengan asyik mengulur-ngulur waktu penonton. Well, ada bagusnya jika durasi tersebut dipakai untuk mengencangkan ikatan chemistry antara Mentari dan Verrell, tapi kesempatan membangun chemistry yang memang sangat diperlukan film sejenis ini malah disia-siakan. “LDR” punya sekitar 30-40 menit yang menyenangkan, itu berarti setengah sisa durasinya bisa dikatakan hanya buang-buang waktu. Saya masih bisa menikmati paruh awalnya, disana terlihat potensi “LDR” untuk dapat menghadirkan film cinta yang saya harapkan. Ada juga usaha untuk membangun kecocokan antara Mentari dan Verrell, sampai disini saya masih terhibur.

Jika di paruh pertama saya masih bisa terhibur melihat kehebohan dan kelucuan Mentari saat berusaha membantu Verrell balikan lagi dengan kekasihnya, paruh keduanya justru membuat saya setengah tertidur. Rasa menyenangkan tiba-tiba hilang dari “LDR” begitu cerita mulai bergerak memasuki babak berikutnya, saat konflik sudah bersiap menghadang kisah Carrie yang tadinya adem-ayem-hura-hura-suka-ria. Sayangnya konflik tersebut dihadirkan setengah-setengah, karena tampaknya semua disimpan untuk film kedua, jadi mau tak mau film pertama ini akan tampak seperti sebuah pemanasan yang serba tanggung. Jika rasa senang di paruh awal bisa dengan baik tersampaikan, berkat akting Mentari yang tampak apa-adanya, luwes dan mencuri perhatian. Di paruh kedua saya seperti tidak bisa merasakan apa-apa, padahal di bagian inilah film sedang berupaya mengajak dan mengaduk-ngaduk emosi penonton, ada adegan Mentari yang kecewa dan nanti pun air mata kita akan dipancing oleh adegan yang dimaksudkan untuk menjadi sedih nan mengharukan. Sayangnya saya tidak bisa ikut merasakan, saya tak lagi terkoneksi dengan karakternya, kita dipaksa untuk ikut kecewa dan haru secara tiba-tiba. “LDR” sendiri lebih banyak menebar adegan “main-main” dengan latar indah dan konflik nanggung, kemudian dengan mudahnya memaksa saya dapat terkoneksi dengan karakternya (lagi) bermodal proses yang serba instant.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Iblis (2016...
Review - Indonesia K...
Review - Blair Witch...