Review – I Spit on Your Grave 2

written by Rangga Adithia on May 7, 2015 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with no comments

“I Spit on Your Grave” a.k.a. “Day of the Woman” (1978) memang seharusnya tak perlu di-remake, terbukti hasil daur ulangnya hanya jadi film yang dilupakan dan dibiarkan berdebu di pojokan. Walaupun berisi adegan-adegan sadis yang diakui lebih berdarah-darah dibanding versi aslinya, versi remake tetaplah film kosong tanpa rasa yang hanya ingin mengeksploitasi adegan pemerkosaan dan melebih-lebihkan plot balas dendamnya. Bagaimanapun kurangnya sisi teknis dari versi Camille Keaton, pada akhirnya “I Spit on Your Grave” yang asli akan lebih diingat karena dampak yang ditimbulkan jauh lebih dahsyat, jauh lebih pedih serta jauh lebih sakit. Saya kemudian tidak habis pikir kenapa remake tersebut harus punya sekuel, jika saya jadi Meir Zarchi mungkin saya sudah menampar wajah Steven R. Monroe, lalu menyetrum “bijinya” sampai dia mau membatalkan untuk membuat sekuel “I Spit on Your Grave”. Jika film pertama seperti meludahi versi original, maka kelakuan Steven membuat sekuel sama saja mengencingi film aslinya. Oh, lebih gilanya lagi akan ada film ketiga “I Spit on Your Grave: Vengeance is Mine”, yang kabarnya akan melanjutkan cerita dari film pertama dan mengajak kembali Sarah Butler sebagai Jennifer Hills.

“I Spit on Your Grave 2” benar-benar tak menawarkan sesuatu yang baru, kecuali nantinya posisi Sarah Butler akan digantikan Jemma Dallender. Jemma nantinya “dipaksa” untuk mengulang penderitaan yang sudah dirasakan oleh Sarah di film pertama. Steven R. Monroe tampaknya hanya berambisi untuk membuat sekuel yang lebih sadis, tentunya dengan menjejalkan adegan-adegan penyiksaan yang tidak saja lebih memilukan tapi juga harus diakui cukup kreatif. Belajar dari film pertama, Jemma seakan lebih tahu bagaimana cara menyiksa orang, sepintar dia membuat perangkap tikus di apartemennya. Ketimbang predesesornya, saya tak bisa pungkiri jika adegan-adegan penyiksaan yang dilakukan Jemma lebih dapat membuat saya terhibur. Saya memang menikmati tiap kali Jemma mulai beraksi, sekedar menyayat-nyayat kulit perut dengan pisau karatan ataupun seenaknya memasukkan kepala korbannya ke toilet yang penuh dengan luberan taik orang. Yah, setiap kali Jemma melakukan aksi balas dendamnya saya pun ikut gembira saja sambil mengamini dengan “mampus aja lo!” atau “makan tuh taik!”.

Karena ada adegan orang dicemplungin ke toilet penuh taik, saya sarankan tidak nonton “I Spit on Your Grave 2” sambil makan malam—cemilan gorengan boleh. Menikmati Jemma melampiaskan nafsu balas dendamnya memang mengasyikan, tapi untuk sampai ke babak balas dendam tersebut saya harus lebih dulu lewati babak tidak mengenakan, yaitu melihat Jemma diperkosa dengan biadab. Seperti saya singgung di review “I Spit on Your Grave” baik itu versi remake atau original, sesakit apapun sebuah film menampilkan kesadisannya saya masih bisa senyum lebar, tapi tidak akan pernah sanggup kalau harus melihat adegan pemerkosaan. Paruh pertama “I Spit on Your Grave 2” adalah siksaan buat saya, ketika dipaksa menonton Jemma yang tidak berdaya harus dikotori kesuciannya oleh pria-pria bajingan bertitit kecil. Steven R. Monroe memang benar-benar jahanam, adegan pemerkosaannya ditampilkan keji tiada ampun, alhasil dampaknya langsung saja terasa, saya tidak saja dibuat punya rasa iba dengan apa yang menimpa Jemma, tapi juga ingin para bajingan itu mati dengan potongan biji dan tititnya disumpel ke mulutnya. Untuk urusan bikin emosi terbakar, Steven jelas sudah berhasil.

Anehnya rasa iba terhadap Jemma yang terkumpul di paruh pertama lama-lama kian menipis, karena di paruh kedua “I Spit on Your Grave 2” hanya peduli untuk membuat saya asyik melihat sang protagonis menjelma jadi tukang siksa. Steven seakan lupa jika Jemma juga manusia, tapi ambisinya kemudian membuat Jemma bagaikan robot pembunuh tak punya hati yang diprogram untuk balas dendam. Mungkin film ini memang tak butuh simpati, segetir apapun, sepedih apapun dan sesakit apapun kejadian yang menimpa Jemma, Steven menghadirkan itu hanya sebagai alat provokasi instant untuk membuat saya iba sekaligus marah. Sayang, kepedulian saya terhadap Jemma kian pudar karena toh si pembuat film hanya peduli bermain siksa-siksaan sampai saya bosan ingin film ini cepat selesai. Saya memang menikmati hadirnya berbagai adegan penyiksaan yang dilakukan oleh Jemma, tapi teriakan “Siksa! Siksa! Siksa!” lama kelamaan berubah menjadi sepi.  Saya bosan melihat penyiksaannya, saya bosan melihat Jemma yang teriak-teriak seperti vokalis band black metal yang gagal ikut audisi, saya bosan dengan “I Spit on Your Grave 2” yang hanya ingin kelihatan sadis saja. Well, gabungan dua film “I Spit on Your Grave” tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan versi asli yang tak pernah mau saya tonton ulang lagi itu.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Cipali KM 1...
Review - Ratu Ilmu H...
Review - Lukisan Ber...
Review - Rumah Malai...