Review – Cheap Thrills (2014)

written by Rangga Adithia on May 9, 2015 in CinemaTherapy and Comedy and Hollywood and Thriller with no comments

Kadang yang namanya “pesan moral” di film memang tidak perlu diperlihatkan secara jelas ke penontonnya, film semestinya bertanggung jawab untuk bercerita tanpa harus (merasa) terbebani untuk menyuapi kita juga dengan “pesan moral”. Film seharusnya membiarkan penonton jadi cerdas untuk mencari pesan-pesan tersebut—membiarkan kita bebas memilih apa yang mau kita serap dari sebuah film. Film yang baik adalah film yang peduli untuk tak menjadikan penontonnya bodoh dan malas, membiarkan kita memetik pelajaran dari sebuah film berdasar inisiatif sendiri, bukan dipaksa disodor-sodorkan di depan mata. Saya tipe orang yang percaya apapun filmnya, pasti punya pesan yang mau disampaikan, tinggal terserah pada penontonnya apakah mau repot mencari atau hanya ingin nikmati film sebagai sebuah hiburan saja. Saya ngawur ngomongin “pesan moral” karena toh film macam “Cheap Thrills” yang di permukaan terlihat begitu menjijikan ini bisa memberikan saya lebih banyak “pesan moral” ketimbang film-film bertema relijius yang mengklaim membawa segunung pesan kebajikan.

“Cheap Thrills” bisa jadi gambaran kalau mencari uang itu memang susah minta ampun, apalagi demi menghidupi keluarganya. Saya tidak pernah menduga kalau film macam “Cheap Thrills” yang mempertontonkan adegan orang berlomba adu cepat berak ini, bisa membuat saya lebih bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang. Saya bersyukur tidak harus jadi seperti Craig yang harus berdarah-darah-babak-belur (hanya) untuk memperoleh uang. “Cheap Thrills” sebetulnya adalah metafora dari kerasnya kehidupan, hanya saja difilmkan nyeleneh seperti film sampah yang tidak layak ditonton. “God can be also found in the dark” kalau kata film ‘Metalhead’ (Málmhaus), pesan moral pun bisa ditemukan dari sebuah film terkesan tak bermoral seperti “Cheap Thrills”. Film yang tidak bermoral tapi pada akhirnya membuat saya berpikir serius tentang hidup, melihat Craig susah payah demi bisa dapat uang untuk sewa rumah menjadi semacam tamparan. Tak pernah menyangka “Cheap Thrills” yang tampak sakit jiwa justru menyadarkan saya untuk lebih menghargai dan menikmati apa yang saya miliki sekarang.

“Cheap Thrills” dengan bungkus yang menjijikkan ternyata lebih mudah diserap pesan-pesan kebajikannya ketimbang ketika saya mendengarkan khutbah Jum’at. Craig dengan tampilannya yang berantakan mampu mengajarkan arti kehidupan yang sebenarnya—jika kita menginginkan sesuatu, kita harus berjuang untuk itu, berjuang untuk mendapatkannya. Tak ada yang namanya cara instant, apa yang didapat dengan mudah biasanya akan mudah juga hilangnya. Uangnya sudah ada di depan mata, tapi untuk bisa mengantongi dan membawanya pulang ke rumah tak semudah yang Craig bayangkan, karena dia harus melalui permainan iseng-isengan ciptaan Colin (David Koechner) dan Violet (Sara Paxton), belum lagi dia harus bersaing dengan teman lamanya, Vince (Ethan Embry). Dari hanya hadiah 50 dolar untuk melihat siapa yang lebih cepat bisa habiskan satu gelas minuman, atau hadiah 500 dolar jika Craig berani menonjok penjaga bar, sampai nantinya Colin memberi hadiah uang yang lebih banyak tapi tentu saja permainannya pun semakin sinting dan tak masuk di akal. Dari hanya tantangan yang terkesan seru-seruan sampai nantinya “Cheap Thrills” tidak akan lagi terlihat lucu.

“Cheap Thrills” hadirkan dua tone yang berbeda, pertama kita akan diajak untuk konyol-konyolan bareng Craig, Vince, Colin dan Violet, tapi siapa sangka film ini akan jadi sangat serius begitu melompat ke paruh keduanya. Paruh awal tampak main-main, seperti tantangan Colin yang awalnya terkesan lucu-lucuan, film pun kemudian membiarkan saya untuk tertawa melihat aksi Craig dan Vince bersaing demi uang. “Cheap Thrills” seperti menantang kita sampai sejauh mana kita akan sanggup menonton, layaknya Craig dan Vince yang ditantang sampai sejauh apa mereka mampu melayani kemauan pasangan suami-istri sakit jiwa. Karena saya sendiri hampir tidak sanggup melihat salah-satu tantangannya yang menjijikkan, itu pun karena dengan bodohnya saya menonton “Cheap Thrills” sambil makan. “Cheap Thrills” tahu bagaimana cara bermain dari level satu ke level berikutnya, dari level yang membuat saya berpikir ini hanya film dengan unsur black comedy “murahan” berisi tantangan jorok watdefak, hingga tanpa sadar saya sudah ada di level terngehe dimana saya dibungkam tak bisa tertawa. “Cheap Thrills” tahu bagaimana membuat filmnya jadi sangat-sangat bedebah sekaligus “menyentuh” ketika tiba saatnya film ini menjelma jadi sajian thriller yang lebih serius. Anjing, saya tidak menyangka kalau “Cheap Thrills” bakal sebagus ini, bangsat!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Aach... Aku...
Review - Some Kind o...
Review - Before I Wa...