Review – Filosofi Kopi (2015)

written by Rangga Adithia on April 9, 2015 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with no comments

Saya memang bukan peminum kopi—tidak tahu apa-apa soal dunia perkopian—tapi bukan berarti saya jadi tidak bisa menikmati “Filosofi Kopi”, karena tak bisa mengerti enaknya minum kopi. Untungnya, Angga Dwimas Sasongko tahu benar bagaimana menyampaikan rasa enak kopi itu. Ketika Ben menyeruput kopi atau saat El menghirup aroma kopi, indera pengecap saya tiba-tiba seperti ikut basah oleh kopi dan merasakan enaknya kopi pada tegukan pertamanya. Angga boleh dibilang memang jago urusan menyampaikan rasa, bukan saja soal rasa kopi tapi juga menyampaikan feel dan emosi yang dia ingin penonton ikut rasakan ketika menonton film-filmnya, termasuk di “Filosofi Kopi”. Buat saya film jadi istimewa bukan saja karena kita ingat banyak adegan di film itu atau menemukan sesuatu yang baru dan kita bisa belajar banyak dari filmnya. Film juga akan jadi istimewa ketika film itu tak hanya memberikan pengalaman sinematik yang mengasyikkan tetapi juga memberikan memori indah yang bisa kita balik rasakan setiap waktu, walau sudah berhari-hari selepas menonton. Rasa yang membuat kita ingin balik dan menonton ulang, hanya untuk bisa kembali merasakan “rasa” itu lagi.

Seperti secangkir kopi enak, peminumnya pasti ingin kembali ke kedai yang jual kopi enak itu, ingin merasakan keenakannya lagi. Keistimewaan “Filosofi Kopi” adalah tentang rasa, memang tidak sesempurna itu, namun racikan Angga sudah sangat pas sampai pada akhirnya saya terbuai oleh rasa di film ini. Pada saat film Indonesia kebanyakan melupakan rasa karena (mungkin) bikinnya pakai obsesi, “Filosofi Kopi” yang dibuat pakai cinta hadir bertabur rasa. Sekali lagi saya bukan peminum kopi, tapi toh “Filosofi Kopi” sejak awal bukan film yang dibuat hanya untuk mereka para penikmat kopi, “Filosofi Kopi” menawarkan kenikmatan lain. Jika kopi yang enak katanya akan menemukan penikmatnya, menurut Ben yang di film ini diperankan oleh Chicco Jerikho, begitupula dengan film bagus pastinya akan menemukan penontonnya. “Filosofi Kopi” tak sekedar bagus dalam menjual “bualan” arti filosofis dalam setiap jenis kopi, tapi bagus juga dalam menjabarkan ceritanya yang menyorot hubungan antara manusia dengan manusia lainnya dan kopi sebagai perantaranya. Kopi menyatukan Jody (Rio Dewanto) dan Ben, kopi juga yang nantinya menyuburkan benih-benih konflik antara mereka. Kopi tidak sekedar tempelan keren-kerenan di judulnya, tapi meresap ke dalam cerita.

Diadaptasi dari novel pertama karangan Dewi Lestari, “Filosofi Kopi” tidak akan se-ngejelimet ‘Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh’ (2014). Memang ada kata ‘filosofi’ terpampang di judulnya, tapi bukan untuk jadi momok menakutkan nantinya film akan sulit dicerna dan dimengerti. Angga Dwimas Sasongko sudah menyederhanakan semuanya, kita tinggal menghirup dan meneguk setiap scene yang disajikan, menikmati film tanpa mumet memikirkan macam-macam. Jenny Jusuf tahu bagaimana menuliskan cerita yang tak muluk-muluk, fokus dan jelas mau dibawa kemana arah ceritanya, sekaligus nantinya memberikan karakter-karakternya tak hanya dialog berkualitas tetapi juga membubuhkan background yang cukup mendetail pada tiap karakter, khususnya karakter sentral. Skrip yang sudah solid tersebut kemudian diterjemahkan dengan baik oleh Angga, sambil ia juga memberi racikan rasa dalam setiap adegan serta nyawa ke masing-masing karakter di “Filosofi Kopi”. Layaknya kekompakan Jody dan Ben yang bersahabat sudah lama, skrip yang ditulis Jenny pun tampaknya kompak dengan visi Angga tentang bagaimana ia ingin memvisualkan “Filosofi Kopi”.

Angga Dwimas Sasongko adalah pencerita yang baik, setelah “Cahaya dari Timur: Beta Maluku” (2014) dan “Hari Untuk Amanda” (2010), kehandalannya bercerita kembali dibuktikan di “Filosofi Kopi”. 117 menit durasi film pun jadi tidak terasa karena saya begitu menikmati presentasi cerita yang disampaikan oleh Angga di “Filosofi Kopi”. Film ini tak hanya sedap ditonton mata, tapi juga meresap nikmat dirasakan oleh hati, racikan Angga tidak hanya membuat filmnya enak ditonton, tetapi mengajak saya ikut terhubung dengan filmnya. Memang tak langsung klik, ibarat minum kopi, paruh awal di “Filosofi Kopi” adalah saat dimana kita diajak untuk menghirup aromanya, kita diberi waktu untuk mengenal karakternya dan dunia ciptaan Angga. Paruh kedua adalah waktunya kita merasakan tegukan itu, tegukan penuh rasa ketika “Filosofi Kopi” tidak hanya mulai menambahkan satu demi satu konfliknya tapi juga mengaduk-aduk emosi penonton. Di paruh kedua inilah saya menemukan “klik” tersebut, dimana saya merasa benar-benar punya ikatan emosional dengan film yang sedang ditonton. Didukung tata produksi dan desain artistik yang bagus, rasa “Filosofi Kopi” semakin kuat karena tidak hanya akting Rio Dewanto dan Chicco Jerikho yang ciamik, tapi ketika disatukan dalam satu frame, mereka berdua seperti betul-betul sudah bersahabat lama, chemistry yang manisnya bisa dibilang pas. Well, “Filosofi Kopi” memang istimewa.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Aach... Aku...
Review - Cipali KM 1...
Review - Ada Apa Den...