Review – Love and Faith (2015)

written by Rangga Adithia on March 11, 2015 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with no comments

Menengok lagi jejak rekam Benni Setiawan, saya bisa dibilang bukan orang yang menyukai film-filmnya, baik itu yang dia sutradarai sendiri ataupun ketika hanya berstatus sebagai penulis skenario saja, seperti “Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap”. Beberapa filmnya pernah saya review di blog ini, termasuk KJKK barusan, begitu juga dengan “Madre”, “Bangun Lagi Dong Lupus” dan “Masih Bukan Cinta Biasa”, yang kesemuanya sama-sama saya beri rating kurang dari tiga bintang. Saya juga tidak menyukai “Laskar Pelangi 2: Edensor”, yang dari judulnya pun sudah agak-agak ngawur. Satu-satunya yang bisa saya puji dan acungi jempol adalah “3 Hati Dua Dunia Satu Cinta”, yang pada ajang penghargaan Festival Film Indonesia di tahun 2010 sukses memborong piala citra, termasuk untuk kategori Sutradara dan Film Terbaik. Mengajak kembali “anak kesayangannya” yakni Laura Basuki untuk main di “Love and Faith”, Benni kali ini mendapatkan perhatian saya, tidak saja karena disana ada si cantik Laura tapi juga karena Benni akhirnya membuat film yang lebih baik, meskipun masih memiliki kekurangan disana-sini tapi saya setidaknya memperlihatkan wajah enak dilihat begitu keluar bioskop.

Terinspirasi buku “Karmaka Suryaudaya: Tidak Ada yang Tidak Bisa” karangan Dahlan Iskan dan didasarkan pada kisah nyata pendiri Bank NISP (Nilai Inti Sari Penyimpan) yang sekarang menjadi Bank OCBC NISP, “Love and Faith” terbilang mampu membuat saya duduk tenang, manis dan tersenyum selama 100 menitan durasinya. Sesuatu yang jarang saya alami ketika menonton film-film arahannya Benni Setiawan, yang biasanya di pertengahan film pun sudah sukses membuat saya termanyun-manyun karena jenuh. Lain cerita dengan “Love and Faith” yang separuh perjalanannya bisa dibilang tanpa hambatan, mulus, termasuk fokusnya menceritakan keluarga Karmaka Surjaudaja alias Kwee Tjie Hoei di masa-masa kesusahan, melewati jaman perang sampai nantinya Hoei harus mengalah tidak melanjutkan kuliah karena Ayahnya hanya sanggup membiayai kuliah satu anak saja. Untuk membantu biaya kuliah jurusan kedokteran sang adik, Hoei berkerja menjadi guru olahraga dan punya sambilan mereparasi peralatan eletronik yang rusak bersama temannya. Di sekolah tempat Hoei mengajar inilah, dia akhirnya bertemu jodohnya, murid perempuannya sendiri bernama Lim Kwei Ing.

Setelah melewati babak perkenalan, bagaimana kita diperlihatkan karakter Hoei yang gigih, barulah “Love and Faith” mengajak kita ke babak selanjutnya dimana kita dipertemukan oleh konflik demi konflik yang seakan tak ada habisnya. Well, sehabis Kwee Tjie Hoei dan Lim Kwei Ing menikah, Hoei diberi tanggung jawab besar untuk menjaga Bank milik mertuanya yang bisa dibilang mengalami masa kritis, tidak saja diambang kebangkrutan tapi juga dipimpin oleh dewan direksi yang kerjanya hanya memperkaya diri sendiri tanpa peduli dengan nasib Bank. Benni Setiawan memang mampu memberikan film ini konflik namun saat bicara soal penyelesaiannya, solusi yang dihadirkan hampir tak terlihat karena tertutup oleh tumpukan konflik, seperti tumpukan berkas-berkas di meja Rio Dewanto itu yang isinya angka-angka kerugian Bank. Di cerita manapun, di film apapun, yang namanya konflik memang diperlukan, “Love and Faith” pun perlu konflik tak saja berfungsi sebagai penguat cerita tapi juga mempererat tali chemistry antara kita penontonnya dengan film yang ditonton, melalui karakter yang ditimpa konflik. “Love and Faith” sayangnya terlalu asyik sendiri dengan konfliknya.

Saya mengerti jika kemudian Rio yang awalnya terlihat kalem jadi setengah gila, sebabnya jelas karena “Love and Faith” menimpakan berbagai konflik berlebihan pada Rio, tanpa mencarikan solusi yang layak. Terpaku pada konflik, tidak hanya membuat “Love and Faith” kehilangan daya tariknya yang sudah dibangun sejak awal cerita, tapi juga menghilangkan porsi karakter-karakter pendukung lainnya. Untungnya “Love and Faith” masih punya Rio Dewanto dan Laura Basuki, akting keduanya setidaknya masih menyelamatkan film ini dari kosongnya satu bangku penonton pada waktu itu. Kalau tidak dijejali performa luar biasa Rio dan Laura, mungkin saya sudah meninggalkan bioskop lebih dulu sebelum film benar-benar menyelesaikan durasinya. Tak terbantahkan, keduanya mampu memperlihatkan kepiawaiannya dalam berakting dan juga memadu chemistry yang teramat manis dalam “Love and Faith”. Selain akting para pemainnya, film ini juga memiliki nilai positif dari tata produksinya yang digarap cukup serius, pengadaan mobil-mobil antik hingga pemilihan lokasi yang tepat dalam mendukung suasana tempo dulu. Saya ingin lebih menyukai “Love and Faith” tapi perlakuan Benni Setiawan dalam menggarap konfliknya jadi ganjalan yang menahan saya melakukan itu. Jika saja konflik bukan segala-galanya dan masih menyisakan ruang untuk solusi, mungkin saya bisa mencintai film ini seutuhnya.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Indonesia K...
Review - Train to Bu...
Review - Lukisan Ber...
Review - Under the S...