Review – CJR The Movie: Lawan Rasa Takutmu (2015)

written by Rangga Adithia on February 21, 2015 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with 5 comments

Tak ada yang bisa menjamin jika grup musik/boyband/idol yang memiliki basis penggemar banyak juga bakal sukses mengumpulkan jumlah penonton, tentunya yang sama banyaknya, ketika mereka tampil di sebuah film. Konser sold out dan album laku keras, belum tentu filmnya juga akan mejeng di daftar box office jadi film laris dengan hitungan jumlah penonton ratusan ribu. Saya sedang berbicara soal film Indonesia yang notabennya penontonnya sulit ditebak, jadi saya tidak lagi heran kenapa bisa “Coboy Junior The Movie” laris manis ditonton 600 ribuan orang sedangkan “Viva JKT48” justru terbilang flop—sampai rencana untuk film sekuelnya pun ikut gagal. Kedua film memang punya formula dan treatment yang berbeda, bisa jadi itu juga yang mempengaruhi penjualan tiket, tapi kembali lagi ke faktor penonton kita yang memang sulit ditebak apa maunya. Saya tak sedang menyalahkan penonton, toh saya ada di pihak penonton yang menginginkan film juga punya usaha yang lebih keras untuk membuat kita tertarik, untuk datang ke bioskop dan pada akhirnya menonton film tersebut.

“CJR The Movie: Lawan Rasa Takutmu” sedang melakukan pertaruhan besar dan juga misi penting. Taruhan besar karena film ini ingin mencoba buktikan mampu sesukses predesesornya, sekaligus misi penting memperkenalkan ‘Coboy Junior’ yang sekarang berubah nama jadi hanya “CJR” dengan image barunya, yang mau lebih terlihat dewasa dan bukan lagi dicap boyband anak-anak. Pendekatan yang dilakukan Patrick Effendy selaku sutradara nantinya memang mengarah ke sana, film kedua ini menangkap sisi personal dari masing-masing anggota ‘CJR’, frame demi frame-nya mempotret versi yang lebih kompleks dari Iqbal, Aldi, dan Kiki. Tapi walaupun ingin membuat kesan film yang lebih dewasa dan serius, Patrick tidak lupa mengajak keseruan dalam filmnya, toh “CJR The Movie” ini diciptakan untuk para comete (sebutan fans ‘CJR’) yang kebanyakan anak-anak yang butuh film yang fun nan riang-gembira bukan galau-galauan nan serius.

‘CJR’ bukanlah sesuatu yang asing untuk seorang Patrick Effendy, dia bukanlah orang jauh yang tiba-tiba datang dan mengacungkan jarinya untuk jadi sutradara “CJR The Movie” ini. Sebagai orang yang selama ini sangat dekat dengan boyband yang lahir di tahun 2011 ini, Patrick yang juga masih berstatus sebagai produser merangkap manajer Iqbal, Aldi, dan Kiki setidaknya tahu betul bagaimana nanti mengurus anak-anak ‘CJR’ ini, menyatukan chemistry-nya dan mengeluarkan sisi personal yang coba diangkat sejak awal. Saya pada akhirnya tak punya masalah dengan performa Iqbal dan kawan-kawan ketika tampil di layar, kedekatan sang sutradara sepertinya membuat mereka bisa tampil lebih leluasa dan nyaman, ini mungkin yang menjadikan akting ‘CJR’ bisa lebih enak dilihat. Chemistry antara personil ‘CJR’ pun terjalin dengan baik, mau itu ketika mereka sedang bercanda-canda ataupun pada saat dikondisikan untuk serius. Akting baik ini nantinya pun menular ke pemain-pemain lainnya, Abimana Aryasatya dan Rio Dewanto tampil begitu baik, begitu juga dengan Arie Kriting yang perannya “ditumbalkan” untuk memancing tawa penonton, dengan segala tingkah lucunya.

Nah! Kelemahan “CJR The Movie: Lawan Rasa Takutmu” tertunjuk ke presentasi ceritanya yang tersaji biasa saja, dengan konflik serta konklusi yang serba instan. Ketimbang sebuah film yang mempertontonkan bagaimana proses transformasi Iqbal, Aldi, dan Kiki dari ‘Coboy Junior’ ke ‘CJR’ yang lebih dewasa itu terjadi, film ini malah terkesan seperti sebuah video rangkuman jalan-jalan. Ketakutan serta keraguan masing-masing personil setelah hengkangnya Bastian pun dihadirkan sebagai konflik yang tidak utuh, karena film ini lebih asyik menghabiskan durasi untuk memutar rekaman pemandangan yang bagus-bagus ketimbang bercerita dan mengenalkan sekali lagi sosok Iqbal, Aldi, dan Kiki. Prosesnya serba terburu-buru karena pembagian porsi senang-senang dan bercerita tidak seimbang, saya yang ingin melihat terbentuknya ‘CJR’ yang baru justru hanya disodorkan kolase dan montage mereka sedang berlatih. Ruang yang diciptakan agar saya bisa lebih dekat dengan ‘CJR’ begitu sempit, kecuali mereka yang sudah lama jadi fans ‘CJR’. Well, “CJR The Movie: Lawan Rasa Takutmu” memang sudah menghibur karena sudah mengajak saya jalan-jalan seru, tapi begitu selesai tidak ada kesan apa-apa untuk saya, apalagi dengan ceritanya yang jauh dari kata istimewa.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Aach... Aku...
Review - Ada Apa Den...
Review - 3 Srikandi
Review - Under the S...