Review – Cerita Hantu Malaysia

written by Rangga Adithia on February 3, 2015 in Asian Film and CinemaTherapy and Horror with no comments

Untuk urusan film horor, negeri-negeri di Asia (tetap) jadi primadona saya, tak hanya karena rasanya yang seperti makan indomie rebus pinggir jalan pakai cabe rawit yang diiris kecil—campur keringat pembuatnya dan polusi—tapi juga rasa intim yang didapatkan ketika menontonnya. Mungkin karena saya juga tinggal di benua yang sama, walau terpisah jarak dan berbeda bahasa, kultur horornya bisa dikatakan banyak kemiripan, termasuk soal tampilan hantu-hantunya (bisa juga memang saling jiplak secara halus hehehe). Sayangnya, sekarang “rasa” khas itu seperti hilang dari film horor Asia, walaupun Jepang, Korea dan Thailand masih cukup rajin memproduksi hantu cewek berambut panjang, tapi mereka tidak lagi seseram dulu. Comeback-nya Kayako dan Sadako ke ranah perhororan Asia pun seperti sebuah iklan sampo yang hanya menumpang kibas-kibas rambut. “Ju-on: The Beginning of the End” memang tidak seburuk “Sadako 3D” yang memalukan itu, tapi Kayako dan suara gemeretak-nya disini begitu mudah dilupakan. Well, anehnya rasa horor Asia yang saya rindukan justru datang dari seberang lautan yang jaraknya 11 ribuan kilometer, thanks to James Wan yang telah membuatkan saya mie rebus…maksud saya horor Hollywood bercita rasa Asia.

Bagaimana dengan negara saya sendiri, Indonesia? Walaupun film horor berotak undur-undur masih suka bermunculan tiba-tiba tanpa berkirim pesan lebih dulu, tapi kuantitasnya jauh berkurang dari tahun ke tahun. Ketika KKD tak bernafsu lagi bikin film-film horor “surealis” yang menampilkan hantu-hantu bertampang melas, dengan riasan dempulan bubur basi. Ditambah, Nayato tampaknya sudah lelah mengeksploitasi habis-habisan setan pocong dalam film horornya. Harapan kembali tumbuh untuk sinema horor tanah air yang sebelumnya memang babak-belur dihajar film-film horor dungu. Film horor macam “Angker” yang kemudian memberi kepercayaan kepada saya, kalau kita masih bisa buat horor yang tidak saja seram tapi juga layak untuk diapresiasi karena niat dan usahanya benar. Ya, Asia tampaknya sedang kekurangan pasokan horor yang benar-benar nyeremin, walaupun sekali lagi batasan seram itu berbeda untuk setiap orang, seram atau tidak seram itu relatif. Mungkin, film-film horor yang belakangan rilis sebetulnya seram, hanya tanpa sadar standart saya untuk film seram tidak lagi sama seperti dulu. Cara menakutinya yang gitu lagi mungkin jadi penyebab kenapa film horor banyak yang gagal, mengalami kebuntuan ketika sudah bicara soal mengirimkan rasa takut ke penonton, termasuk terjebak jump scare yang begitu kadaluarsa.

Berbicara soal kultur horor, sebetulnya tidak perlu jauh-jauh menengok Jepang, Korea atau Thailand, ada yang lebih dekat, negara satu rumpun yaitu Malaysia. Saking dekatnya, cerita-cerita soal hantunya pun mirip hanya berganti nama saja seperti Kuntilanak, yang berubah jadi Pontianak dalam bahasa Melayu. Tak kenal maka tak sayang, tak seperti film horor Jepang atau Korea bahkan Thailand yang sering mampir ke bioskop Indonesia, ditambah DVD-nya yang mudah ditemukan dimana-mana. Saya memang lebih mengenal film-film horor dari tiga negara itu ketimbang film horor dari Malaysia, awalnya memang tidak terlalu tertarik, tapi semenjak menonton beberapa film Malaysia termasuk mencicipi film horornya, saya kemudian mulai mengalihkan perhatian ke ranah perhororan Malaysia, yah sekedar mencari film-film horor seram milik mereka. Berkat beberapa kali saya posting ulasan mengenai film horor Malaysia, termasuk “Claypot Curry Killers” dan saga epik “Kampung Pisang”, saya jadi punya kawan bloggers film asal sana yang bisa saya tanyai sekaligus memberi rekomendasi film horor Malaysia. Well, “Cerita Hantu Malaysia” ini pun salah-satu yang direkomendasikan, sebuah film omnibus yang menceritakan tiga kisah horor yang nantinya saling berkaitan.

“Jaga Sekolah”, “Bus Sewa”, dan “Jalan Mati” yang kesemua segment-nya digarap sendiri oleh Pierre Andre (Seru), seperti ingin kembali menegaskan kalau horor yang seram itu bukan film yang paling banyak memunculkan hantu ber-make up tebal. Justru film horor yang kelihatannya sederhana, termasuk dalam hal riasan yang minimalis untuk setannya, lebih mampu berbicara banyak ketika menakut-nakuti penontonnya. Film horor memang butuh penampakan, tapi penampakan bukan segala-galanya, mau seribu kali setan muncul akan percuma jika tidak ada dukungan elemen lain, seperti atmosfer dalam film. Nah, “Cerita Hantu Malaysia” inilah contoh film horor yang mengandalkan cerita dan atmosfer, bahkan untuk urusan penampakan masih bisa dihitung jari. Sejak awal segmen “Jaga Sekolah” dimulai, Pierre Andre sudah mantap betul ingin memanfaatkan lokasi bangunan yang katanya sekolah berhantu tersebut. Pendekatan Pierre Andre yang maunya minimalis soal penampakan dan lebih ingin mengeksplor setiap sudut bangunan, terbukti memaksimalkan tingkat keseraman di “Jaga Sekolah” serta segmen lain yang diesekusi dengan pendekatan serupa—penampakan yang minimalis namun atmosfir cekam digenjot habis. Walaupun “Cerita Hantu Malaysia” masih punya kekurangan, saya menyukai treatment-nya Pierre Andre dalam mengesekusi tiap segmen, kita tidak ditakuti oleh penampakan melainkan sudah dibuat ketakutan lebih dulu sama rasa cekam dan atmosfer yang terbangun dengan benar.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Munafik (20...
Review - Ratu Ilmu H...
Review - Dukun Linta...
Review - Under the S...