Review – The Woman in Black: Angel of Death

written by Rangga Adithia on January 13, 2015 in Cinema of Europe and CinemaTherapy and Horror with 2 comments

Walau berstatus sebagai film sekuel, “The Woman in Black: Angel of Death” bisa dikatakan tak memiliki kaitan yang terlalu signifikan dengan predesesornya, jadi tak perlu risau jika belum nonton film sebelumnya yang dibintangi oleh Harry… maksud saya Daniel Radcliffe tersebut. Malah bisa dibilang beruntung, kenapa? Karena mereka tidak tahu apa-apa dan itu bagus. Kita yang sudah menonton film pertama dan tahu apa yang terjadi di Eel Marsh, begitu kembali ke rumah besar nan terkutuk itu seperti hanya menunggu sebuah reka ulang, kita tahu apa yang akan dilakukan oleh si wanita bergaun hitam, pertanyaannya kali ini siapa yang akan jadi korbannya. Disinilah peran penting si penulis cerita Jon Croker dalam menghadirkan “permainan” yang berbeda, walau nantinya tidak bisa mengotak-ngatik aturan mainnya, yang sudah ditetapkan di “The Woman in Black” pertama dan aturan tersebut memang harus diikuti. Pekerjaan rumah yang cukup berat juga untuk Tom Harper, yang sekarang duduk di kursi sutradara menggantikan posisi James Watkins. Tom tidak hanya diharapkan bisa mengulang sukses yang didapat film sebelumnya, namun juga memastikan filmnya tak berujung berubah dari sekuel menjadi sebuah remake, mendaur ulang apa yang dikerjakan Watkins dahulu, terutama untuk urusan nakutin.

“The Woman in Black: Angel of Death” mengajak kita melompat sekitar 40 tahun dari kejadian di film pertama, tepatnya pada masa perang dunia ke dua sedang berkecamuk, kota London dihujani bom-bom Jerman dan banyak orang tua yang kemudian memutuskan untuk rela mengirim anak-anak mereka jauh dari amuk pesawat-pesawat pembom-nya Hitler. Termasuk anak-anak murid asuhan Eve Parkins yang terpaksa pergi ke daerah pedesaan Crythin Gifford, karena London yang sudah tidak aman lagi. Eve dan anak-anak, kemudian diungsikan ke sebuah rumah besar tak berpenghuni, yang diubah menjadi sekolah darurat. Malangnya, Eve dan anak-anak tak bisa dibilang benar-benar aman, karena malapetaka baru sedang menunggu terjadi kepada mereka. Apa yang saya suka dari “The Woman in Black” adalah film ini tahu caranya menakut-nakuti, memanfaatkan atmosfer mencekam dari rumah besar beraksen gothic, yang dilihat sekilas pun kita sudah tahu rumah ini nga bener—banyak setannya. Presentasinya yang berhawa gothic tradisional inilah yang membuat “The Woman in Black” sejak awal sudah terlihat menonjol dari film horor lainnya. Template-nya sudah tersedia disana, sekuelnya hanya perlu didandani agar lebih seram, ditambahkan pernak-pernik yang lebih menakutkan, tanpa harus kehilangan identitasnya.

Well, terlepas dari tambahan embel-embel “Angel of Death” yang sebetulnya tak perlu-perlu amat, hanya memperpanjang judulnya saja, setidaknya film ini masih bisa mempertahankan elemen horor yang tersaji secara tradisional dan tentunya gaya gothic yang membuat predesesornya lebih stand out dari horor kebanyakan yang menawarkan gaya horor kekinian. Walau setting jamannya sudah bergerak maju, “The Woman in Black: Angel of Death” justru seakan terjebak di masa lalu, di Eel Marsh waktu terkesan tak pernah bergerak. Dan, Eel Marsh pun nantinya benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh Tom Harper, dia tahu film horornya tidak akan berhasil jika dia hanya mengandalkan penampakan si wanita bergaun hitam saja, dia harus mengajak rumah dan sekelilingnya untuk ikut bermain, ikut menakut-nakuti bukan saja jadi setting belaka. Seperti film sebelumnya, Tom tak ingin terburu-buru dan membiarkan kita—entah itu buat yang sudah atau belum menonton film pertama—untuk merasa ketakutan lebih dulu dengan rumahnya. “The Woman in Black: Angel of Death” ingin penontonnya merasa tidak nyaman, merasa terusik setiap kali Tom menempatkan kita di rumah tersebut walaupun hanya sebentar, mau itu di ruangan tengah ataupun di ruang basement-nya yang tampak seperti kandang dedemit dan tempat main genderuwo.

“The Woman in Black: Angel of Death” memang tahu cara menyiapkan bahannya, tapi begitu tiba giliran untuk esekusi, racikan horor milik Tom tak memiliki rasa yang terbilang baru. Beberapa adegan menakut-nakutinya saya akui efektif, ada momen merinding yang menyenangkan disana, tapi sayangnya Tom agaknya tak percaya diri filmnya bisa menakuti dan memasukkan juga jump scare kadaluarsa. Padahal Tom sejak awal sudah melakukan hal yang benar dengan membaurkan penampakan dengan hawa rumah yang mencekam, menyamar dengan berbagai property rumah yang antik, bersembunyi di dinding dan langit-langit yang rusak bolong-bolong. Tapi bersamaan dengan durasi yang kian tipis, rasa cekam serta daya kejut “The Woman in Black: Angel of Death” semakin terasa lemah dan tak semenakutkan paruh awal. Meskipun lemah, tampaknya Tom terlihat belum mau menyerah, kegigihannya dalam menakuti sambil menceritakan kisah setidaknya memberikan hasil untuk babak akhirnya nanti. Kurangnya ada, walau begitu film tak sampai berujung membosankan, karena Tom Harper masih mampu menjaga alur “The Woman in Black: Angel of Death” dengan baik. Usahanya patut dihargai hingga akhirnya membuat sekuel ini cukup menyenangkan untuk ditonton, tak istimewa tapi masih terbilang horor yang mengasikkan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - A Copy of M...
Review - 3 Srikandi
Review - Ouija: Orig...
Review - Before I Wa...