Review – Nenek Siam (2015)

written by Rangga Adithia on January 22, 2015 in CinemaTherapy and Film Indonesia and Horror with no comments

Menambah embel-embel “diangkat dari kisah nyata” seperti sudah lumrah untuk film horor, kalimat magis yang diharapkan bisa memikat penonton untuk nonton filmnya karena penasaran. Tidak hanya di Indonesia kok, praktik horor based on true story macam “Nenek Siam” juga sudah sering dilakukan di Hollywood sana, seperti “The Conjuring” misalnya, ada “based on the true case files of the warrens” di materi promonya. Sah-sah saja menurut saya, mau itu kisah nyata atau cerita hasil rekaan, pada akhirnya yang menentukan film horor bagus dan tidaknya toh adalah esekusinya. Kalaupun banyak film horor lokal yang mengklaim diangkat dari kisah nyata, saya bilang wajar-wajar saja sih, karena Indonesia punya beribu cerita horor, mitos, legenda urban, apapun namanya yang nantinya berpontensi untuk jadi cerita film layar lebar. Tapi sayangnya banyak juga kisah yang katanya beneran itu, justru gagal menakuti begitu diterjemahkan dalam bentuk gambar bergerak alias film. Jadi terkadang saya berpikir, sayang banget ceritanya sudah seram tapi pas jadi film kok garing. Saya merinding baca cerita “Nenek Gayung” yang heboh beberapa waktu lalu, terserah mau nyata atau hanya ada orang yang iseng menyebar hoax. Namun begitu difilmkan hasilnya jauh dari kata seram, baik dari esekusi horornya maupun pengemasan film secara keseluruhan.

Entah darimana “Nenek Siam” mendapatkan inspirasinya, tapi si nenek berwajah dua ini mengingatkan saya pada kisah Edward Mordrake (sempat muncul juga di dua episode American Horror Story: Freak Show). Mordrake lahir dengan ekstra wajah di belakang kepalanya, menurut cerita wajah kedua yang Mordrake sebut sendiri sebagai “wajah iblis” tersebut, sering berbisik kepadanya di malam hari. Mordrake sudah minta ke beberapa dokter untuk “membuang” wajah keduanya, tapi tidak ada dokter yang menyanggupi permintaannya. Sampai akhirnya, pada usia 23 tahun Mordrake menyudahi hidupnya dengan bunuh diri. Tapi saya tak tahu sumber kisah nyata mana yang ceritanya diangkat jadi film di “Nenek Siam”. Walaupun kemudian, ketika film mulai flashback menceritakan soal bunuh diri, lagi-lagi saya teringat Edward Mordrake yang sama-sama melakukan hal serupa, ada kemiripan antara keduanya, dari kisah dan wajah di belakang kepalanya itu. Well, darimana pun materi mentahnya berasal, saya sebetulnya tak akan terlalu peduli asalkan “Nenek Siam” bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik, sebagai sebuah film horor tentu tugas utamanya adalah menakuti. Berbicara soal menakuti, “Nenek Siam” saya rasa sudah gagal.

Saya gagal ditakuti oleh “Nenek Siam”, karena saya merasa presentasi horornya tak seseram yang saya bayangkan begitu sampai di rumah yang terkesan angker di film ini. Rumah yang nantinya jadi tempat menginap Tika (Kirana Larasati), Kikan (Tiara Westlake) dan Poppy (Selena Alessandra), yang rencana liburannya bertubrukan dengan nasib sial, ketika mereka tersesat dan mobil yang mereka tumpangi mogok di tengah perjalanan. Untung ada Bu Mira (Erlin Sarintan) yang baik hati mengijinkan mereka menginap semalam, sambil menunggu besok pagi untuk dicarikan montir yang bisa memperbaiki mobil. Semua happy karena tak harus tidur di mobil, apalagi sebelumnya mereka berpas-pasan dengan seorang bapak-bapak gondrong lumayan menyeramkan. Tapi kesenangan tersebut tidak bertahan lama, ketika belakangan diketahui ada orang lain yang tinggal di rumah selain Bu Mira, yaitu Eyang Putri (Bella Esperance). Ada yang aneh dengan orang tua yang dipanggil Eyang Putri tersebut, Kikanlah yang pertama kali menemukan kejanggalan tapi teman-temannya tidak percaya. Yah kalau Tika dan Poppy terus percaya dan kabur dari rumah, “Nenek Siam” niscaya akan tamat dalam setengah jam. Karena kedua temannya untungnya menganggap cerita Kikan itu halusinasi ditambah Kikan orangnya penakut, jadi “Nenek Siam” bisa melanjutkan filmnya sekaligus menyelesaikan tugasnya untuk menakuti penonton.

Sayangnya, walaupun saya akui “Nenek Siam” memiliki formula horor yang tidak murahan, termasuk tidak norak dalam urusan nakutin dan taktik jump scare-nya yang tergolong manusiawi—dalam artian tidak pake penampakan ngagetin tiap 5 menit sekali. “Nenek Siam” terlanjur sudah gagal menakuti saya, mungkin saja kalau orang lain yang nonton, bisa seram. Toh seram atau tidaknya film horor itu memang menurut saya relatif, bagi saya seram belum tentu buat orang lain, atau sebaliknya orang lain menganggap “Nenek Siam” serem, untuk kali ini jujur saya harus geleng-geleng kepala. Selain rasa cekam yang tidak terasa, atmosfer rumah punya kadar horor yang tipis, walau sudah di-setting sedemikian rupa untuk jadi tampak angker. Sejam pertama hampir bisa dibilang tidak ada apa-apa, bertele-tele dan terlalu fokus ke bagian “percaya atau tidak percaya” antara Kikan, Tika dan Poppy, memakan durasi yang seharusnya bisa lebih bijak jika dihibahkan ke proses membangun atmosfer dan rasa cekam yang terasa kurang tadi. Saat horor di “Nenek Siam” tidak membuat saya tertarik, perhatian saya teralihkan kepada bagian ceritanya, terutama ketika film ini membawa kita flashback ke masa lalu. Ada sesuatu yang boleh dibilang jarang dan malah tak pernah ada di film horor Indonesia (jika saya tidak salah ingat), menyangkut soal adegan bunuh diri, lebih tepatnya siapa yang melakukan bunuh diri itu—maaf semoga saya tidak terlalu mengumbar spoiler, karena ini penting saya omongin. Entahlah saya kaget ketika tiba-tiba film memasukkan adegan bunuh diri ini, bisa dibilang menambah kelam cerita yang tadinya kelihatan biasa saja, mungkin juga malah ekstrim.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Green I...
Review - A Copy of M...
Review - Bone Tomaha...
Review - Don't Breat...