Review – Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014)

written by Rangga Adithia on January 7, 2015 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with one Comment

Bagi yang sudah mengenal sosok Merry Riana, siapa dia dan apa yang dilakukan sampai bisa jadi seterkenal sekarang, berkat membaca buku yang katanya begitu menginspirasi banyak orang Indonesia ini, keterbatasan film dalam mengeksplor karakter utama mungkin tak akan terlalu mengganggu. Tapi buat saya yang tidak pernah menyentuh buku tentang Merry Riana, hanya punya sedikit info tentang perempuan yang memperoleh satu juta dolarnya di usia 26 tahun tersebut, film ini jelas tak memberikan saya cukup motivasi untuk terhubung dengan apa yang sedang saya tonton. Saya tahu “Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar” ini merupakan adaptasi bebas dari bukunya, tidak terikat dengan embel-embel based on cerita sebenarnya melainkan terinspirasi dari kisah tersebut. Tapi kata “bebas” bukan berarti seenaknya meminggirkan apa yang diperlukan film ini sejak awal, yaitu memberikan Merry Riana asupan background karakter yang layak. Mengambil jalan pintas karena terburu-buru untuk melompat ke bagian romansa dan tetek-bengek konflik cinta segitiga (untuk kesekian kali), film ini lupa pada kelompok penonton yang datang ke bioskop karena tujuannya untuk menonton film, bukan menghadiri acara motivasi-motivasian. Lagipula untuk film yang tujuannya agar penonton membawa pulang “kisah yang inspiratif”, kok rasa-rasanya sepanjang film saya tak melihat sesuatu yang terbilang “menginspirasi”.

“Entah apa yang salah, apa yang jadi masalah… aku tak tahu”, lirik dari lagu yang berjudul “Aku dan Masalah” dan dinyanyikan oleh Sarah Saputri, yang terdengar menemani salah-satu adegan “Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar” tersebut, seperti mewakili isi pikiran saya selesai menonton film yang disutradarai Hestu Saputra (Cinta Tapi Beda, Pengejar Angin) ini. Apa yang salah? Setting tahunnya? Hmmm, banyak yang mengira “Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar” berlatar 1998, saya tak menyalahkan orang-orang yang menafsirkan seperti itu, karena saya pun punya pikiran yang sama, karena dipertontonkan gambar kerusuhan di awal film, yang langsung mengarahkan pikiran saya ke peristiwa kerusuhan 13 Mei-15 Mei 1998 tersebut. Lagipula aslinya Merry Riana memang hijrah ke Singapura pada tahun dimana Jakarta dan kota-kota di Indonesia sedang dilanda kerusuhan besar. Jika film ini ber-setting 1998, kenapa Singapura sudah punya Marina Bay Sands yang sekarang jadi salah-satu landmark terkenal disana, bukannya baru rampung dan dibuka sekitar tahun 2010. Belum lagi gadget yang bertebaran tak sesuai tahun, jika diteliti lagi gaya pakaian yang dikenakan pun sangat kekinian. Memang tak ada penjelasan tahun sampai akhirnya ada adegan yang menunjuk bahwa film ini ternyata berlatar tahun 2012—bisa dilihat di adegan ketika Merry Riana yang diperankan oleh Chelsea Islan sedang searching di google. Saya kemudian dapat memaklumi, karena sekali lagi ini adaptasi bebas, si penulis serta pembuat film bisa terserah mereka memindahkan setting ke tahun 2012, termasuk mengada-ada soal kerusuhan yang kembali terjadi di Jakarta.

Dipikir-pikir lagi memang akan menyusahkan jika latar tahun film ini setia pada kisah nyatanya, menyulap Singapura ke tahun 1998, ribet. Makanya ketimbang susah-susah, “Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar” pakai mesin waktu dan lompat ke 2012, jaman dimana sudah ada smartphone canggih buat main saham tinggal klik nantinya. Move on, lalu apa yang menjadi masalah? Karakter utama alias si Merry Riana tidak diberikan porsi perkenalan yang layak, film ini bisa dibilang menyodorkan Merry Riana yang sudah jadi, tanpa menyediakan waktu bagi saya, penonton yang tak mengenal Merry melihat terbentuknya seorang Merry, behind the scene serta proses bagaimana pada akhirnya Merry bisa jadi seperti yang kita lihat di layar. Apakah dia pintar di sekolah dulu? Makan apa Merry Riana sampai bisa punya energi yang tak pernah ada habisnya? Informasi seperti itu tak dapat ditemukan di filmnya, alih-alih film melompat siap menubrukkan karakter utama dengan konflik berlapis. Mungkin durasi filmnya tak cukup untuk menguatkan pondasi karakternya, detil lebih lanjut bisa cari sendiri di internet, terlalu banyak yang harus diceritakan dan (mungkin) keputusan bijak untuk skip bagian yang bertele-tele tentang background Merry. Jadi film punya lebih banyak ruang untuk bercinta-cintaan dan menjejali saya dengan ekspresi mengerikan Chelsea Islan.

Siapa sangka Chelsea Islan yang begitu mempesona di “Street Society” kemudian berubah menakutkan ketika menjelma menjadi Merry Riana. Kalau tujuannya itu untuk menekankan kegigihan yang melekat pada diri seorang Merry Riana, saya rasa tak perlu terlalu berlebihan, saya malah melihat Chelsea seperti orang yang kebanyakan minum red bull, mabuk minuman berenergi. Makanya dalam kondisi apapun, energi menggebu-gebu Merry seperti tak ada habis-habisnya, mungkin sebetulnya di film ini Merry adalah robot, bukankah ini adaptasi bebas, tidak ada salahnya jika sekalian membuat Merry ditenagai baterai energizer, karena disini Merry memang mirip kelinci di iklan energizer yang tak berhenti memukul drum. Di film Chelsea tak ada capeknya memperlihatkan semangat menggebu-gebunya, yang kadang tak pada tempatnya, sekali lagi justru mengerikan. Serius bukannya simpatik dan memberi kesan inspiratif, saya justru ketakutan melihat aktingnya yang sangat berlebihan. Well, tak semua yang diperlihatkan karakter Chelsea di “Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar” meninggalkan kesan buruk, saya suka ketika karakternya diperlihatkan manusiawi, setidaknya Merry masih dipertontonkan bisa khilaf dan melakukan kesalahan. Untungnya, film ini masih punya Kimberly Ryder dan Dion Wiyoko yang diluar dugaan lebih terlihat natural, serta tak lupa hadirnya Ferry Salim dan Cyntia Lamusu sebagai mama dan papa Merry, mereka mampir sebentar memberi sedikit kehangatan ke dalam film.

Sulit benar untuk menyukai “Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar”, walaupun saya disodorkan gambar-gambar bagus sepanjang film, rasanya sia-sia jika cerita tak mampu menjembatani chemistry antara penonton dengan filmnya. Balik lagi ke lagu Sarah Saputri, “entah apa yang salah, apa yang jadi masalah… aku tak tahu”, tapi sekarang saya tahu salahnya memang pada filmnya, bagaimana film ini tidak peduli dengan penontonnya. Setting tahunnya sudah membuat saya tersesat dan karakter utama yang harusnya memberikan kenyamanan, justru membuat saya tak berani melihat wajahnya yang mengerikan. Chelsea Islan bisa lebih baik, tapi mungkin karakternya memang memaksanya untuk bermain berlebihan. Kalau kenyataannya seperti itu, bakat Chelsea Islan benar-benar disiapkan untuk jadi semacam tumbal, nantinya dipersembahkan untuk karakter yang sejak awal tak bisa mengendalikan ekspresi dan emosinya. Saat karakter yang dimainkan oleh Chelsea punya tugas ganda, untuk memotivasi banyak orang sekaligus simpatik dengan kisah asmaranya, tak satu pun yang bisa dibilang berhasil. Bagian yang menyorot kisah cinta-cintaan di “Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar”, antara Merry dan Alva sebenarnya dikemas cukup manis, tapi porsinya tidak seimbang dengan bagian yang menyorot karakter Merry, agar nantinya pantas untuk dikagumi sekaligus dicintai.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Munafik (20...
Review - Train to Bu...
Review - The Girl wi...
Review - Under the S...