Review – Hijab (2015)

written by Rangga Adithia on January 17, 2015 in CinemaTherapy and Comedy and Drama and Film Indonesia with one Comment

Beberapa tahun belakangan, Hanung Bramantyo memang kerap identik dengan film-film berstatus kontroversial, “Perempuan Berkalung Sorban” dituding film menyesatkan, “Sang Pencerah” katanya menyimpang dari sejarah, “Tanda Tanya” bahkan dilabeli film haram, lalu “Soekarno: Indonesia Merdeka” berujung kisruh dengan Rachmawati Soekarno Putri, dan terakhir “Gending Sriwijaya” pun lagi-lagi berbuah protes karena tak mirip sejarah aslinya. Terlepas dari kontroversi dan segala macam pertentangan terhadap film-film Hanung, judul-judul tersebut sebetulnya tak seburuk pemberitaannya. Tapi jika boleh jujur, saya lebih kangen dengan film-film ringannya Hanung, bukan berarti “Sang Pencerah” tidak bagus atau “Perempuan Berkalung Sorban” jelek, bagus kok dan digarap sangat serius, saya akui itu. Mengubek-ngubek lagi jejak rekam Hanung, saya menemukan satu film yang rasa-rasanya tak perlu embel-embel kontroversial untuk bisa dikenang terus, film itu adalah “Catatan Akhir Sekolah”, film ringan yang saya maksud tadi. Yah, Hanung memang membuat beberapa film ringan lain, macam “Get Married” atau “Perahu Kertas” yang dibelah dua part itu, tapi yang bicara soal sahabatan, “Catatan Akhir Sekolah” bisa dibilang tak tergantikan—satu lagi “Jomblo”.

Jika “Catatan Akhir Sekolah” ngomongin persahabatan level anak sekolahan dan “Jomblo” menyorot persahabatan tingkat anak kuliahan. “Hijab” membawa tema friendship ke level yang benar-benar baru, Hanung kali ini bicara soal sahabatan di ruang lingkup mereka yang sudah berumah-tangga, lebih tepatnya dari point of view-nya para istri. Di “Hijab” kita akan diajak berkenalan dengan Bia (Carissa Puteri), Tata (Tika Bravani), Sari (Zaskia Adya Mecca) dan Anin (Natasha Rizky), empat cewek yang sahabatan sudah lama, semua sudah menikah kecuali si Anin yang masih mau hidup bebas dan mandiri, tidak seperti ketiga sahabatnya yang setelah bersuami malah justru “terjebak” dalam pernikahan, tidak bisa apa-apa, tidak bisa jadi diri mereka sendiri dan hanya bisa ngangguk apa kata suaminya. Suatu hari keempatnya memutuskan untuk membuka toko hijab online, karena ingin lepas dari label “ikut suami” sekaligus punya penghasilan sendiri. Berbekal skill masing-masing, termasuk Bia yang jago mendesain pakaian, usaha berjualan hijab yang dilakukan secara bergerilya memanfaatkan internet dan media sosial tersebut, ternyata mendapat respon sangat positif. Bisnisnya sukses dan koleksi hijab mereka kebanjiran pembeli, tapi kesuksesan tersebut tak sepadan dengan apa yang mereka korbankan, yang nantinya balik meminta pertanggung-jawaban dan “kerusakan” harus dibayar mahal oleh Sari dan kawan-kawan.

Soal jago ngulik film yang menyangkut persahabatan, Hanung adalah orangnya, “Hijab” jadi bukti yang menekankan kembali pernyataan saya tersebut. Film ini menghadirkan rasa yang begitu saya kenali, rasa yang dulu saya rasakan ketika duduk di kelas mengamati persahabatan Agni, Arian dan Alde. Kehangatan dari sebuah persahabatan, rasa yang juga hadir saat saya duduk di kantin kampus, makan mie ayam ditemani teh botol dingin, sambil mengamati Agus, Doni, Bimo dan Olip dari jauh. Di “Hijab” saya merasakan kehangatan itu lagi, bukan hangat yang bentar hilang lalu kemudian muncul sembarangan, persahabatan Tata, Sari, Bia dan Anin sejak awal memang hangat hingga durasinya nanti habis. Dan entah bagaimana caranya, Hanung sanggup meracik chemistry dengan begitu halus dan dengan takaran yang pas. Hasilnya kita seperti melihat empat orang sahabatan bukan karena paksaan akting dan skenario, tapi Carissa Puteri dan kawan-kawan tampak layaknya empat orang sahabat yang betulan sahabatan. Untuk film yang ingin menonjolkan sebuah cerita persahabatan, “Hijab” mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan nilai sempurna, film ini membuat kita peduli dulu dengan Bia dan sahabatnya, kita peduli dengan tulus pada persahabatan mereka.

Seperti sebuah pergelaran busana yang di-organize dengan sangat baik, “Hijab” pun melenggang mulus sepanjang durasinya. Sukses memamerkan cerita yang terjahit rapih, dengan tambahan pernak-pernik konflik yang tak terkesan cheap. “Hijab” memang tampil bercanda, tapi dalam setiap candaannya terselip pesan-pesan bernada nyinyir. Walau bagaimanapun ada label bertuliskan “ini filmnya Hanung”, lumrah jika pada akhirnya “Hijab” pun berkeinginan untuk “menyentil” dan “menyindir”, tapi kali ini Hanung sadar betul batasannya, dia masih mampu mengerem nyinyirannya untuk tak terlalu eksplisit dalam penyampaiannya. Jadi kita masih bisa melihat “Hijab” layaknya sebuah acara ketemuan sahabat dengan obrolan santainya, sesekali nyinyir-nyinyir ringan sambil bersenda-gurau. Film ini akhirnya bisa ditertawakan tanpa harus memaksa kita mengernyitkan kening. Dibalut komedi satir yang menyegarkan, “Hijab” tahu menyetel timing yang pas untuk melempar kelucuannya pada saat yang tepat, dan kebanyakan bersumber dari tektokan dialog bermuatan humor yang cukup cerdas. “Hijab” tak saja bikin saya ngakak senang, well, ketika tiba waktu untuk serius, mood film pun berubah 180 derajat, dari tertawa kita bisa tiba-tiba diam, dari adegan ngebanyol penuh guyonan jadi adegan sendu menyentuh kalbu. Dibuka dengan amat menjanjikan, “Hijab” kemudian tidak saja meninggalkan rasa menyenangkan, tapi juga catatan tambahan bertuliskan “terima kasih” pada Hanung, yang sudah sudi balik bikin film ringan tentang persahabatan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Raksasa Dar...
Review - Juara (2016...
Review - Don't Breat...
Review - Under the S...