Review – Di Balik 98 (2015)

written by Rangga Adithia on January 20, 2015 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with no comments

Saya masih ingat berdiri di atas genteng rumah ketika kerusuhan di bulan Mei itu terjadi, persis seperti salah-satu adegan “Di Balik 98”, langit berubah warna jadi hitam, karena terhalangi asap kebakaran yang membumbung tinggi. Takut, tentu saja saya takut, pemandangan yang tidak biasa, seperti sebuah mimpi buruk tapi nyata kejadian. Siang resah, malam pun gelisah, jalan sempit gang yang biasanya sepi berubah gaduh, orang-orang berjalan terburu-buru, sebagian berlari tampak takut tak kebagian sesuatu, sebagian lagi pulang menggendong hasil, sesekali ada gerobak yang ikut maramaikan gaduh malam itu dengan suara roda-rodanya. Ya, mulai dari kipas angin sampai kulkas, dari kantong plastik penuh minyak goreng hingga perangkat VCD player, pagi harinya saya akhirnya tahu ada toko seberang jalan yang “bukan milik pribumi” dijarah habis semalam. Seperti baru kemarin, ingatan yang terekam jelas, padahal sudah berlalu hampir 17 tahun. Chaos? tidak lagi bisa diungkap kata, lebih dari chaos menurut saya, dan cerita di atas hanya jadi bagian kecil dari sebuah kerusuhan berskala masif, lingkupnya nasional dan (tampak) terorganisir. Setelah kepulan asap mulai menghilang, berganti teriakan “reformasi” yang semakin lantang dan berselang beberapa hari kemudian rezim yang berkuasa selama 32 tahun pun turun tahta.

“Di Balik 98”, nantinya juga akan mempertontonkan reka ulang kerusuhan, orang menjarah, mobil habis dibakar, motor ditumpuk di jalan, banyak gedung-gedung terbakar dan jalanan di Jakarta diramaikan “parade” panser dan tank. Lukman Sardi terbilang berani menyomot peristiwa kelam ini sebagai latar film yang jadi debutnya sebagai sutradara. Selain dituntut untuk bisa menggambarkan suasana sebenarnya—membawa kita merasa balik ke tahun 1998—tampaknya banyak orang, termasuk juga saya yang penasaran sekaligus berharap film “Di Balik 98” juga mengungkap sesuatu yang tak pernah kita ketahui. Niat dan keberanian Lukman jelas patut untuk diapresiasi dan dihargai, bagaimana pun hasil filmnya nanti. Berlatar peristiwa kerusuhan 13-15 Mei 1998 hingga nantinya berujung pada pengunduran diri Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia, fokus film ini tidak saja merekonstruksi sejarah, tapi juga menceritakan sebuah kisah yang berlabel fiktif. Ada keluarga tentara yang kerjaannya setiap hari bertengkar, ada keluarga pemulung yang harus berjuang dengan keadaan yang makin susah, dan keluarga etnis Tionghoa yang nantinya harus mengecap rasa pahit dan tercerai-berai ketika kerusuhan pecah. Cerita yang bercabang-cabang inilah yang jadi bumerang untuk “Di Balik 98”, kesannya jadi tak fokus.

Seperti pernah diutarakan Lukman Sardi di press conference, “Di Balik 98” bukan film yang akan mengupas peristiwa kerusuhan Mei 1998 karena belum kapasitas dia katanya. Lukman pun menekankan lagi bahwa film ini tentang keluarga dan cinta (Tempo.co). Kenyataannya memang seperti itu, “Di Balik 98” memang akan mempertontonkan soal kerusuhan dan jatuhnya Orde Baru, tapi hanya terbilang sebagai sketsa dan Lukman jelas berdiri di jarak aman, agar filmnya tak memiliki kesan berpihak pada siapapun. “Di Balik 98” adalah cara Lukman menampilkan sisi manusiawi dibalik peristiwa yang teramat menyakitkan, di tengah kekalutan masih ada kebaikan untuk diceritakan. Detik-detik terakhir sebelum Pak Harto membacakan pidato pengunduran dirinya, film ini justru menyorot Pak Presiden sebagai manusia biasa yang juga bisa gelisah. Bagian dari keluarga dan seorang Ayah yang dicintai, Lukman menggambarkannya lewat adegan Mbak Tutut (Siti Hardijanti Rukmana) yang mendampingi Ayahnya di saat-saat terakhir menjabat sebagai Presiden. “Di Balik 98” bukan sedang ingin bernyinyir ataupun membuka luka lama, Lukman sebatas ingin mengingatkan pernah ada peristiwa amat pahit yang menimpa negeri ini dan berharap jangan sampai terjadi lagi.

“Di Balik 98” tidak sempurna, kekurangannya tercecer di sepanjang durasi yang hampir dua jam itu, termasuk bagaimana film ini menyampaikan ceritanya, yang kalau boleh jujur terlalu sesak oleh banyaknya karakter. Maklum, film ini tampak ingin bercerita mewakili semua lapisan masyarakat, mereka yang tidak memiliki apa-apa, mereka yang hidup berkecukupan, etnis Tionghoa, tentara dan mereka yang punya power. Sayangnya, porsi masing-masing karakternya tidak seimbang, harus ada yang rela terpinggirkan, ketika film sedang sibuk menceritakan kisah lain. Bagian Teuku Rifnu Wikana sebetulnya bisa saja dihilangkan atau Pak Harto tidak perlu banyak-banyak diceritakan, jadi bisa teralihkan ke pendalaman kisah keluarga Chelsea Islan dan Boy William yang memang perlu lebih diperhatikan. Belum lagi nantinya mesti berhimpitan lagi dengan setumpuk sketsa mulai dari aksi demo, kerusuhan dan kemunculan orang-orang penting yang ikut juga unjuk muka. Saya perlu banyak lagi bagian Chelsea Islan dan keluarganya, tidak hanya pada saat harus teriak-teriak demo dengan perubahan karakter yang kesannya terburu-buru. Belum lagi keluarga Boy William yang porsinya tipis, kenapa tidak fokus saja ke kedua keluarga ini, toh sejak awal film sudah mengenalkan mereka, Chelsea dan Boy sebagai sepasang kekasih, harusnya bisa hanya fokus ke kisah cinta mereka dan masing-masing keluarganya. Pada akhirnya saya memang bisa memaafkan kekurangan “Di Balik 98”, terima kasih pada tata produksinya yang boleh dibilang digarap tidak main-main. “Di Balik 98” tidak istimewa, tapi untuk film debutan ini sebuah awal yang menjanjikan untuk Lukman Sardi.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Surat Dari ...
Review - Raksasa Dar...
Review - Ada Apa Den...
Review - Don't Breat...