Review – Haunt (2013)

written by Rangga Adithia on September 21, 2014 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with one Comment

Orisinil mungkin jadi kata yang langka ketika berbicara soal film, khususnya film horor. Cerita yang orisinil memang penting, sebuah nilai plus tersendiri apabila ada film horor yang mau bersusah-payah untuk hadirkan cerita yang berbeda, sekaligus tidak lupa untuk menakuti, toh pada akhirnya kita hanya ingin ditakuti ketika menonton film horor. “The Conjuring” dan “Insidious”, keduanya pun bisa dibilang tak 100% orisinil, tapi cerita yang sama dan klise nantinya bisa diakali, triknya ada pada esekusi. James Wan memberikan contoh yang baik, bagaimana kata “seram” seharusnya tidak dibangun secara instant, dan terburu-buru dalam mengesekusi adegan seram pun hanya akan merusak atmosfir yang sebelumnya sudah dibangun. Kedua poin tersebut harus saling mendukung, kebanyakan film horor yang saya tonton kadang menutup mata dan mengambil jalur pintas untuk buru-buru ingin menakuti penontonnya, menaruh penampakan sana-sini dengan latar belakang scoring yang dinaikkan volume-nya hingga jebol. Padahal sebuah film horor dibilang seram bukan hanya penampakan setan yang bertubi-tubi dan hantu narsis yang gemar nampak setiap 5 menit sekali.

Suara decitan pintu kayu yang terbuka, bebunyian atap rumah, suara ketukan, perabotan rumah yang bergerak sendiri, adalah elemen untuk membangun suasana seram, memang klise ribuan kali ada di film horor, tapi saya tak pernah bosan ditakuti dengan cara seperti itu dan menciptakan horor buatan sendiri di kepala. Jika diesekusi dengan cara yang benar, film horor tidak lagi perlu hantu berwajah amburadul, ketika atmosfirnya sudah berada dalam dosis seram yang tepat, hantu oldskul hanya bermodal gaun putih dan rambut panjang untuk saya yang penakut ini sudah cukup menakutkan. “Haunt” juga tidak mengusung cerita orisinil, berstatus film horor yang mengetengahkan tema rumah hantu, film yang jadi debut penyutradaraan Mac Carter ini nantinya akan mempresentasikan apa yang sudah saya lihat di banyak film horor, well saya tak akan terburu-buru jadi seorang asshole dan langsung menyebut “Haunt” jelek. Seperti biasa, saya akan memberikan waktu untuk film horor yang saya tonton, membiarkan film untuk “mempresentasikan” rasa seram dan takut kepada saya, tak terkecuali “Haunt”. Sayangnya, Carter menyia-nyiakan durasinya untuk banyak hal lain kecuali satu hal, yaitu menakuti, “Haunt” lupa dengan statusnya sebagai film horor.

Tak seperti kebanyakan film horor bertema sama yang menyembunyikan terlalu banyak rahasia dibalik rumah yang katanya berhantu, dan penghuni rumah yang tak mengetahui jika rumah yang mereka tinggali punya masa lalu yang kelam, di “Haunt” kita sudah diberitahu dari awal, apa yang sudah terjadi dengan rumah keluarga Morello. Keluarga baru yang (malangnya) nantinya menghuni rumah terkutuk tersebut pun sudah tahu mereka tinggal di rumah yang dulunya pernah terjadi kejadian yang sangat-sangat buruk. Semua baik-baik saja, sampai Evan Asher (Harrison Gilbertson) bersama dengan Sam (Liana Liberato), tetangga dan sekaligus kekasihnya, dengan sengaja membuka kotak berisi alat yang dipercaya bisa mengontak orang yang sudah mati. Karena “Haunt” sudah tak punya banyak misteri untuk ditawarkan kepada penontonnya, saya pikir Mac Carter akan lebih punya banyak waktu untuk mencoba membangun atmosfir creepy dalam rumah, sekaligus menciptakan emosi dan chemistry dengan karakter-karakter di film ini. Mac Carter tak perlu membuat “Haunt” jadi horor ala James Wan, tapi bagaimana membuat film horor rumah berhantu, yang memiliki rumah tak hanya berperan sebagai setting doang tapi juga diperlakukan layaknya karakter tambahan di film, rumah yang punya kisah untuk diceritakan, jadi bagian untuk membuat kita pada akhirnya takut pada rumah tersebut. Carter sanggup melakukan itu, sayang kemudian terlena dengan kisah kasih Evan dan Sam.

Memberikan ruang untuk Evan dan Sam memang tak salah, menyelipkan sesuatu yang jarang ditawarkan sebuah film horor, yaitu kisah romansa, namun berlebih dalam muatannya juga tak menyehatkan, “Haunt” tetap film horor bukan drama percintaan remaja, Mac Carter tampaknya lupa hal tersebut. Dengan perlakuan istimewa Carter terhadap dua karakternya yang sedang jatuh cinta, dia tampak ingin membuat saya bersimpati dan terikat secara emosional. Melihat apa yang nantinya terjadi pada Evan dan Sam, saya mengerti kenapa Carter begitu fokus ingin membuat penonton terhubung dengan kedua karakter ini, tapi sayangnya menyelipkan romansa yang berlebih, mengorbankan satu hal penting dalam film horor: seram. Carter tampaknya lebih menyenangkan ketika menceritakan kisah kasih antara Evan dan Sam, ketimbang ketika harus berurusan untuk menakuti. Karena jujur, “Haunt” sama sekali tidak berhasil dalam usahanya membuat saya takut, padahal saya sudah dalam posisi orang paling penakut. Esekusinya lemah, padahal opening-nya seperti memberi harapan dan punya potensi jadi film horor yang menyenangkan. Namun sejak film ini berubah jadi drama percintaan anak remaja, “Haunt” lupa jati dirinya sebagai film horor, lupa untuk menakut-nakuti dan pada akhirnya nyaris tidak ada bagian yang bisa dibilang seram. Dukungan setting rumah yang cukup creepy dan sisi artistik yang terbilang baik, kemudian jadi sia-sia, karakter lain pun dilupakan hanya numpang lewat. “Haunt” semakin terpuruk ketika memilih akhir yang bisa dibilang antiklimaks, tak meninggalkan kesan apa-apa. Gagal sebagai sebuah film horor, “Haunt” hanya akan menambah daftar saya untuk film horor yang ada baiknya dilewatkan saja.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Deathgasm (...
Review - Lukisan Ber...
Review - Blair Witch...
Review - Before I Wa...