Review – Seputih Cinta Melati (2014)

written by Rangga Adithia on August 6, 2014 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with no comments

Setelah mengekspos keindahan pegunungan Papua di “Di Timur Matahari”, lalu berkuda bersama “Serdadu Kumbang” dengan latar Sumbawa yang eksotis, serta mengajak kita menengok kecantikan Pulau Lombok di “Leher Angsa”. Sekarang giliran Jawa Barat kebagian jatah untuk jadi latar kisah di “Seputih Cinta Melati”, tepatnya mengajak kita untuk mampir ke Ciwidey, Bandung. Berterima-kasihlah pada Alenia Pictures, karena mereka sudah memperkenalkan tempat-tempat ini, melalui filmnya kita diajak jalan-jalan, melihat keindahan dalam bentuk gambar bergerak. Saya tak pernah ke Sumbawa ataupun Papua, berkat Alenia setidaknya saya bisa mencicipi keindahan keduanya dalam bentuk film, tak lagi hanya puas memandangi gambar-gambar hasil pencarian google. Tak hanya soal komitmen memperkenalkan “seperti apa Indonesia” kepada penonton film Indonesia, yang membuat saya kemudian memberikan acungan jempol pada Alenia Pictures, well tapi juga bagaimana mereka konsisten memproduksi film anak-anak tiap tahun. Sinema kita butuh film anak, ketika kebanyakan lebih tergiur untuk menghibur orang dewasa, Alenia melihat kalau anak-anak juga butuh hiburan di bioskop, tak melulu dijejali produk Hollywood, namun juga diperkenalkan film lokal yang bisa diterima oleh umur mereka. Kita betul-betul butuh banyak film keluarga.

Cerita yang muluk-muluk bukanlah ciri khas Alenia Pictures, begitu juga “Seputih Cinta Melati”, yang kembali dianugrahi pengisahan sederhana hasil coret-coretan Armantono (sebelumnya menuliskan cerita “Tanah Air Beta” untuk Alenia). Oleh Ari Sihasale, materi sederhana tersebut pun jadi terkesan begitu istimewa, pada akhirnya semua balik pada bagaimana film menceritakan kisahnya, Ari tidak saja menguasai materinya, tapi juga mampu menyampaikan visi yang dia inginkan ke penonton, termasuk saya yang duduk asyik menikmati film dari menit ke menit. Premisnya yang berpondasi pada kisah persahabatan antara dua narapidana dan dua kakak-beradik, kemudian dibangun dengan konstruksi cerita yang baik, Ari pun menyampaikannya dengan apa adanya, membiarkan cerita mengalir tanpa ingin sedikitpun menyelipkan dramatisasi yang tidak perlu. Dua narapidana tadi bernama Ivan dan Erik, setelah berhasil kabur dari penjara, mereka kemudian bersembunyi di sebuah pondok tengah hutan dekat dengan danau kecil. Pondok inilah yang mempertemukan mereka dengan kakak-beradik, Rian dan Melati. Ya, awalnya Erik tak begitu suka dengan kehadiran Rian dan Melati, berbeda dengan Ivan yang malah terlihat senang saat anak-anak ini berkunjung lagi ke pondok. Persahabatan itu pun tumbuh perlahan, berbekal ketulusan dan kepolosan Rian yang gemar tertidur di kelas dan Melati yang menggemaskan.

Hadirnya “Seputih Cinta Melati” bisa dikatakan telah mengembalikan senyum di wajah saya, setelah belakangan agak dikecewakan oleh film-film studio yang di tahun 2006 merilis “Denias, Senandung di Atas Awan” ini. Tak sampai menyebut filmnya buruk, “Leher Angsa” misalnya yang kurang begitu mengena dan ending “Di Timur Matahari” yang membuat saya geleng-geleng kepala. Kekecewaan itu pun tak juga membuat saya berpaling dan kehilangan kepercayaan pada karya Alenia berikutnya, saya percaya Alenia mampu membuat film yang bisa disukai sepenuhnya, itu terbukti oleh “Seputih Cinta Melati”. Mungkin karena saya orang Sunda, film ini jadi terasa begitu dekat, humor-humornya terasa tidak asing, saya familiar dengan lanskapnya, bahkan seketika saya seakan bisa menghirup hawa sejuk daerah pedesaan Jawa Barat. “Seputih Cinta Melati” pun jadi pelepas rindu, maklum saya sudah lama tak berkunjung ke kampung halaman, menonton film ini seperti pulang kampung sesaat. Terlepas dari saya yang orang Sunda, film ini bukan berarti hanya bisa dinikmati terbatas untuk orang Sunda saja, dan bukan semata-mata bagus karena “saya berstatus The Sundanese dan harus bilang film ini bagus”, kenyataannya “Seputih Cinta Melati” bagus karena film ini…bagus, yah sesederhana itu. Walaupun saya bukan orang Sunda pun, saya yakin akan mudah untuk menyukai film ini, “Seputih Cinta Melati” begitu mudah untuk dicintai.

Kehangatan begitu terasa dalam “Seputih Cinta Melati”, memeluk erat tak dilepas sejak tiba di awal cerita, berdampingan dengan kisah sederhana. Tak perlu ada drama yang mengada-ngada untuk membuat saya tersentuh, Ari Sihasale paham itu, makanya “Seputih Cinta Melati” pun dituturkan mengalir apa adanya tanpa ingin memaksa-maksa penonton untuk menguras emosinya. Konfliknya pun ada karena tahapan cerita sejak awal mengarah kesana, bukan yang tiba-tiba muncul hanya untuk menyeret-nyeret rasa simpatik penontonnya. Setulus karakter Rian dan Melati, film ini juga tulus dalam bercerita, hanya ingin membuat karya yang semoga bisa menghibur, tapi kemudian “Seputih Cinta Melati” lebih dari sekedar hanya film yang menghibur, lebih dari itu, film ini istimewa. Dengan dukungan pemain yang mempersembahkan performa terbaiknya, film pertama Alenia yang bertemakan reliji ini pun semakin istimewa. Khususnya berkat akting Fatih Unru dan Naomi Ivo Saskia sebagai Rian dan Melati yang bisa dikatakan mempesona, keduanya primadona di film ini. Tak hanya kepolosan mereka yang begitu tampil natural serta apa adanya, tapi juga chemistry yang klop layaknya kakak beradik sungguhan. Fatih dan Naomi begitu mencuri perhatian, begitu pula lanskap Jawa Barat yang keindahannya makin sedap dipandang mata berkat kepiawaian Sony Seniawan dibalik kameranya. Keistimewaan dan kesederhanaan “Seputih Cinta Melati” tak saja menjadikan film ini sebagai film favorit saya dari Alenia, tapi juga so far jadi salah-satu film Indonesia terbaik tahun ini.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Before I Wa...
10 Film Indonesia Te...
Review - The Void (2...