Review – Deliver Us From Evil (2014)

written by Rangga Adithia on July 25, 2014 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with no comments

Bermodal “The Exorcism of Emily Rose” yang disutradarai oleh Scott Derrickson di tahun 2005 silam, tema exorcism alias pengusiran setan bisa dikatakan bukan sesuatu yang baru untuk Scott. Jadi ketika mengetahui “Deliver Us From Evil” ini ditangani oleh Scott, saya begitu tertarik ingin melihat hasil akhirnya seperti apa, terlebih karena “The Exorcism of Emily Rose” itu termasuk dalam daftar favorit versi saya untuk film-film bertema pengusiran setan. Apalagi setelah Scott cukup sukses dengan film horor berbujet murah, “Sinister” di tahun 2012, momentum baik untuk Scott kembali ke ranah film horor tahun ini. Ketika tak banyak horor mumpuni yang bergentayangan di bioskop, hadirnya “Deliver Us From Evil” bisa dibilang pelepas dahaga dari “kering”-nya tema horor tahun ini, khususnya film-film horor yang benar-benar horor, berbeda dengan tahun lalu yang diramaikan oleh “The Conjuring” dan sekuel “Insidious”. Tanpa menaruh ekspektasi berlebih pada “Deliver Us From Evil”, film ini memang ternyata meleset dari harapan saya untuk benar-benar ditakuti di dalam bioskop, tapi bukan berarti saya kemudian melabeli film yang diproduseri oleh Jerry Bruckheimer ini dengan sebutan gagal, toh sejujurnya saya begitu menikmati apa yang dipresentasikan oleh Scott.

“Deliver Us From Evil” memang tidak seseram film hantu-hantuan si James Wan, bahkan keseluruhan film akan tampak seperti sebuah film bertema kriminalitas ketimbang horor yang utuh. Dimana nantinya unsur crime jadi nyawa di film ini, walaupun tak serta-merta menganak-tirikan elemen horor-nya, Scott toh tetap sedang menghadirkan sebuah film horor, jadi momen-momen menakutkan dan beberapa jump scares kadaluarsa tidak lupa dia selipkan di sepanjang film. Scott setidaknya tahu kapan dan dimana meletakkan bagian horor, menyempilkannya tak tertebak dan masih terkesan tidak murahan, sambil asyik mengarahkan Eric Bana main polisi-polisian sebagai Ralph Sarchie, si polisi New York yang dengan “radar” kejahatannya selalu sukses meringkus penjahat-penjahat berbahaya. Tak seperti malam-malam sebelumnya, Ralph kemudian menangani kasus seorang wanita yang tiba-tiba melempar anaknya ke kandang singa, awalnya Ralph hanya melihat ini sebagai kasus aneh yang biasa, sampai kemudian dia bertemu pastur bernama Mendoza (Édgar Ramírez) yang menyebut si wanita pelempar anak tak gila tetapi kerasukan. Ralph tidak percaya sedikitpun, matanya perlahan terbuka ketika kasus yang dia tangani semakin lama semakin ganjil dan menjurus ke hal-hal yang selama ini dia tidak mau percaya, yaitu supernatural.

Sebagai sebuah film yang menjadikan horor sebagai topangannya, diatas sebuah cerita yang berjalan dalam koridor crime movie, “Deliver Us From Evil” memang tak akan sepenuhnya melulu horor-hororan di sepanjang durasinya yang hampir dua jam tersebut. Scott kebanyakan akan mengajak kita berputar-putar bermain detektif-detektif-an dan mengupas misteri yang membelenggu kasus demi kasus yang sedang ditangani Ralph Sarchie. Walaupun sepertinya begitu tunduk pada materi mentahnya, yaitu buku non-fiksi karangan Ralph Sarchie dan Lisa Collier Cool, berjudul “Beware the Night”, Scott Derrickson tetap mampu menghadirkan film yang tak saja nyaman untuk diikuti dengan cerita yang didasarkan true story tersebut, tapi juga didukung dramatisasi dan visual yang menjadikan film pada akhirnya menghibur. “Deliver Us From Evil” tak sampai berujung membosankan, walaupun lebih condong mengupas cerita ketimbang berusaha menakut-nakuti penontonnya—ada kasus yang mesti dipecahkan dan nasib keluarga Ralph yang ikut dipertaruhkan—tapi Scott mampu menghadirkan semua bagian dalam porsi yang berimbang, entah itu sisi crime story-nya dan sisi yang mengungkap adanya keterlibatan iblis, sisi horor di film ini. Saya setidaknya dibuat betah ketika harus mengikuti kemanapun Ralph pergi, dalam upayanya memecahkan kasus, film ini pun tidak terlalu memaksakan cerita untuk jadi begitu complicated, hanya untuk terlihat jadi pintar, sejak awal Scott tahu mau membawa “Deliver Us From Evil” ke arah mana, walau tak seseram yang saya bayangkan, saya setidaknya masih bisa menikmati setiap babak yang dikupas oleh Scott sambil juga ikut penasaran.

“Deliver Us From Evil” pun didukung oleh tone yang pas, menghadirkan suasana tidak karuan dan tidak menyenangkan, mood yang tampaknya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Scott, seperti yang dia lakukan di “Sinister”. Begitupula saat background musiknya mulai menghentak-hentak, distorsi yang mengaung-aung dengan satu tujuan, yakni membuat saya merasa terganggu. Semua itu menyatu, ketika tiba saatnya Scott mulai menghadirkan gambar-gambar disturbing, inilah yang sebetulnya saya tunggu-tunggu di “Deliver Us From Evil”. Scott Derrickson memang tak terlalu jago untuk urusan menakuti, tapi satu hal yang pasti, untuk urusan membuat saya tidak nyaman, saya bisa mengandalkan Scott. Dari hanya adegan seorang wanita gila yang menggaruk-garuk tanah sampai tiba waktunya Scott melakukan aksi pengusiran setan. Walau tak sebanyak yang saya inginkan, adegan-adegan tidak mengenakan tersebut setidaknya sudah mampu membuat saya mengacungkan jari tengah pada Scott Derrickson. Horornya memang tidak seseram yang saya harapkan, tapi Scott sudah melakukan pekerjaan dengan baik, menghadirkan tema pengusiran setan dalam film untuk jadi se-realistis mungkin dan tidak terkesan dibuat-buat dengan dramatisasi yang berlebihan pula. Visual-visual disturbing pun jadi sajian menyenangkan di “Deliver Us From Evil”, setia mendampingi cerita yang diluar dugaan begitu asyik untuk diikuti.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Invitat...
Review - Cipali KM 1...
Review - Munafik (20...
Tujuh Film Horor Fav...