Review – Bajaj Bajuri The Movie (2014)

written by Rangga Adithia on July 30, 2014 in CinemaTherapy and Comedy and Film Indonesia with no comments

“Oneng banget elo!”, ungkapan yang sering saya dengar jika ada seseorang yang lemot alias telat mikir, mirip karakter Oneng yang dimainkan Rieke Diah Pitaloka di sitkom populer “Bajaj Bajuri”. Ungkapan itu bisa dibilang lahir dari karakter si Oneng yang memang selalu telat dalam memproses apa yang sedang terjadi, yah kelemotan inilah yang jadi trademark-nya Oneng, salah-satu sumber kelucuan di “Bajaj Bajuri”. Ketika stasiun televisi kita diramaikan acara-acara tidak penting, “Bajaj Bajuri” pada jamannya adalah penyelamat, akhirnya ada sinetron/sitkom yang layak untuk ditonton, beda dari yang lain, fresh dan yang paling terpenting “Bajaj Bajuri” itu pure lucunya. Selain Oneng, saya bisa bilang semua karakternya punya ciri khas masing-masing dan memorable sampai sekarang ketika program sitkomnya sendiri sudah lama tidak ditayangkan lagi, termasuk si Bajuri sendiri yang diperankan oleh Mat Solar dan tentu saja Emak (diperankan Nani Widjaja), karakter mertua yang jadi simbol mimpi buruk bagi menantu manapun.

Oneng yang oneng, Bajuri yang selalu di-bully mertua, Emak yang culas dan mata duitan, Mpok Minah yang selalu minta maaf setiap mau mulai bicara dan Mpok Hindun yang ganjen nan genit, tak saja membuat masing-masing pemain begitu melekat dengan karakter-karakter yang mereka perankan—ketika melihat Rieke misalnya, diluar aktingnya sebagai Oneng, saya akan tetap melihat dia sebagai Oneng setiap kali muncul di layar televisi—tapi juga karakter-karakter di “Bajaj Bajuri” ini sangat melekat dalam memori saya. Apa yang membuat “Bajaj Bajuri” kemudian dapat mudah diterima dan digemari, saya pikir kesederhanaan dalam setiap episod-episodnya, itulah kuncinya. Kata lucu di “Bajaj Bajuri” dijabarkan dengan apa adanya, ceritanya begitu dekat dengan keseharian, walau terkadang agak absurd. Pertanyaannya adalah, apakah versi layar lebarnya mampu berbuat yang sama, tidak perlu harus meng-copy-paste semua, cukup mengadaptasi apa yang membuat serial televisinya sukses, yaitu kesederhanaan, lucunya tidak ada dibuat-buat untuk memaksa penontonnya ketawa. Sayangnya, saya tidak mampu menemukan kesederhanaan itu, alih-alih sederhana, “Bajaj Bajuri The Movie” ini tampak begitu chaos ketika berusaha menyajikan ceritanya, amburadul!

Kita tidak akan melihat Mat Solar dan Rieke Diah Pitaloka, peran mereka sebagai Bajuri dan Oneng akan digantikan Ricky Harun dan Eriska Rein, yang diceritakan baru saja menikah. Keharmonisan rumah tangga mereka yang (sudah) terganggu oleh hadirnya Emak (Meriam Bellina) yang selalu sukses mem-bully Bajuri serta menjadi provokator—meniup tuduhan jika Bajuri akan kawin lagi—semakin jadi ricuh dan kian rumit saat komplotan perampok pimpinan Hani (Nova Eliza) tiba-tiba saja muncul, terpancing aroma uang 500 juta milik Bajuri hasil penjualan tanah warisan. Well, terkesan dengan tampilan opening/credit title sequence, tak membuat saya kemudian jadi ikut terbawa menikmati keseluruhan “Bajaj Bajuri” versi layar lebar ini. Sejujurnya, saya agak kesulitan untuk menyukai film yang disutradarai oleh Fajar Nugros ini, tapi semakin saya berusaha mencari-cari apa yang bisa saya sukai, saya justru semakin tidak betah duduk lama-lama di Bajaj milik Ricky Harun, yang sejak awal memang sudah tak terasa nyaman. Alih-alih dibawa untuk bernostalgia, “Bajaj Bajuri The Movie” malah membawa saya berputar-putar tak karuan, akhirnya pulang pusing kepala hampir gila.

Mungkin selera humor saya yang dangkal atau memang “Bajaj Bajuri The Movie” tidak lucu, tapi yang jelas dalam soal penceritaan, layer demi layer-nya dipaksa dan dibiarkan untuk bertumpuk, tapi sayangnya “dijahit” asal jadi, disajikan asal lucu. Jika serial televisinya mampu menghadirkan karakter-karakter yang jenaka secara individu, maupun ketika disatukan dalam satu frame, versi filmnya masih beruntung punya Meriam Bellina dan Eriska Rein, mereka masih mampu untuk mencuri perhatian saya, Emak sesuai dengan harapan saya, biang kerok dan jadi provokator handal, Meriam Bellina mampu menghidupkan karakternya dengan baik dan sesuai porsinya. Begitu juga dengan Eriska Rein, walaupun level lemot dan ke-oneng-annya tak bisa mengalahkan versi Rieke, tapi Eriska tampil lebih baik ketimbang Ricky Harun yang disepanjang film justru satu-satunya yang tak pada tempatnya. Tampaknya “Bajaj Bajuri The Movie” sudah salah pilih pemain untuk memerankan Bajuri muda, Ricky Harun begitu asyik sendiri dengan peran yang sama sekali saya tidak pedulikan. Dengan karakter yang disiapkan kurang matang di atas cerita yang bertumpuk tak karuan, “Bajaj Bajuri The Movie” tidak saja gagal membuat saya tertawa, tapi juga film yang melelahkan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Bone Tomaha...
Review - Ghost Diary...
Review - Juara (2016...
Review - The Wailing...