Review – Oculus (2014)

written by Rangga Adithia on June 8, 2014 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with no comments

Menengok kembali ke tahun 2011, apa yang dilakukan oleh Mike Flanagan pada film horor terbarunya, “Oculus”, kurang lebih tak jauh berbeda dengan treatment horor yang membungkus “Absentia”. Dari sebuah terowongan misterius berbau-bau hawa supernatural yang kental, kali ini kita akan diajak “bermain” via media cermin—dilihat sekilas saja kita bakal tahu ada yang tidak beres dengan bentuk cermin tersebut. Entah apa yang tersembunyi dalam kaca, apakah berhantu? Ada kekuatan gaib?, sejak awal pertanyaan tersebut akan langsung menggentayangi, kurang ajarnya Mike kembali melakukan kelihaiannya mengulur-ngulur waktu, trik sama yang pernah dilakukannya di “Absentia”. Memanfaatkan dengan baik rasa penasaran penonton, kita dipaksa untuk tunduk pada apa yang diinginkan Mike, menunggu jawaban sambil Mike kemudian sibuk mempermainkan kita. Trik tersebut saya rasa cocok untuk “Absentia”, karena dengan bujet-nya yang super-mikro kala itu, Mike mau tidak mau dipaksa untuk banyak mengulur-ngulur waktu, namun tetap mampu melakukannya dengan benar, memanfaatkan source yang terbilang sangat terbatas. Pada akhirnya saya bisa memaklumi cara “Absentia” memaparkan apa yang kemudian saya sebut dengan horor ala Mike Flanagan, walaupun bergerak merangkak tapi alasannya bisa dipertanggung-jawabkan dan alur lambannya justru membantu film ini membangun cerita dan misteri yang menyelimuti “Absentia”. Apakah formula yang sama akan berhasil untuk “Oculus” yang didukung oleh bujet yang tentunya jauh lebih besar.

Cetak birunya sendiri diambil dari film pendek berjudul “Oculus: Chapter 3 – The Man with the Plan”, yang disutradarai oleh Mike Flanagan sendiri di tahun 2006 silam. “Oculus” nantinya akan berfokus pada dua karakter kakak-beradik Kaylie Russell (Karen Gillan) dan Tim Russell (Brenton Thwaites), yang harus kembali ke rumah lama mereka untuk menghancurkan sebuah cermin, bukan sembarang cermin, karena cermin inilah yang sudah bertanggung jawab membuat mereka tak punya memori masa kecil yang bahagia layaknya anak-anak seusia mereka. “Oculus” bukan horor seperti “Paranormal Activity” atau “Insidious” yang gemar bermain dengan jump scare, tapi memanfaatkan sisi psikologis penonton dalam menciptakan horornya. Jadi jangan berharap Mike akan menakuti dengan segala tetek-bengek penampakan yang siap mengaget-ngagetkan kala penonton lengah. “Oculus” benar-benar membutuhkan kreatifitas penontonnya, bisa dibilang film ini hanya menyiapkan bahan-bahannya saja, sambil bergulirnya cerita, ketakutan dan horor dalam film justru hasil kreasi penontonnya sendiri. Jadi kebanyakan gambaran horor tersebut hanya hilir-mudik di dalam otak, padahal belum tentu apa yang nantinya dihadirkan di layar sama seperti yang kita bayangkan. Inilah salah-satu trik “Oculus” untuk menjebak penontonnya, kita kemudian ditantang untuk terus menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Saya menyukai horor yang menakuti ala “The Conjuring” dan selalu tertarik dengan horor yang dikemas layaknya “Oculus”, tidak hanya menakuti lalu melarikan diri tapi juga butuh aktifitas otak untuk lebih keras bekerja dalam mengungkap misterinya.

Dengan cerita yang ditulis oleh Mike Flanagan sendiri bersama Jeff Howard, kita nantinya tak saja dipaksa untuk berpikir, mencerna dan menangkap setiap clue, walau pada akhirnya selalu berhasil dikibuli oleh sang cermin ajaib, “Oculus” pun ingin kita lebih punya kesabaran extra, terlebih di paruh pertama, dimana cerita begitu bergerak lamban disertai banyak dialog-dialog membingungkan. Disinilah titik dimana “Oculus” bisa saja kehilangan penontonnya, beruntung saya cukup bisa bersabar walaupun diserang rasa kantuk yang hebat bukan main, maklum saya menonton di jam tayang midnight. Jadi ada baiknya pilih waktu yang tepat untuk menonton “Oculus”, jangan pada saat lelah, bisa-bisa malah tertidur pulas sebelum film sempat melompat ke paruh kedua. Paruh pertama memang cukup membosankan, selagi kita sibuk diperkenalkan motif kedua karakter utama, film hampir tak menawarkan apa-apa selain membangun background story, lengkap dengan obrolan yang mudah dilupakan tentang bagaimana Russell bersaudara akan menghancurkan cermin terkutuk tersebut. Di paruh awal inilah Mike punya peran untuk menjejalkan otak kita dengan segala pertanyaan, walaupun kita pun sebenarnya sudah mengetahui apa yang terjadi dengan keluarga Russell berkat beberapa flashback yang ditempel berbarengan dengan cerita di masa sekarang. Tapi rasa penasaran yang satu hilang, tumbuh seribu penasaran lainnyalah yang membuat “Oculus” tetap layak untuk disimak sampai selesai.

Jika bersabar melewati paruh pertama, maka paruh kedua seperti sebuah hadiah yang tak disangka-sangka. “Oculus” bisa dibilang mulai menampakkan kengerian dan horor yang ditunggu-tunggu di paruh ini, begitu kita masuk ke dalam rumah lama kediaman keluarga Russell. Kurang lebih satu jam setelah melihat adegan ponytail Kaylie yang mengayun kesana-kemari di pembuka film, “Oculus” lewat cermin ajaibnya seakan tidak sabar mengajak penonton bermain…agak seperti sebuah pertunjukan sulap yang dibumbui atraksi horor nan disturbing. Tapi yah sekali lagi bukan tipikal horor yang siap menjejalkan jump scare setiap 10 menit sekali atau tiba-tiba ada wajah dedemit jelek menutupi keseluruhan layar, diakui “Oculus” lebih pintar dari hanya nakutin terus lari alias “horor tabrak lari”. Sejak awal premisnya memang menarik dan diikuti oleh konsep cermin terkutuk yang gemar mempermainkan pemiliknya, saya akui “Oculus” punya ide keren soal film horor yang berbeda. Saya juga begitu menikmati ketika film yang punya bujet 5 juta dolar ini ikut mengajak kita menerka dan menebak “kecurangan” apalagi sih yang bakal diperlihatkan sang cermin ajaib untuk mengelabui dua kakak-beradik sekaligus kita penontonnya. Sayangnya makin menjelang penghujung durasinya, “Oculus” justru terlihat semakin lemah dan lemah, tidak saja dalam soal hadirkan adegan horornya tapi juga untuk urusan penceritaan, padahal menggabungkan dua masa yang beda dalam satu timeline tanpa cacat itu sekali lagi poin menarik di “Oculus”. Sisi penceritaan di masa lalu justru lebih menggigit ketimbang masa sekarang yang semakin membosankan karena Mike kembali mengeluarkan trik khasnya dalam mengulur-ngulur waktu. Untungnya masih ada Karen Gillan yang nantinya akan bermain sebagai Nebula di “Guardians of the Galaxy”, aktingnya tetap cemerlang walaupun kualitas filmnya sendiri makin kendor menuju akhir. Tapi saya masih akui “Oculus” punya konsep yang keren sebagai film horor yang mengetengahkan tema cermin terkutuk.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - The Invitat...
Review - Cipali KM 1...
Review - Blair Witch...
Review - Before I Wa...