Review – Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014)

written by Rangga Adithia on May 15, 2014 in CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with no comments

Sekali rilis langsung tiga film sekaligus, tampaknya Film Indonesia semakin sulit untuk bernafas, kian gontok-gontokan mencari penonton kita yang tak seberapa. Berbarengan rilisnya dengan dua film komedi remaja yang notabennya memiliki peluang lebih banyak untuk mencuri hati penonton, “Luntang-Lantung” dengan sutradara Fajar Nugros dan “Marmut Merah Jambu”-nya Raditya Dika, “Sebelum Pagi Terulang Kembali” jelas kemudian terkesan terpinggirkan, padahal kualitas dan pesan yang diusungnya begitu baik. Saat saya menulis review ini, seminggu setelah penayangannya 8 Mei kemarin, drama keluarga yang disutradarai oleh Lasja F Susatyo (Mika) ini sudah limited lokasi penayangannya, di Jakarta hanya tinggal satu bioskop saja, itu pun berbagi layar dengan film lain. Miris memang, di tengah gempuran film-film non-lokal, kebijakan bioskop makin mencekik dan pelan-pelan membunuh film lokal, sekarang naik layar, bisa jadi besok atau lusa sudah turun layar alias tak lagi tayang. Jumlah penonton lagi-lagi dipertaruhkan, jadi penentu apakah film yang hari ini rilis bisa hidup sampai minggu depan. Well gerakan #KamisKeBioskop walau baik tujuannya, tampaknya hanya kena kepada segelintir orang—itu pun sebatas kaum 140 karakter. Penonton Indonesia saya pikir masih sulit untuk diajak-diajak nonton film Indonesia, ya apalagi “dipaksa” nonton di hari Kamis, wong saya saja sudah makin jarang nonton film Indonesia pas hari pertama tayang—alasan klise waktu dan kesibukan—namun film lokal tetap saya dahulukan ketimbang Hollywood. Film bule bisa nanti, nafasnya lebih panjang, sedangkan film Indonesia nafasnya engap-engapan, tak sempat nonton hari ini bisa saja besok sudah digusur oleh film yang lebih laris .

Menyempatkan menonton “Sebelum Pagi Terulang Kembali” adalah pilihan yang tepat, walaupun ini film “titipan” dan nantinya terdapat kekurangan disana-sini, saya cukup terkesan dengan kesederhanaan yang dihidangkan hangat oleh Lasja, sesuatu yang jarang dihadirkan oleh sekian banyak film yang belakangan tayang, apalagi ini film bercerita tentang keluarga. Ditulis oleh Sinar Ayu Massie dan M Abduh Aziz, kekuatan terbesar film ini memang ada pada kata “keluarga”, sejak awal kesederhanaan keluarga Yan (Alex Komang) sudah mengajak saya bertamu dalam rumahnya, kehangatannya membuat saya rindu keluarga, jadi film ini pun tak perlu susah-susah untuk mengajak saya masuk dalam cerita. Tanpa disadari, saya seperti sudah bagian dari keluarga Yan, perlahan mengenal sosok sang Ibu, Ratna (Nungky Kusumastuti) yang dosen filsafat itu dan ketiga anak yang punya sifat berbeda satu sama lainnya. Ada Firman (Teuku Rifnu Wikana), anak paling tua yang baru saja bercerai dan terpaksa balik ke rumah sambil mencari kerja, pendiam tapi diam-diam juga menghanyutkan, sikapnya yang susah ditebak ini yang nantinya ikut mewarnai cerita serta konflik dalam “Sebelum Pagi Terulang Kembali”. Anak kedua, Satria (Fauzi Baadilla), begitu bertolak belakang dengan si abang yang terkesan paling lemah di keluarga. Satria lebih mandiri, selalu dapat diandalkan dan memiliki ambisi besar, bisa dibilang dia akan lakukan apapun itu untuk mencapai tujuannya. Terakhir, ada Dian (Adinia Wirasti), si bungsu yang paling disayang di keluarga dan sebentar lagi akan menikah dengan Hasan (Ibnu Jamil), seorang anggota DPR. Tidak lupa dengan Nenek (Maria Oentoe), yang tak hanya pintar buat kue-kue enak tapi juga paling bijaksana. Semua berjalan baik-baik saja hingga konflik datang seperti tamu yang tak diundang.

“Sebelum Pagi Terulang Kembali” perlu drama, perlu tangis, sama seperti film-film bertema drama lainnya yang butuh trigger, untuk membuat penonton untuk ikut hanyut dalam jalinan cerita yang sedang dibangun. Bedanya, tentu saja dari cara menggarapnya, Lasja melangkah di jalur yang benar. Drama tak dipaksakan untuk menyeret-nyeret perasaan penonton, konfliknya pun dibiarkan mengalir tanpa menarik-narik paksa emosi saya. Sebaliknya, sejak menit pertama film ini mengenalkan karakter-karakternya, saya dibiarkan untuk mengamati saja tanpa merasa didorong-dorong untuk terikat lebih jauh dengan Yan dan keluarganya. Tanpa diburu-buru juga, Lasja mencoba membuat kita lebih dekat dulu dengan karakter-karakter yang berseliweran di film—jumlahnya banyak. Tujuannya yah untuk membuat kita nantinya (lebih) peduli ketika Yan dan keluarganya digeser ke dalam konflik demi konflik yang sudah disiapkan film ini. Karena kebiasaan di film kita, penonton dibiarkan tidak punya waktu untuk dekat dengan karakter di film yang mereka sedang tonton, tiba-tiba sudah dicekoki drama yang berlebihan dan tangis-tangisan darah yang membuat saya justru menjauh dan tidak peduli dengan apa yang saya tonton. Tidak demikian dengan film ini, mengorbankan pace-nya yang diperlamban, hasilnya saya tidak hanya jadi lebih kenal karakter-karakter yang saya pantengi, tapi terikat secara emosional. Kini tinggal seperti apa Lasja memaparkan cerita lebih lanjut berserta konflik agar terlihat wajar dan tak terkesan “iklan layanan masyarakat”, tak juga menggurui penontonnya.

Pekerjaan rumah Lasja bisa dibilang menumpuk dalam “Sebelum Pagi Terulang Kembali”, sambil dia mempertahankan tone cerita yang sudah dibangun hangat, mengulik konflik agar tersaji wajar tak berlebihan, Lasja juga punya PR membagi porsi para pemain yang ramai, sebuah ensemble cast, yang jika tidak di-treatment dengan sebaik-baiknya justru akan jadi bumerang bagi filmnya. Beruntung Lasja masih mampu menangani Alex Komang, Nungky Kusumastuti, Adinia Wirasti, Teuku Rifnu Wikana, Fauzi Baadilla, Ibnu Jamil dan pemain pendukung lainnya, untuk bermain baik sesuai porsi yang mereka miliki. Walau tak bisa dipungkiri, Lasja juga tak sesempurna itu dalam meng-handle jajaran cast-nya untuk main seperti yang dia inginkan. Di beberapa bagian karakternya seperti stuck atau bisa jadi lamban berkembang, karakter Firman misalnya, yang malah diberikan porsi untuk mengulur-ngulur waktu dengan menyempilkan kisah cinta-cinta-an yang terlarang dengan Nisa (Maryam Supraba). Tambahan konflik yang justru malah membuat cerita kehilangan fokusnya, film ini memang beberapa kali tersandung untuk menyelesaikan konfliknya, dipaparkan asalnya konflik tapi terkesan main aman dan menggampangkan penyelesaiannya. Yah konflik-konflik kecil memang jadi warna yang membuat “Sebelum Pagi Terulang Kembali” jadi lebih dapat feel drama keluarganya, ketika saya justru jemu dengan konflik besarnya yang tidak kemana-kemana. Setidaknya film ini tak menjadikan konflik tersebut alasan klise untuk menceramahi penonton, walau film titipan, pesan-pesan anti korupsinya disampaikan dengan wajar dan tak terkesan menggurui. Seperti tanpa kita sadari juga korupsi bisa datang darimana saja, termasuk dari dalam keluarga sendiri.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - A Copy of M...
Review - Turbo Kid (...
Review - Blair Witch...
Review - Under the S...