Arthur’s Day 2013: Konser Mew Yang Tak Akan Terlupakan!

written by Rangga Adithia on November 4, 2013 in Concert Report with 2 comments

Kira-kira 10 tahun yang lalu, secara tidak sengaja saya mendengar sebuah lagu di radio, awalnya saya sok cuek tanpa mau tahu siapa band yang membawakan lagu yang lama-lama mulai mengusik pikiran saya tersebut. Toh, pikir saya bukan tipe musik yang bakal saya suka, tapi nyatanya setiap kali diputar saya justru seperti ditampar bulak-balik, ada perasaan aneh berkecamuk dalam dada, dan klise-nya saya mulai menyukai lagu yang sejak awal memang enggan pergi meninggalkan ruang memori di otak saya. Lagu tersebut berjudul “Comforting Sounds”. Sebuah awal perkenalan yang malu-malu tapi begitu berkesan, sejak saat itu saya sudah dibuat jatuh cinta dengan “Mew”, lewat album masterpiece bertajuk “Frengers”. Ketika sisi brutal saya selalu bisa dipuaskan oleh musik-musik yang membentak-bentak, sisi lain saya yang terbilang lebih halus, selalu menemukan kedamaian dalam musik yang dibawakan oleh Jonas dan kawan-kawan. Lagu demi lagu Mew bisa dikatakan sudah jadi bagian dari hidup saya, banyak cerita manis sekaligus kenangan indah yang bersembunyi diantara lirik demi lirik lagu-lagu Mew. Tapi saya disini kali ini bukan untuk bercerita tentang masa lalu, bukan untuk curhat tidak penting hahahaha, melainkan menceritakan lagi pertemuan berkesan saya dengan Mew, akhirnya setelah empat tahun mereka datang lagi tidak saja untuk menghibur telinga, tapi juga menghibur hati.

Jika bukan karena Mew, mungkin saya lebih memilih untuk menonton DVD saja di rumah, ketimbang datang ke “Arthur’s Day” yang lokasinya tidak bersahabat, Kemayoran. Waduh. Saya hanya pernah dua kali datang ke venue tersebut, untuk melihat “KoRn” dan “Prodigy”, setelah itu bisa dibilang Kemayoran saya blacklist karena alasan lokasinya ribet hahahaha. Well, walaupun Mew dijadwalkan naik panggung pukul 10 malam, saya sudah datang sekitar pukul 7, selain Mew, ada dua band lain yang tampil: Club 8 yang sama sekali saya tidak kenal (serius) dan One Republic, yang satu ini tentu saja saya cukup familiar. Sampai di venue saya langsung disambut oleh antrian panjang, sebelum masuk area konser pun wajib memperlihatkan kartu identitas, yang dibawah umur langsung “ditendang”, yah maklum acara disponsori oleh produk minuman keras. Masuk ke hall, saya pun langsung senyum-senyum hore—bukan saja karena banyak bir—karena stage di depan saya nantinya akan ada Mew. Ngaret cukup lama, sekitar setengah jam, akhirnya hall segede gaban tempat Arthur’s Day berlangsung tiba-tiba saja riuh oleh suara penonton, karena di atas panggung sudah tampil “Club 8”. Band yang aslinya beranggotakan dua orang saja, Karolina Komstedt dan Johan Angergard ini memang tak banyak menyita perhatian saya, bukan saja karena saya tak tahu lagu-lagunya tapi juga karena energi “lemas” yang dilepaskan oleh band. Sambil duduk malas di lantai beralas karpet, belasan lagu hanya numpang lewat sampai akhirnya “Club 8” menghilang lagi ke balik panggung.

One Republic tampil setelah itu, tanpa banyak basi-basi band asal Amerika yang dibentuk tahun 2003 tersebut langsung melepaskan lagu-lagu hits mereka. Area konser yang sebelumnya sepi pun langsung berubah ramai, semarak dan enerjik begitu “Don’t Look Down”, “Secrets”, “All The Right Moves”, “Stop and Stare” dan “Good Life” saling bergantian dimainkan. Aura konser tentu saja berbeda dengan Club 8 sebelumnya, semangat meletup-letup yang dilemparkan oleh sang vokalis Ryan Tedder yang tidak bisa diam di atas stage, memang spontan langsung ikut menyihir penonton dibawahnya untuk ikut menggila dan loncat-loncatan. Walau hanya tahu beberapa lagu, saya terhibur sekaligus terpukau oleh aksi live band yang Maret lalu baru saja menelurkan album baru berjudul “Native” ini. Dengan didukung oleh segi teknis yang mantap, termasuk piano Ryan yang bisa menyala, One Republic sudah memberikan suguhan yang apik malam itu. Mew kemudian tampil belakangan, tapi sambutan penonton tidak kalah ramai, saya yang sudah bergerak lebih dekat ke panggung langsung disuguhkan oleh “Making Friends”. Setelah itu berurutan “Special” dan “Zookeeper’s Boy” dari album “And the Glass Handed Kites” dimainkan oleh Jonas dan kawan-kawan, menghipnotis penonton untuk hanyut dalam lirik-lirik indah yang tersembunyi dalam musik Mew. Saya tiba-tiba teriak sebelum lagu ke-4 “Snooooow Brigaaaaaade!!”, ternyata memang lagu tersebut yang kemudian dimainkan, lagu yang memang saya tunggu-tunggu. “…I’ll find you somewhere, show you how much I care, know that there is no escape from my snow brigade”, saya pun ikut bernyanyi bersama. Bahagia. Welcome back, Mew!

Sempat ber-basa-basi-ria di awal konser, Jonas seperti biasa langsung anteng di balik microphone-nya, begitu khusu’ menyanyikan lirik demi lirik sekitar 17 lagu yang dibawakan Mew malam itu. Sesekali Madsen sebelum memainkan gitarnya lagi menyempatkan menyapa penonton dan menyampaikan betapa senangnya ia bisa datang lagi ke Jakarta. Sedangkan Silas asyik sendiri menggebuk-gebuk set-drumnya dengan semangat dan enerji yang tak ada habisnya. “She Spider” yang berasal dari album “Frengers”, kemudian “Apocalypso”, “Saviours of Jazz Ballet”, “Circuitry of the Wolf”, “Chinaberry Tree” dan “New Terrain” bergantian hadir jadi semacam stimulan yang makin membuat penonton, termasuk juga saya larut dalam suasana keriaan ala Mew. Hanya Mew yang bisa membuat saya bagaikan habis meminum obat penenang yang kelebihan dosis, melayang-layang bahagia terbius oleh lagu-lagu yang menginjeksi hati dengan perasaan yang bercampur-aduk, emosi terkuras habis. Mew pun sempat memainkan lagu barunya “Klassen” sampai akhirnya mereka menghilang satu persatu ke balik panggung setelah lagu “Hawaii”, “Am I Wry? No” dan “156”. Tanpa diperintahkan, penonton yang belum puas pun langsung spontan meminta Mew memainkan lebih banyak lagu lagi. Ya tentu saja masih ada encore, Mew pun balik ke atas panggung, “Eight Flew Over, One Was Destroyed” dan lagu pamungkas yang tampaknya dinanti semua orang “Comforting Sounds” jadi lagu penutup. Melodi yang menusuk-nusuk mengakhiri konser dibarengi tembakan konfeti ke udara yang menghiasi malam itu menjadi lebih indah. Walau rasanya beda dengan konser 4 tahun lalu, konser kali ini tetap tidak akan pernah bisa saya lupakan. Terima kasih Mew!