Review: Kick-Ass 2 (2013)

written by Rangga Adithia on September 11, 2013 in Action and CinemaTherapy and Hollywood with one Comment

Ditinggalkan Matthew Vaughn yang lebih tertarik untuk menyutradarai “X-Men: First Class”, tampaknya jadi pukulan telak bagi sekuel film yang di tahun 2010 lalu sukses mengantongi 96 juta dolar dari bujetnya yang hanya 30-an juta dolar saja. Matthew Vaughn jelas punya jurus yang lebih asyik ketika mengesekusi aksi demi aksi para jagoan di “Kick-Ass”, dan ketika menonton film pertama, sebodoh apapun adegannya, saya sama-sama menikmatinya dengan sepenuh hati seperti halnya sederet adegan epik yang dihambur-hamburkan film tersebut. Saya cinta setulus hati dengan “Kick-Ass”, tapi untuk sekuelnya, begitu banyak catatan yang membuat saya begitu sulit untuk mencintainya. Well, di tangan Jeff Wadlow yang juga merangkap sebagai penulis naskah, “Kick-Ass 2” saya akui masih ada di jalur yang ditapaki oleh predesesornya, semua keseruan, kekerasan dan mulut manis Chloë Grace Moretz tetap jadi hidangan utama, tapi entah kenapa level awesome yang saya rasakan dulu seakan terpangkas setengahnya, itu cukup banyak. Untuk film yang sekuelnya saya tunggu-tunggu, “Kick-Ass 2” memang tidak sepenuhnya mengecewakan, tapi juga tak benar-benar memuaskan saya, layaknya ditembak roket yang tidak meledak, seperti ditebas oleh pedang samurai yang tumpul. Jeff Wadlow tahu bagaimana cara memukul tapi beberapa kali pukulannya meleset.

“Kick-Ass 2” nantinya akan berfokus pada kelanjutan hidup Dave Lizewski yang memilih untuk kembali ke kehidupan remaja normal, menggantungkan kostum ketatnya yang dibeli online. Kehidupan superhero yang membuatnya berstatus “selebritis” justru ditinggalkan, karena Dave sadar menjadi Kick-Ass merupakan pekerjaan yang berat. Dave kemudian move on, menjalankan apa yang sejak dulu paling bisa dia lakukan, yaitu menjadi “kutu buku” di sekolahnya. Namun setelah semua yang dia lakukan sebagai Kick-Ass, jiwa superhero-nya tidak benar-benar lenyap, dia merasa kesepian dan justru gelisah ketika menjadi orang biasa. Maka diputuskan menjadi Kick-Ass bukan sebuah pilihan, tapi takdirnya, tapi sebelum terjun ke jalan membela keadilan, Dave sadar dia harus punya modal lain selain kenekatannya, setidaknya Dave tidak lagi babak belur dihajar preman kampung. Untungnya, Mindy Macready alias Hit-Girl yang sekarang diasuh oleh teman sang Ayah, mau membantu Dave berlatih. Hit-Girl yang memang superhero beneran ketimbang Dave pun memberikan bermacam pelatihan, dari latihan fisik biasa, beladiri, sampai menembak Dave tepat ke dada seperti apa yang dilakukan Big Daddy ketika melatih Hit-Girl. Akhirnya Kick-Ass siap untuk beraksi, dan kali ini dia tidak sendirian, banyak superhero jadi-jadian yang muncul terinspirasi oleh kehebatan Kick-Ass. Salah-satunya yang tergabung dalam tim “Justice Forever”, pimpinan Colonel Stars and Stripes. Tentu saja kebaikan tidak pernah bermain-main sendiri, superhero tidak akan pernah lengkap tanpa hadirnya super villain. Ketika Kick-Ass siap melawan penjahat, di sisi lain Chris D’Amico pun bersiap-siap membalaskan dendam ayahnya dalam wujud “The Motherfucker”.

Dengan jeda hampir tiga tahun dari film pertama, “Kick-Ass 2” jelas punya cukup waktu untuk mematangkan naskahnya, yang masih hasil adaptasi dari dua komik (Kick-Ass 2 dan Hit-Girl) karangan Mark Millar tersebut. Tapi tampaknya walau sekuel ini masih berada di bawah pengawasan Matthew Vaughn selaku produser, Jeff Wadlow tampak kelimpungan mengerjakan semua seorang diri, skripnya tak ada masalah menurut saya, tapi ketika tiba giliran untuk memvisualkan, Jeff agak kurang percaya diri dengan visinya, hasilnya kelihatan setengah-setengah, kalau tidak mau dibilang sok asyik hehehehe. Ketimbang film pertama, sekuelnya jelas ingin lebih banyak bercerita lebih dalam menyorot masing-masing jagoan kita, di balik topeng mereka, kegalauan Kick-Ass dan Hit-Girl dengan pilihannya, antara ingin menjadi yang mereka inginkan dan jadi orang normal. Ternyata menjadi superhero justru terlihat lebih gampang ketimbang berbaur dengan kehidupan yang normal, kehidupan sekolah malah lebih mengerikan dibandingkan ketika harus melawan penjahat bersenjata. Yah bermacam konflik personal yang ingin dihadirkan oleh Jeff, memang nantinya jadi “hiasan” yang membuat film ini lebih menarik, tidak hanya action tak berotaknya saja. Walaupun di beberapa bagian, porsi drama tersebut terasa diulang-ulang dan dipanjang-panjangkan, padahal harus berbagi dengan aksi-aksi yang ingin ditampilkan “Kick-Ass 2”. Jeff memang tak sampai mengorbankan porsi aksi yang jadi menu utama, dan bagian Hit-Girl di sekolah itu setidaknya bisa jadi hiburan tersendiri, walau terlihat klise.

Saya tidak berharap “Kick-Ass 2” jadi lebih sadis dari film pendahulunya, bicara soal sadis, film pertama itu justru tidak sadis buat saya, mau sadis yah baca saja komiknya hahahaha. Matthew Vaughn dan Jeff Wadlow bisa saja kalau ingin jadi sesadis komiknya, tapi tentu ada batasan-batasan bila ingin filmnya ditonton, ya lebih banyak orang…mau jadi terlalu sadis terus dilarang tayang, buat apa. Tapi batasan sadis itu bisa diakali Matthew Vaughn dengan mengesekusi bagian demi bagian aksi berbalut kekerasan tingkat tingginya dengan sangat indah. Berbeda dengan Jeff Wadlow yang sekali lagi kurang begitu lihat memainkan “senjatanya” untuk menaklukkan penontonnya. Alih-alih terlihat awesome, apa yang justru dilakukan Jeff Wadlow hanya menjiplak dan memodifikasi apa yang sudah ada di film pertama, dalam hal perkelahian dan tetek-bengek tusuk-tusukan berdarah-darah. Saya masih terhibur, apalagi sekarang jagoannya banyak dan musuhnya juga tidak kalah banyak, tapi entah terlalu berlama-lama di bagian drama, ketika tiba waktunya untuk jotos-jotosan justru tidak terasa, tahu-tahu sudah selesai, paling terasa pada saat babak penentuan, terlihat terburu-buru. Hasil akhirnya, tidak banyak adegan baku-hantam yang nyantol di kepala, adegan pertarungan yang serba bag-big-bug-crot tapi kurang dipoles, kurang brengsek pokoknya. Ya, ketika level ke-awesome-an “Kick-Ass 2” terasa menurun, mood menonton saya juga agak kurang diangkat-angkat, saat soundtrack sekuel ini juga ikut-ikutan kehilangan sentuhan ngehe-nya, kurang menghentak, kurang menendang. Oke, diantara nilai minus “Kick-Ass 2”, film ini tetaplah sekuel yang menghibur, well Moretz dan kawan-kawan tetap memperlihatkan aksi yang seru, sayangnya Jeff Wadlow kurang motherfucker dalam mengemas semua jadi lebih awesome.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - The Green I...
Review - The Wailing...
Review - Ratu Ilmu H...