Review: Insidious: Chapter 2 (2013)

written by Rangga Adithia on September 24, 2013 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 13 comments

Mengantongi hampir 100 juta dolar dari bujetnya yang hanya 1 jutaan dolar, tak dipungkiri lagi jika sekuel “Insidious” yang diberi embel-embel Chapter 2 punya misi lain selain menghadirkan horor yang lebih seram, ujung-ujungnya mencari untung lebih banyak lagi—sambil menyelam minum air sebanyak-banyaknya, ya namanya juga Hollywood. Terlepas dari didompleng proyek aji mumpung, ketika masih menjanjikan keuntungan besar kenapa harus di-stop, saya tak akan ambil  pusing selama “mereka” membiarkan James Wan melakukan semaunya dia, tidak mengurung proses kreativitasnya dalam meracik film horornya. Saya sebetulnya orang yang tidak terlalu berharap apa-apa dengan yang namanya sekuel, karena kebanyakan sekuel biasanya hanya akan melebih-lebihkan aspek tertentu dalam film, tanpa berniat mengeksplor ceritanya lebih dalam, khususnya untuk genre horor. Seri “SAW” misalnya, yang film pertamanya juga disutradarai oleh James, sekuel-sekuelnya tak lebih dari menjual adegan-adegan sadisnya saja, walaupun diakui saya tetap menonton seri-serinya hanya karena ingin melihat orang-orang dipotong-potong, kesadisan apalagi yang akan ditawarkan. “SAW” menurut saya beruntung masih memiliki Leigh Whannell di tiga seri awalnya, selain hadirkan kesadisan, menurut saya penulis yang kadang juga nyambi jadi aktor ini tetaplah bisa menghadirkan cerita yang masih menarik. Berbekal itu, saya percaya Leigh bisa membuat “Insidious Chapter 2” tak saja asyik dengan penampakan dan jump scares, tapi juga membuat saya peduli dengan racikan ceritanya.

Seram atau tidak seram itu relatif, seperti yang saya singgung di “The Conjuring”, film yang menurut saya seram belum tentu seram buat orang lain. Untuk horor, saya tetap punya standart seperti apa film horor yang bagus, tapi sebisa mungkin akan berusaha ikut apa maunya film dahulu tanpa ingin jadi sok pintar menebak-nebak twist-nya sampai pusing sendiri dan sok berani sambil mengomentari tiap ada penampakan. Pada dasarnya saya itu penakut, tapi selalu suka ditantangin, mungkin karena itulah saya mencintai horor, karena sambil ditakuti-takuti oleh bermacam hantu yang nongol, saya juga merasa tertantang, adrenalin ini seperti terus berbisik “takuti saya, takuti saya”. Untuk menikmati film horor, saya akan menjadi orang yang paling penakut, berusaha beradaptasi dengan filmnya, selalu menempatkan diri saya ada dalam situasi yang sama dengan karakter-karakter dalam film yang saya tonton. Begitupula ketika saya memutuskan untuk nonton “Insidious Chapter 2”, saya kembali menjadi bocah yang selalu takut tidur dalam keadaan lampu mati, bocah yang selalu membayangkan ada tangan-tangan nakal yang tiba-tiba muncul dari kolong kasur. Seperti juga ketakutan saya yang hanya ada di kepala saja, film-film horor yang biasanya mujarab bikin saya lompat dari kursi adalah film yang tanpa ada penampakan pun sudah mampu membuat saya membayang-bayangi yang seram-seram duluan. Metode itulah yang ditawarkan oleh James Wan dan horor-horornya, pakem yang biasanya ada di film-film horor Asia, termasuk beberapa film horor Indonesia, “Pocong 2” misalnya.

“Insidious Chapter 2” memulai cerita tidak lama setelah kejadian di film pertama, dimana Josh dan keluarga akhirnya bisa hidup tenang setelah mengalami banyak “gangguan”. Tinggal sementara di rumah Lorraine (Barbara Hershey), yang tidak lain adalah Ibunya Josh, harapan untuk hidup normal kembali terusik ketika ada sesuatu yang jahat menghantui keluarga Josh. Kali ini James tidak akan lagi bawa penonton untuk mengulang tahapan-tahapan horor yang ada di “Insidious”, tapi langsung menggeber filmnya tanpa ampun sejak awal. Bunyi-bunyian misterius dan benda-benda bergerak sendiri tetap dimasukkan, tapi porsinya sebentar saja sebagai pemanasan, sebelum film ini kemudian tanpa basa-basi memacu jantung berdetak tak karuan dan tak sedikitpun mengijinkan kita untuk bernafas lega. Ya pola yang ditawarkan James Wan di sekuelnya memang terkesan terburu-buru, kita seperti diseret untuk berlari bersama alurnya yang memang kejar-kejaran. Hasilnya tentu saja melelahkan dibanding film pertama, belum lagi penampakan yang tiba-tiba muncul tanpa diminta. Sambil ngos-ngosan mengikuti jalan cerita, James Wan tetap se-brengsek yang saya harapkan, dia mampu menaruh macam-macam penampakan dan jump scares pada waktu yang tepat, hasilnya daya kejut dengan level maksimal. Apa yang saya sukai dari James Wan adalah trik kejutan yang disiapkannya tidak untuk membodohi penonton, dan mampu menggiring penonton untuk masuk tanpa sadar dalam “jebakan” yang sudah disiapkan. Well, untuk urusan menakut-nakuti apa yang dilakukan James Wan memang sudahlah sepantasnya di-anjing-anjingin. Mulut ini sampai berbusa karena terlalu banyak menyumpah-serapahi “Insidious Chapter 2” yang memang kurang ajar.

Biarkan James Wan asyik dengan setan-setannya, karena Leigh Whannell sekali lagi melakukan keahliannya dalam meramu cerita, mengeksplor dunia Insidious lebih jauh ke dalam, ke bagian paling gelap yang kita tak pernah ketahui ada. Yah celah-celah sempit yang dihiraukan dan aspek-aspek kecil yang terlewati, justru jadi bahan eksplorasi Leigh untuk mengembangkan cerita. Jadi terkesan “diada-adain” dan terlalu banyak penjelasan memang, tapi saya mencoba menerima apa yang ingin diceritakan oleh “Insidious Chapter 2”, karena semata-mata apa yang sudah dipresentasikan James dan Leigh di film memang tetap dibuat asyik. Film ini tidak dibuat-buat untuk sok ribet dan pintar, tapi cerita dibangun untuk jadi asupan yang bergizi mendampingi porsi horornya yang lezat. Kepercayaan saya ternyata tidak disia-siakan oleh Leigh Whannell, seperti yang sudah dia lakukan pada seri “SAW”, dia sanggup mengotak-ngatik cerita untuk pada akhirnya saya respon dengan “ngehe banget”. Jadi selagi saya asyik ditakut-takuti, ceritanya tak kalah asyik dinikmati, walau sekali lagi apa yang dilakukan Leigh Whannell agak merusak tatanan dunia “The Further” yang saya bayangkan di film pertama. Oke itu gangguan yang saya bisa hiraukan, karena “Insidious Chapter 2” toh memiliki kelebihan lain selain caranya menakuti-nakuti, seram saja bukan jadi acuan saya untuk bilang sebuah film horor bagus, tapi bagaimana film horor itu dikemas. Di “Insidious Chapter 2”, lokasi, tata kamera dan musik lagi-lagi yang membuat film James Wan menjadi lebih istimewa, sebuah paket yang benar-benar disiapkan dengan matang untuk satu tujuan: MENAKUTI! dan paket itu berhasil. Terakhir, film juga tidak melupakan karakter-karakternya, treatment film ini kepada Josh dan sekeluarga sukses membuat saya peduli pada mereka. “Insidious Chapter 2” sekali lagi adalah sebuah paket horor yang sangat menyenangkan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Ghost Diary...
Review - Raksasa Dar...
Review - Blair Witch...