Review: Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita

written by Rangga Adithia on September 6, 2013 in Action and Asian Film and CinemaTherapy and Film Indonesia with 20 comments

Lupakan Mad Dog di “The Raid”, kita memiliki jagoan baru yang level badass-nya 99 kali lipat—Chuck Norris tinggal sentil tidak apa-apanya—namanya AA Azrax, dan kita bisa lihat aksinya di film “Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita” yang merupakan debut AA Azrax menghajar ketidakadilan. Judulnya semestinya bisa lebih panjang lagi jika AA Azrax mau, “Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita Dari Jakarta Sampai Hong Kong” misalnya. Film AA Azrax terbilang yang tiba-tiba muncul, saya tak pernah menyangka jika AA main di sebuah film action, kaget sudah pasti, lebih mengagetkan ketimbang berita Ben Affleck jadi Batman, yang tampaknya adalah sebuah pengalihan isu agar orang-orang melupakan film terpenting di 2013 tersebut. Setelah poster artistiknya rilis, yang mempertegas jika film ini lebih “laki” ketimbang dua film “Expendables”-nya Sylvester Stallone, belum lagi gambar besar menampilkan AA Azrax bermodel rambut gondrong ala rocker pasundan, itu sudah lebih dari cukup jadi alasan saya untuk tak lewatkan film ini di bioskop, jika tidak mau menyesal dunia dan akhirat. Apalagi hype-nya di sosial media begitu tidak wajar, entah siapa dalangnya, tapi film AA Azrax jadi sangat fenomenal di twitter, banyak orang yang menanti-nantikan aksi AA Azrax di layar lebar, termasuk saya yang sudah bosan dicekoki film Indonesia yang itu-itu aja, kalau tidak cinta-cinta-an basi yah horor idiot. Saya butuh film berbeda, untunglah AA Azrax menjawab kegelisahan saya, dengan menghadirkan film laga yang tak hanya mengobral action tapi juga diboncengi banyak pesan moral.

Dari trailer, saya bisa melihat “Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita” tak masuk kriteria film-film kacrut, melainkan film yang serius dibuat untuk menjadi hiburan, sekaligus mengajarkan kebaikan kepada penontonnya, termasuk salah-satunya adalah ucapkan salam kepada siapapun yang kita temui, mau penjahat sekalipun. AA Azrax mau berantem bilang “Assalamualaikum”, sosok jagoan yang jarang diperlihatkan di film laga kita, tidak saja jago bag-big-bug tapi juga soleh, tidak pernah lupa sembahyang dan selalu ingat Tuhan. Selain itu, AA Azrax juga seorang penakluk wanita, dari perawan-perawan kampung sampai pramugari pesawat yang dia tumpangi sewaktu menuju ke Hong Kong. Puja-puji mengalir deras begitu saya melihat karakter AA Azrax yang tak pernah gentar oleh apapun dan selalu terlihat santai dalam menghadapi setiap masalah. Ketika semua orang gelisah, marah-marah, bingung melawan sindikat perdagangan wanita, AA Azrax terlihat begitu santai, tak pernah berhenti mengingatkan orang-orang di sekitar untuk terus berdoa kepada Tuhan. Subhanallah, AA Azrax ini, karakter yang bisa dibilang sempurna, seorang guru ngaji dan dermawan di kampung, yang digilai oleh para wanita lalu kemudian terbang ke Hong Kong, mengobrak-abrik sarang penyamun penjual wanita-wanita Indonesia untuk dijadikan pelacur disana. AA Azrax tak pernah kenal pamrih, tak pernah meminta bayaran sepeser pun, akan menolong siapapun yang perlu pertolongannya. Kalau ada yang mau berterima kasih, AA Azrax tak akan mau menerima uang, cukup dimasakin ikan bakar dan opor jantung pisang, dia sudah senang, apalagi jika dikupasin pisang. Mau gagah, kuat dan tak pernah kalah seperti AA Azrax, banyak-banyaklah makan pisang.

Edan pisanlah pokonamah “Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita”, saya bisa bilang terlalu banyak ke-epix-an hanya dalam satu film saja, berbagi ruang dengan pesan moralnya yang dijejali tanpa berusaha ingin memaksa penonton untuk jadi baik setelah keluar bioskop. Tak perlulah banyak-banyak pesan moral, melihat tampang AA Azrax yang karismatik itu saja sudah bikin hati saya luluh, ingat dosa, ingat Tuhan dan segera mau tobat. Jika film semacam “Evil Dead” tak sah jika tanpa respon sumpah-serapah-anjing-taik-banget-ngehe dimana-mana, “Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita” sebaliknya, di setiap adegan tak ada hentinya saya ngucap “Astaghfirulloh”. Banyak “nyebut” supaya tetap ingat Tuhan, ngeri juga kalau pulang tiba-tiba mau pindah agama, saking terpesonanya dengan AA Azrax dan mau buat berhala tinggi 4-5 meteran untuk disembah di rumah. “Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita” adalah film yang tak saja jadi sebuah hiburan tapi juga panduan hidup, terlepas dari banyaknya kebaikan yang bisa kita ambil dan resapi dari film berdurasi 108 menit ini (buat saya mah kurang, filmnya harusnya dibuat sampai 4 jam), level epix-nya benar-benar telah sukses menggeser film-film action yang pernah saya tonton selama ini. Lupakan sekuel “Serbuan Maut”, kita butuh serbuan sekuel-sekuel Azrax, tinggal pilih mau melawan siapa lagi, dari sindikat maling beha sampai gembong narkoba, setiap bulan harusnya AA Azrax merilis filmnya. Saya yakin dengan film AA Azrax, film Indonesia akhirnya bisa jadi box office di negeri sendiri. In AA Azrax we trust!

Saya menyesal waktu nonton “Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita” tak menyelipkan minuman berbusa-busa, setidaknya ketika filmnya “memabukkan”, minuman-minuman itu bisa menetralisir agar saya tetap sadar. Film ini sudah sukses menyusun kata epik dengan “se-epik-epiknya”, membawa kata “epik” itu ke level selanjutnya, dari sekedar mempertontonkan adegan AA Azrax menutup pintu markas penjahat seusai memata-matai—di film action lain mana ada yang memikirkan jagoannya repot-repot nutup pintu segala—hingga AA Azrax yang nantinya diperlihatkan baku hantam di sebuah rumah, cabut tiang lampu taman dan gebukin penjahat, kurang sakti apa tuh AA Azrax. Semua dihajar tanpa ada ampun, siapa yang menghalangi AA Azrax siap-siap akan dipelintir oleh AA, cara bertarungnya juga sangat epik dengan koreografi berkelas. Mau berkelahi hanya dengan satu tangan sambil minum-minum (sembahyang jalan, minum jalan terus AA Azrax emang top) sampai nantinya terbang pakai motor—motor yang di awal ngembat dari penjahat, terus sampai akhir film ternyata tuh motor masih dipakai AA Azrax. Silahkan petik sendirilah pesan moral apa yang mau disampaikan film ini, terlalu banyak tapi untungnya AA Azrax bisa menyampaikannya tanpa ingin memaksa menjejalkannya ke kuping penonton. Dengan dialog-dialog briliannya, film ini pun tak banyak menjelaskan, mempercayai penonton, memperlakukan kita sebagai penonton yang cerdas, jadi tak perlu semua dijelaskan, toh penonton sudah mengerti, termasuk kenapa tiba-tiba AA Azrax sudah kenal sama Yama Carlos dan Mario Irwinsyah atau kenapa AA Azrax masih bisa bergaya bak turis sambil jalan-jalan menikmati jalanan Hong Kong, bukannya buru-buru mencari gadis yang diculik. Semua itu tak perlu dijelaskan, ke-absurd-an yang jadi bagian dari betapa cemerlangnya film ini. Epik, epik dan epik, “Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita” adalah film epik dari awal logo judulnya yang 3D berefek api berkobar-kobar itu hingga AA Azrax bilang tamat dan filmnya selesai.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Train to Bu...
Review - Dukun Linta...
Review - Headshot
Review - The Devil's...