Review: La Tahzan (Jangan Bersedih)

written by Rangga Adithia on August 14, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia and Romance with no comments

Di luarnya kelihatan manis, tapi belum tentu isi di dalamnya, bisa saja asam, yah itu ungkapan orang Jepang sana mengartikan kata Orenji, yang juga merupakan judul asli dari film yang kemudian diberi judul “La Tahzan” ini. Dengan berbagai alasan, mungkin juga agar pas dengan momen Lebaran ketika film dirilis, judul pun diubah, padahal menurut saya sudah sangat pas judul yang berbau Jepang di film yang memang hampir seluruh durasinya ber-setting negeri sakura tersebut. Ketimbang harus terkesan film relijius dengan mengganti judul, akhirnya justru malah tak kena, toh porsi reliji-relijian hanya sekelebat alias numpang lewat, yah sekedar tempelan untuk mempertegas judul namun tidak memberikan penonton kejelasan lebih dalam tentang apa sebenarnya film ini. “Orenji” pun lebih sering di sebut di film. Sudahlah, mau “Orenji” ataupun “La Tahzan” saya toh akhirnya menonton film ini, walaupun awalnya agak ogah pergi ke bioskop, salahkan pada trailer-nya yang menurut saya tidak menarik, lagi-lagi film reliji. Saya bukan anti film reliji, hanya sudah bosan diceramahi oleh film Indonesia dengan genre yang sama, terkadang hanya (memaksa) ingin mengumpan pesan-pesan moral saja, sedangkan cerita dinomor-duakan. Tidak semua tapi kebanyakan yah seperti itu. Jika saja “Orenji” mau apa adanya, tanpa harus memaksa melabelkan filmnya jadi film reliji dan berganti judul menjadi “La Tahzan”, mungkin hasilnya akan beda.

Yah, saya terlanjur kepincut oleh manisnya film ini tampak dari luar, tanpa tahu apa isinya memang semanis yang saya bayangkan. Klo dipikir-pikir setting negeri Jepang sebetulnya bisa dipindah ke negeri sendiri, tapi karena cerita di film ini mengharuskan saya jalan-jalan jauh ke Jepang, maka berangkatlah kita bersama Viona (Atiqah Hasiholan), gadis berlagak polos sekaligus bertingkah centil yang terbang ke Jepang untuk bersekolah (sambil nantinya bekerja). Viona yang sudah cukup fasih berbahasa Jepang pun kemudian tidak kesulitan bekerja di sebuah restoran sushi, walaupun awalnya diomeli oleh si bos karena datang terlambat, dengan alasan jatuh dari sepeda. Insiden kecil sepeda inilah yang akhirnya jadi awal pertemuan Viona dengan Yamada (Joe Taslim), seorang fotografer freelance yang kebetulan bisa berbahasa Indonesia, dan memang punya keturunan darah Indonesia dari sang Bunda. Dari sekedar bertemu di restoran, sampai akhirnya Yamada menawarkan bantuan untuk mencari teman Viona. Yamada selain jago memotret ternyata memang jago modus, dengan modal jalan-jalan terselubung, perlahan dia bisa mendekati Viona—bahkan sampai mau diajak menikah. Sayang semua tidak berjalan sesuai rencana, karena dalam hatinya, Viona masih mencari sekaligus menunggu Hasan (Ario Bayu), seorang “teman” yang selama ini dicari-carinya di Jepang bersama dengan Yamada. Hasan yang dulu pernah pergi tanpa pesan dan kabar ke Jepang, meninggalkan Viona dengan hati tergantung.

“La Tahzan” sendiri artinya “jangan bersedih”, tapi saya toh malah sedih setelah selesai menonton, bukan karena film ini berhasil mengetuk pintu hati, melainkan setelah dikupas dan dirasakan “La Tahzan” ternyata hampa rasa, hambar ketika bicara soal chemistry dan tidak meninggalkan setitik jejak emosi pada saat saya meninggalkan bioskop. Seperti sebuah perjalanan tanpa kenang-kenangan, jauh-jauh ke Jepang tapi tidak ada yang bisa dibawa pulang. “La Tahzan” memang saya akui begitu piawai ketika berbicara soal gambar-gambar cantik, didukung oleh keindahan Jepang itu sendiri, Yoyok Budi Santoso berhasil memotret keindahan pemandangan lanskap Jepang dan menangkap kecantikan warna-warni kotanya. Diselimuti oleh gambar-gambar bagus, sayangnya tidak membuat saya merasa hangat ketika disodorkan oleh kisah cinta segitiga (seperti bentuk onigiri) antara Viona-Yamada-Hasan. Sinematografi indah ternyata tidak memberikan rasa apa-apa kepada petualangan cinta Viona di Jepang, karena chemistry yang semestinya ada justru tidak bisa saya temukan, alih-alih merasa hangat, saya tak merasakan apa-apa. “La Tahzan” tampak seperti sebuah potongan sketsa yang (dipaksa) jadi cerita panjang, frame demi frame-nya memang cantik bukan main, romantis, yah sekaligus unyu, tapi sekali lagi hanya sebagai sebuah sketsa, potongan-potongan yang kesulitan untuk menyampaikan apa yang diinginkan, saya pun akhirnya tak bisa menikmatinya secara utuh—walaupun tidak sampai sepenuhnya tak peduli.

“La Tahzan” punya momen-momen menariknya, apalagi yang menyangkut porsi untuk membuat penontonnya setidaknya tidak tertidur, yah ketika film ini mulai menyempilkan kelucuan-kelucuan di tengah-tengah hati yang sedang gundah-gulana. Termasuk kehadiran Nobuyuki Suzuki sebagai Kepala Sekolah yang bisa mengundang tawa dalam “kebisuan” filmnya, ketika aksi asmaranya gagal untuk menebar senyum. Untuk akting, saya sebetulnya tidak ada masalah, apalagi saat melihat Atiqah Hasiholan begitu beda di film ini, benar-benar bisa menjadi gadis centil yang kadang-kadang terlihat mengganggu dengan sangat baik, karakternya memang dibuat seperti itu dan saya terima saja. Begitupula Joe Taslim sebagai Yamada, yang saya akui cemerlang dalam memerankan orang Jepang yang kikuk sekaligus charming. Ario Bayu sebagai Hasan pun bisa menghidupkan karakter-nya yang terkesan tidak punya jiwa tersebut, selalu menatap ke satu titik dengan pandangan kosong, tampak seperti pencandu narkoba. Ada kekurangan namun setiap pemain overall bisa memainkan karakter-karakternya dengan cukup baik, sayang begitu disatukan antara satu pemain dengan pemain lain, chemistry-nya tidak ada. Membuat saya agak tidak peduli cincin siapa yang akhirnya terpajang manis di jari Viona. Ketika karakternya dimainkan dengan baik, tapi tanpa ada kedalaman cerita untuk masing-masing karakternya, hasilnya kita hanya mampu mengenal mereka dari luar saja, tapi tetap terasa asing dengan siapa sebenarnya orang-orang yang kita tonton ini. Kembali lagi kepada “Orenji”, manis diluar tapi isinya tidak semanis kelihatannya, malah bahkan tidak terasa apa-apa. Sayang sekali padahal sudah jauh-jauh jalan-jalan sampai Jepang.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

20 Film Indonesia Wa...
Review - Iblis (2016...
Review - Ghost Diary...
Review - Juara (2016...