Review: Crazy Love (2013)

written by Rangga Adithia on August 21, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Comedy and Drama and Film Indonesia and Romance with 3 comments

Entah sudah berapa ratus ribu judul film Indonesia dengan tema percintaan kalangan remaja berlatarkan sekolah, jumlahnya banyak tapi yang berkesan buat saya masih bisa dihitung jari, salah-satunya “Catatan Akhir Sekolah”-nya Hanung Bramantyo. Well, dengan template cerita yang biasanya begitu-begitu saja, wajar jika saya agak (sudah) jenuh dengan genre yang satu ini. “Crazy Love” pun sebetulnya hanya sebuah pengulangan, plot kisah-kasih-di-sekolah yang banyak ditemui di film-film sebelumnya yang bertema sama, bahkan di FTV sekalipun. Cerita adalah masalah kedua yang mengganggu saya, yang paling menggelikan adalah kenapa setiap film seperti “Crazy Love” yang ber-setting di sekolahan ini, dunia sekolah yang diciptakan jauh dari gambaran saya waktu sekolah dulu. Paling mencolok sih soal seragam sekolah yang dipakai, dandanan anak-anaknya “sembarangan”, kaya bukan mau ke sekolah. Biar artistik atau dibilang nga cupu? yah, kalau menurut saya sih jatuhnya malah fake, atau memang sekolah sekarang kaya gitu? Dulu, baju dikeluarin saja mesti ngumpet-ngumpet takut ketahuan guru killer, baru bisa bebas jika sudah pulang sekolah. Film sekarang sepertinya berlomba-lomba membuat lingkungan sekolah makin tidak terlihat seperti sekolahan, hanya jadi background untuk numpang-nampang aktor-aktrisnya yang kece dengan seragamnya yang minta distrap guru. Ketidakpedulian film kita tentang dunia sekolah yang apa-adanya juga terlihat di “Crazy Love”, apa iya pakai dasinya seperti itu? apa iya dengan seenaknya bisa keluarin baju setiap saat tanpa dimarahi gurunya? Sekali lagi sekolah hanya jadi arena sirkus, mau tampak keren tapi dunia sekolahnya malah bikin saya “menjauh”.

Terlepas dari ceritanya yang hasil daur-ulang, comot sana-sini, klise, tapi bukan berarti saya langsung pergi meninggalkan bioskop begitu saja, toh sebenarnya di awal-awal “Crazy Love” masih mampu untuk membuat saya betah menikmati isi cerita, walaupun sekali lagi agak terdistraksi oleh dunia sekolahnya yang rada-rada sedikit ngawur. Kumbang (Adipati Dolken) dan gengnya, Daniel (Herichan) Basuki (Zidni Adam) dan Abdu (Kemal Palevi) terkenal paling bandel di sekolah. Tiap hari ada saja ulahnya, dari menyontek ketika ujian sampai aksi bunuh diri bohongan Kumbang untuk mencari sensasi. Ulah mereka selalu berakhir dengan hukuman, dijemur dilapangan. Tapi hukuman-hukuman dari Pak Kepala Sekolah (Ray Sahetapy) tampaknya tidak membuat Kumbang dan gengnya jera, akhirnya Pak Kepala Sekolah punya inisiatif, ketimbang terus memberi hukuman, kenapa tidak mencari cara lain agar “anak-anak kesayangannya” itu mau belajar. Lewat Olive (Tatjana Saphira) sang murid teladan, gadis paling pintar sekaligus cantik di sekolah—yang memang jadi incaran Kumbang dan kawan-kawannya—Kepala Sekolah menugaskan Olive untuk mengajarkan Kumbang, jadi semacam mentor. Kumbang pun bingung kok Olive yang sering diganggunya tiba-tiba jadi baik dan perhatian, memberikannya secarik kertas yang sayangnya memang bukan surat cinta melainkan berisi soal untuk dikerjakan Kumbang. Awalnya, niat baik Olive direspon cuek oleh Kumbang, soal-soal Olive dikerjakannya setengah hati. Lama-kelamaan, dari hanya secarik kertas berisi soal-soal matematika, pertanyaan lain muncul di hati , “apakah ini yang namanya jatuh cinta?”

Jika “La Tahzan” kemarin seperti film yang hampa chemistry, “Crazy Love” diakui cukup cermat dalam menghadirkan chemistry yang diperlukan, sutradara Guntur Soeharjanto (Tampan Tailor) mampu mengarahkan Adipati Dolken (Sang Kiai) dan Tatjana Saphira (Get M4rried) untuk menciptakan ikatan yang asyik, walau dikemas dalam situasi yang lagi-lagi klise. Paruh awal “Crazy Love” yang banyak dihabiskan di sekolah benar-benar dimanfaatkan dengan cukup baik oleh Guntur untuk mempersatukan karakter yang bertolak-belakang. Pendekatannya film ini dalam hadirkan kisah asmara remaja memang tak lagi baru, tapi Guntur mampu setidaknya menciptakan chemistry yang apa adanya, tidak dilebih-lebihkan dan yang terpenting tidak palsu. Didukung oleh akting cukup pas yang diperlihatkan oleh Adipati Dolken dan Tatjana Saphira, “Crazy Love” saya akui sukses mencuri hati pada paruh pertamanya, saya cukup menikmati ketika cinta mulai bersemi antara Kumbang dan Olive yang katanya menyukai kupu-kupu tersebut. “Crazy Love” yang memang dilabeli komedi romantis, tidak hanya soal cinta-cintaan tapi juga menampilkan porsi lucu-lucuan, beberapa guyonan ampuh membuat saya tertawa tapi sisanya sangat garing, mungkin tak cocok saja dengan selera humor saya. Well setidaknya porsi komedi tersebut masih bisa membuat paruh pertama film cukup bisa dibilang menghibur…melompat ke paruh kedua, semua berubah.

Apa yang sudah dibangun di paruh pertama seperti dirusak ketika “Crazy Love” tiba di paruh kedua, apa yang paling saya rasakan adalah hilangnya chemistry di film ini, antara Kumbang dan Olive. Jika sebelumnya semua masih diceritakan dengan tatanan penceritaan yang asyik, kali ini di paruh kedua menuju ke akhir film, “Crazy Love” justru dipaksa untuk diburu-buru selesai. Padahal di bagian awal film ini begitu percaya diri dan tahu betul ingin seperti apa filmnya, begitu beranjak ke paruh berikutnya, film yang skripnya ditulis keroyokan oleh Alim Sudio (Air Terjun Pengantin Phuket) dan Cassandra Massardi (The Tarix Jabrix 3) ini seperti kehilangan arah, tidak tahu lagi filmnya mau diapakan. Ketika arah penceritaan mulai dipaksa untuk menyentuh hati penonton tanpa berusaha agar penonton juga ikut terikat oleh chemistry, saya pun akhirnya tidak tahu lagi mau peduli atau tidak dengan filmnya. Walaupun formulanya cukup basi dan klise, ya tapi saya tetap menghargai “Crazy Love” yang punya niat untuk bercerita pada paruh awal, tak begitu rapih menyulam chemistry tapi setidaknya hasilnya cukup baik, membuat saya peduli pada karakter yang biasanya di film lain mengganggu dan saya tidak pedulikan. Sayang, “Crazy Love” tidak mampu mempertahankan semua itu, ketika sampai pada babak berikutnya kisah cinta antara Kumbang dan Olive, semua serba dipaksa untuk berubah, dipaksa untuk dewasa, dipaksa untuk romantis, chemistry itu dipaksa untuk hadir lagi…tapi gagal, tak berbekas. “Crazy Love” hanya menjadi film remaja kesekian yang akan mudah dilupakan.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Talak 3
Review - Raksasa Dar...
Review - Ada Apa Den...
Review - The Wailing...