Metallica Live in Jakarta: Metal Menyatukan Kita!

written by Rangga Adithia on August 28, 2013 in Concert Report with 3 comments

Siapa bilang konser metal selalu berujung rusuh? Konser akbar Metallica minggu lalu membuktikan musik metal justru bisa menyatukan, dari seluruh Indonesia, dari Sabang hingga Marauke tumpah-ruah memenuhi stadion Gelora Bung Karno yang berkapasitas 100.000 orang itu. Konser berjalan “santun” walau musiknya terbilang membentak-bentak dan penonton liar bagai kerasukan. Saya pikir jika mau hitung-hitungan, di Indonesia yang namanya konser pop atau dangdut lebih rusuh ketimbang konser berlabel metal. Saya lebih takut datang ke konser Ungu yang beberapa kali suka diberitakan rusuh, konser black metal macam Marduk (yang katanya musik setan) justru lebih bersahabat hahahaha. Well, faktanya yah memang dari konser-konser metal yang pernah saya datangi, dari KoRn sampai Hammersonic yang berskala festival, tidak ada satupun yang berakhir rusuh atau bakar-bakaran seperti konser Metallica di tahun 1993. Lagipula bukan musiknya yang membuat konser James Hetfield dan kawan-kawan pada waktu itu berakhir bencana, tapi pelaksana konser yang kewalahan dan pengamanan yang menurut saya diluar kewajaran. Bagaimanapun metal dan Metallica yang disalahkan, sejak saat itu hampir tidak ada lagi konser musik keras. Saya memang tidak ada disana ketika Metallica pertama kali datang ke Indonesia, hanya bisa mendengar cerita dan menonton di youtube, ketika Metallica main, dibelakang api berkobar-kobar dan suara sirine mengaung-ngaung, chaos. Itu 20 tahun lalu, sekarang saya jamin metal tidak lagi identik dengan kerusuhan tapi persahabatan, metal menyatukan kita dan datangnya Metallica (lagi) kesini seperti menyuarakan pesan tersebut.

“Musik setan”, saya ingat apa kata Bapak ketika tahu anaknya mulai suka dengan musik berisik tidak jelas itu. Ketika kaset-kaset Metallica, Sepultura dan Obituary bergantian di-play dan berkumandang di rumah. Saya masih suka mendengarkan Guns N’ Roses dan teman-temannya tapi sepertinya saya sudah menemukan apa yang kuping saya cari selama ini, yah musik metal. Menunggu Metallica datang itu seperti mimpi yang tampaknya sulit terwujud, dan kemarin walaupun sudah melihat langsung para “Dewa” di depan mata, saya masih sulit percaya, tanggal 25 Agustus masih seperti mimpi, Oh Tuhan saya ada di tengah konser Metallica. Penantian selama 20 tahun akhirnya terbayar, mereka yang dulu pernah berdiri di Lebak Bulus, kemarin melepas kerinduannya dan Gelora Bung Karno jadi saksi temu kangen yang bersejarah tersebut. Mereka yang dulu masih bocah ingusan, seperti saya, yang hanya bisa puas menonton kesaktian Metallica di vcd, dvd dan situs berbagi video pun akhirnya bisa mengeluarkan segala “unek-unek” yang selama ini terpendam. Di GBK kemarin, saya seperti mencurahkan isi hati kepada James Hetfield, betapa saya, kami semua mencintai Metallica. Tentu saja barisan metalheads yang kemarin datang menunjukkan rasa cinta itu dengan cara khas, cara yang biasa mereka lakukan, saling bertubrukan, berteriak, bernyanyi sama-sama dan tak ada letihnya mengepalkan tangan ke udara. Soal crowd, penonton metal kita memang tidak pernah mengecewakan, bolehlah diadu gilanya. James Hetfield merasakan itu, “Jakarta, you make Metallica feel good”, ucapnya selepas konser berakhir. Tidak pernah ada konser di Indonesia yang segila ini.

Tidak bisa tidur menunggu Metallica manggung, tiap hari menyetel lagu-lagunya di rumah, di mobil dan di kantor, sampai sempat takut batal ke GBK, karena tiba-tiba dua hari sebelum konser, punggung saya sakit. Suka cita yang berlebihan? saya tidak peduli apa kata orang hahahaha. Hari yang dinanti pun akhirnya tiba, dan saya tidak pernah melihat area sekitar Senayan berubah menghitam seperti minggu kemarin (25/08/2013). Seperti sedang ada tabligh akbar dengan jamaah yang semuanya berpakaian serba hitam. Sejak Minggu siang, daerah sekitar GBK memang sudah dipadati metalhead yang dari rumah sudah berniat “beribadah”, teriknya sinar matahari tidak menghalangi langkah-langkah mantap, dari anak-anak muda era Lamb of God sampai bapak-bapak tua beruban, metalhead senior. Saya datang kira-kira pukul 2 siang, sudah janjian berkumpul di sebuah mall di bilangan Sudirman, ada @ifrul, @IfanMulya, @FarizVanJava dan @Menenon, oh sedangkan @Lramadhania terpaksa tidak ikut rombongan karena harus nganter Ibunya—akhirnya baru bisa berkumpul setelah konser usai. Walau di tiket sudah tertulis gate dibuka pukul 5 sore, 2 jam sebelumnya GBK sudah dipastikan penuh oleh orang-orang berseragam hitam-hitam, sabar menunggu sambil duduk dan sebagian lagi mengantri official merchandise yang harganya membuat saya tidak jadi membeli, hahahaha. So far, semua aman terkendali, saya acungi dua jempol untuk pihak BlackRock Entertainment sebagai penyelenggara yang menurut saya benar-benar mempersiapkan konser Metallica dengan sangat baik. Salut!

Saya tidak mengada-ngada ketika di paragraf sebelumnya bilang tak pernah ada konser di Indonesia yang segila ini, khususnya konser metal-metalan. Tidak saja dari 50 ribuan orang yang kemudian memadati GBK, tapi dari ukuran stage-nya yang terbilang raksasa, tinggi 20 meter dan lebarnya sampai 60 meter, ya belum lagi tata visual dan cahaya yang ciamik memanjakan mata. Senang sekaligus haru langsung saya rasakan begitu berada di tengah lapangan GBK yang sudah ditutup papan pelindung rumput tersebut, walau Metallica dijadwalkan baru main pukul 8 malam, saya sudah bisa membayangkan mereka beraksi di panggung raksasa di depan saya. Walau sudah sering ke konser serupa, tapi baru pertama kalinya saya bergidik merinding melihat sebegitu banyaknya orang, atmosfir yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya, yang datang dari puluhan ribu orang mengelu-elukan nama Metallica. Ngantuk! 2 jam pun berasa seharian, sambil duduk saya berkali-kali melihat jam di handphone, sesekali mengobrol untuk menghabiskan waktu dan melihat sekeliling GBK yang benar-benar sudah menghitam. Penonton di tribun pun jadi satu-satunya hiburan penghilang rasa bosan, mereka dengan spontan membuat gelombang, asyik sendiri bersorak-sorai. Kira-kira pukul tujuh panggung pun bergema, penonton yang awalnya asyik duduk-duduk langsung berdiri, Seringai yang dijadwalkan membuka konser muncul dari balik panggung disambut suara gemuruh penonton, termasuk para serigala militia, sebutan fans Seringai. Sebelum Seringai menunjukkan taringnya, penyanyi cantik Raisa tiba-tiba naik ke atas panggung memimpin puluhan ribu penonton menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selepas itu barulah Seringai mengajak crowd ugal-ugalan dengan nomor-nomor gahar mereka, termasuk “Dilarang di Bandung” yang mengajak Ebenz (gitaris Burgerkill) untuk berkolaborasi. Kira-kira 30 menitan, usai habis-habisan menggempur penonton, Seringai pun mengakhiri party-nya dengan lagu “Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)” dan “Ace of Spades” milik Motorhead.

Agak ngaret dari jadwal, akhirnya “The Esctasy of Gold” berkumandang bergema ke seluruh penjuru Gelora Bung Karno tepat kira-kira 8.20, lagu yang memang selalu jadi pembuka konser Metallica tersebut pun, menjadi penanda dimulainya konser yang sudah saya tunggu-tunggu selama bertahun-tahun. Selepas lantunan musik karya Ennio Morricone yang menjadi soundtrack dari film “The Good, The Bad and The Ugly” yang dibintangi Clint Eastwood tersebut, James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammett, dan Robert Trujillo, satu-persatu muncul ke panggung dan langsung menyapa penonton dengan tembang lawas “Hit the Lights” dari album debut Metallica di tahun 1983, “Kill ‘Em All”. GBK pun serentak berubah jadi liar, kepalan tangan dan devil’s horn ke udara pun tak ada henti-hentinya mengiringi James dan kawan-kawan beraksi. “Master of Puppets”, “Fuel”, kemudian dilanjut “Ride the Lightning”, “Fade to Black” yang membuat saya berkaca-kaca, dan “The Four Horsemen” jadi cambuk yang memerintahkan penonton semakin menggila, bak orang-orang yang kerasukan. Metallica bagaikan badai yang tiba-tiba terjang lautan manusia di GBK, merubah lautan yang tadinya tenang menjadi gelombang besar ombak yang mengobrak-abrik kesunyian malam. Kerumunan orang mulai moshing kesana-kemari dan area festival terbagi menjadi dua, mereka yang gila untuk melakukan circle pit dan mereka yang masih waras untuk mundur sedikit. Daerah tribun pun tampak bergetar, diruntuhkan oleh gebrakan lagu-lagu cadas dari band asal Los Angeles yang dibentuk tahun 1981 ini. Saya dan puluhan ribu penonton benar-benar diajak bersenang-senang pada malam itu.

Diantara tembang cadas menghentak-hentak “Cyanide”—lagu dari album Death Magnetic (2008)—“Welcome Home (Sanitarium)”, “Sad but True” dan “Orion”, sesekali sang frontman James Hetfield pun menyapa penonton, memberitahukan betapa Metallica begitu senang bisa kembali ke Indonesia setelah 20 tahun. Tak hanya menyapa tapi sempat-sempatnya mengajak bercanda penonton, konser ini pun berubah jadi dagelan sesaat. James tahu betul bagaimana menghibur crowd-nya tidak hanya lewat suara dan permainan gitarnya tapi juga lelucon. Sedang si Lars Ulrich tampak anteng-asyik sendiri menggebuk-gebuk set drum-nya sambil melet-melet—ciri khasnya. Kirk Hammett yang bolak-balik dari ujung kanan ke ujung kiri panggung pun sangat anteng bersama gitarnya, berinteraksi dengan penonton lewat permainan melodi-melodi kelas dewa yang membuat saya tanpa sadar ngompol di celana, termasuk memainkan “The Imperial March” dari film “Star Wars”. Robert Trujillo sang pemain bas esentrik pun fokus membetot-betot basnya sambil sesekali melakukan aksi jongkok-jongkok yang jadi ciri khasnya. Saat lagu “One” dimainkan saya bisa melihat seluruh GBK meraung-raung, stage yang awalnya tenang tiba-tiba berubah bagaikan medan perang, atmosfir konser yang benar-benar membuat saya merinding, apalagi saat saya sengaja pindah ke belakang (sambil mencari air minum), menjauh dari posisi tengah, untuk melihat panggung dan penontonnya dari kejauhan, pemandangan yang luar biasa “indah” dan momen yang menakjubkan. Semakin malam, Metallica pun makin menghajar penonton lewat “For Whom the Bell Tolls”, “Blackened”, “Nothing Else Matters”, dan “Enter Sandman”. Walau tak lagi muda tapi semangat dan energi James dan kawan-kawan tampak tak pernah ada habisnya hingga ke encore, penonton pun makin ugal-ugalan berteriak-teriak “die…die..die…” ketika lagu “Creeping Death” dimainkan. “Fight Fire with Fire” dan “Seek & Destroy” yang ditunggu-tunggu akhirnya jadi penutup konser paling bersejarah di Indonesia ini. Kaki pincang, suara habis, badan remuk, nafas hampir habis…terima kasih Metallica!!