Review: The Theatre Bizarre (2011)

written by Rangga Adithia on July 9, 2013 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 5 comments

Setelah cukup kekenyangan sampai pengen muntah dijejali “The ABCs of Death” dan “V/H/S 2”, sambil menunggu menu antologi horor berikutnya—The Profane Exhibit, yang ditumpangi sutradara-sutradara ngehe, termasuk dalam daftarnya ada Yoshihiro Nishimura (Helldriver), Ruggero Deodato (Cannibal Holocaust), Nacho Vigalondo (Timecrimes), Michael Todd Schneider (August Underground’s Mordum) dan si jenius Uwe Boll (Rampage)—tidak ada salahnya saya mencicipi “The Theatre Bizzare” untuk sekedar cemilan. Sebetulnya sudah cukup lama DVD film ini tergeletak di pojokan, entah kapan belinya, akhirnya baru bisa ditonton kemarin-kemarin, sebelum berjamur—maklum DVD bajakan hahaha. Mimpilah bisa menonton film kaya gini di layar lebar, kecuali nyempil di festival film kaya INAFFF atau ada yang bikinin event nonton barengnya, misalnya nobar “V/H/S 2” yang diadakan @WatdefakMovie dan @ScreenSaversID beberapa waktu silam. Jadi kalau saya pilihannya masih ngubek lapak DVD 6000-an, atau mengunduh di internet, kalau lagi punya duit biasanya baru beli produk original secara online, itupun ngubek-ngubek lagi kesana-kemari nyari yang diskonan hahaha.

Oke, balik ke film yang mau saya review, “The Theatre Bizzare” pun punya daftar sutradara yang namanya familiar-lah dikalangan pecinta horor, siapa yang tidak kenal Tom Savini, orang yang cukup gila me-remake “Night of the Living Dead”-nya Romero, selain menjadi sutradara, Tom juga sering tampil sebagai aktor, tapi namanya memang lebih dikenal sebagai ahli bikin efek spesial dan make-up yang tujuannya buat nakutin orang, dari film-film zombie Romero “Dawn of the Dead” dan “Day of the Dead” sampai “The Texas Chainsaw Massacre 2”. Nama lain yang cukup membuat saya uring-uringan adalah Douglas Buck, lewat filmnya “Cutting Moments”, yang tergabung dalam antologi “Family Portraits”, Douglas sukseslah bikin saya menjerit-jerit seperti fans JKT 48 yang sedang menonton aksi Nabilah dan kawan-kawan di panggung. Well, dengan ekspektasi yang terbilang normal, “The Theatre Bizzare” dengan ke-enam ceritanya masih mampu membuat saya terhibur dalam kubangan darah. Seperti antologi-antologi horor sebelumnya, di “The Theatre Bizzare” pun akan ada segmen yang bakal lo favoritkan, sebaliknya ada juga yang bakal lo cemooh, “apaan sih, nga jelas, kok gini doang”. Menonton film yang tergabung dalam antologi horor emang kaya sebuah menu makanan di restoran yang lo nga bisa milih apa yang mao lo makan, pasrah aja nantinya akan dihidangkan makanan apa, surprise me! Kalau ternyata sesuai selera dan enak, pastinya girang mampus, nah kalau nga enak tinggal muntahin, makan makanan lain di sisa menunya. (Emang ada yah restoran kaya gini) anyway, tidak semua di “The Theatre Bizzare” itu enak, tapi yang nga enak tetap saya “telan” sampai abis.

Ke-enam cerita dalam “The Theatre Bizzare” memang tak saling berbagi benang merah, kesamaannya hanya temanya yang horor dan nantinya di-introduce oleh boneka yang bisa berbicara (diperankan oleh Udo Kier). Segmen pembuka yang diberi judul “Mother of Toads” sebetulnya punya setting yang menarik, lokasi pegunungan dan tengah hutan dimanfaatkan dengan cukup baik, banyak shot-shot yang membuat film yang beratmosfir horor supernatural ini semakin mistis, didukung juga musik minimalis yang cukup efektif membangun mood. Sayangnya sebagai pembuka, cerita pertama ini bisa dibilang tak punya greget, premis cerita memang menarik, tapi keseluruhan esekusinya bertele-tele dan malah membuat tiap menitnya terbuang percuma. Padahal artistiknya saya akui jempolan, namun tetap saja sebagai opening, film ini gagal membuat saya bergairah. Move on! Film selanjutnya “I Love You” bisa dibilang lumayan, apalagi dilihat dari konsepnya. Dibuka dengan adegan seorang pria tergeletak di kamar mandi berdarah-darah, saya berpikir film ini akan berakhir konvensional seperti horor slasher, tapi saya salah dan justru dipelintir dengan twist berdarah yang justru menyelamatkan keseluruhan film, yah termasuk akting pemainnya yang tidak meyakinkan itu.

“Wet Dreams” yang disutradarai oleh Tom Savini adalah salah-satu favorit saya, sesuai judulnya, apa yang dipertontonkan di segmen ini memang “mimpi basah” buat mereka yang menunggu gambar-gambar menjijikkan, disturbing dan gory ala Savini. Didukung oleh cerita yang cukup menarik, yang mem-blur-kan antara mana yang nyata dan tidak nyata, kata-kata “anj*ng” itu akhirnya keluar juga di segmen ini, respon jujur untuk film yang memang ngehek walaupun kehadiran si Savini dalam filmnya saya akui enggak banget. Jika di “V/H/S 2” saya yang sudah berharap segmen si Jason Eisener bakal ngehek, kemudian dikecewakan dengan film aliennya yang konyol (begitupula dengan segmen Ti West di ABCs of Death), lagi-lagi saya harus dikecewakan oleh sutradara yang dikira bakal bikin sesuatu yang jahanam (lagi). “The Accident”-nya Douglas Buck justru tampak tidak pada tempatnya, setengah-setengah antara mau horor-horor-an atau nga, hasil akhir malah jadi kaya film drama keluarga yang dibalut kelam. Oke, sinematografi dan pengemasan film yang artistik, penggunaan scoring dan narasi itu juga asyik, tapi tetap saja segmen yang satu ini bikin saya…sudahlah. Segmen selanjutnya yang diberi judul “Vision Stains” adalah satu-satunya yang punya konsep cerita yang paling kuat diantara segmen lain. Ada cewek bunuh-bunuhin pemakai narkoba, nih cewek ngambil cairan mata korbannya yang lagi sekarat, terus menginjeksi cairan itu ke matanya sendiri…untuk melihat kisah hidup mereka, well ini cukup jenius untuk dijadikan film panjang yang menarik. “The Theatre Bizzare” punya segmen terakhir berjudul “Sweets”, sesuai judulnya, filmnya memang jejalin saya dengan yang “manis-manis”…sampai muntah terus nari-nari girang. WTF!

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Iblis (2016...
Review - Ghost Diary...
Review - Cipali KM 1...
Review - 3 Srikandi