Review: V/H/S 2 (2013)

written by Rangga Adithia on June 13, 2013 in CinemaTherapy and Hollywood and Horror with 17 comments

Sebelas duabelas dengan film pertama, “V/H/S 2” adalah sebuah paket what-the-f*ck yang mengajak penggila horor untuk bersenang-senang. Gabungan film-film pendek found footage-nya kali ini memang tak sebanyak “V/H/S”, tapi setiap film tetap mengedepankan ke-ngehean yang akan membuat penontonnya ketakutan, teriak-teriak histeris, ketawa girang, maki-maki tetangga yang nyetel lagu K-Pop kenceng-kenceng, jungkir balik nahan pipis, ngasih jari tengah trus tidak berenti ngomong jorok di sepanjang film. Namanya antologi, khususnya horor, memang biasanya tidak semua segmennya sama, akan ada yang lebih ngehe dan bahkan jelek sekalipun, akan ada segmen yang kita suka banget dan yang nga banget. Itu berlaku juga di “V/H/S 2” (dan film pertama), tapi ya sejelek-jeleknya segmen di “V/H/S”, saya tetap menyukainya—nodong pisau dapur ke segmen berjudul “Second Honeymoon”. Begitu pula dengan sekuelnya, jika disejajarkan, segmen-nya Gareth Evans dan Timo Tjahjanto jelas yang paling stand out ketimbang film pendek lainnya. Jika di “The ABCs of Death”, Timo dengan “L for Libido”-nya jadi salah-satu yang paling ngaceng, di “V/H/S 2”, bergandeng mesra dengan Gareth, film pendeknya “Safe Haven” juga jadi yang paling brengsek, bedebah dan taik.

Mari kita tengok segmen per segmen, tidak berdasarkan peringkat dari ngehe aja ke paling ngehe, namun urutan yang ditunjukkan filmnya. “Tape 49” yang dibuka dengan adegan seorang pria yang mengintip pasangan yang sedang asyik enjot-enjotan, nantinya jadi semacam perantara, menggantikan peran “Tape 56” di film pertama. Pria pengintip tadi bernama Larry—yang ternyata seorang penyelidik swasta, bersama rekan kerjanya, Ayesha, mereka berdua menyelidiki hilangnya seorang mahasiswa. Penyelidikan tersebut mengantarkan Larry dan Ayesha ke rumah si mahasiswa, disana mereka menemukan tumpukan televisi, laptop, dan kaset-kaset vhs yang berserakan dimana-mana. Selagi Larry menelusuri rumah untuk mencari petunjuk, Ayesha ditinggal sendirian menonton kaset-kaset vhs tersebut. Sama seperti pola film pertama, isi vhs yang nantinya ditonton adalah bagian dari segmen-segmen yang ingin diceritakan “V/H/S 2”. Diceritakan secara bergiliran bersama dengan tiap segmennya (video yang ditonton oleh Ayesha), “Tape 49” nantinya juga akan ikut bercerita, dengan muatannya yang tidak kalah mengundang kata-kata kotor keluar. Disturbing sekaligus gory. “Tape 49” sama seperti “Tape 56” punya cara simple-nya sendiri untuk membuat saya terhibur, sambil menikmati kaset demi kaset vhs yang asalnya mencret dari pantat setan.

“Phase I Clinical Trials” yang disutradarai oleh Adam Wingard (You’re Next) bisa dibilang agak mengecewakan dari segi konsep, mereka yang pernah menonton “The Eye”-nya Pang Brothers pastinya akan familiar dengan segmen yang satu ini. Terlepas dari idenya yang mirip-mirip, beda di mata cangkokan yang diganti mata buatan berisi kamera, Adam saya akui masih mampu untuk membuat saya menjerit-jerit unyu ketika dia mulai menakut-nakuti dengan segala penampakan. Kemunculan hantu-hantunya yang ala Asia itu bisa dibilang kekuatan segmen ini, walaupun dibungkus dengan formula horor generik. Adam Wingard yang juga ikut bermain sebagai aktor utama pun bisa memainkan perannya dengan cukup baik, mampu mentransfer kebingungan dan ketakutannya ke penonton, dengan dukungan kemasan found footage/ mokumenter yang juga asyik. Mengerikan? “Phase I Clinical Trials” punya beberapa momen “kunci” yang ngehe. Saya takut dibilang subjektif, jika saya bilang “A Ride in the Park” adalah salah-satu segmen favorit, karena temanya zombi-zombian (tapi kayanya review saya kebanyakan memang subjektif, iya kan). Selain karena film yang disutradarai oleh Eduardo Sánchez dan Gregg Hale (The Blair Witch Project) ini ber-genre zombie, apa yang dilakukan Eduardo dan Gregg untuk mengesekusi filmnya jelas sangat menarik. Bermodalkan kamera Go Pro yang dipasangkan di helm si tokoh utama, “A Ride in the Park” digulirkan begitu asyik, layaknya jalan-jalan sore di taman bareng selingkuhan—hiraukan. Berdarah-darah? tentu saja, film zombi banget.

Sebetulnya klimaks sesungguhnya “V/H/S 2” ada di segmen milik Gareth Evans dan Timo Tjahjanto, yaitu “Safe Haven”. Sesuai dengan hype yang selama ini saya dengar (baca lebih tepatnya) dari orang-orang yang sudah menonton, saya rela ikut menyebut jika “Safe Haven” memang yang paling-paling-paling biadab nan sakit jiwa dari keseluruhan segmen yang di “crot”-kan “V/H/S 2”. Satu-satunya segmen yang saya harapkan ada film panjangnya, dengan pondasi tema satanik, ritual pemujaan setan dan sekte sesat, “Safe Haven” telah berhasil menghadirkan kengeriannya tersendiri. Didukung permainan akting yang sangat sakit jiwa dari seorang Epy Kusnandar, film yang juga diramaikan oleh hadirnya Oka Antara, Fachry Albar dan Hanna Al Rashid ini tidak saja menyumpalkan sebuah mimpi buruk yang benar-benar menyenangkan—banyak darah, potongan tubuh serta segala keabsurdan yang ngehe, tapi juga membungkus horornya dengan mainan praktikal efek yang levelnya bajingan. Film yang bikin saya jingkrak-jingkrak dan kegirangan, kalau kata Cinta: “Safe Haven, elo tuh bener-bener sakit jiwa!”. Film terakhir, sayangnya seperti dibanting-banting oleh Hulk, setelah segmen sinting, “Slumber Party Alien Abduction” bisa dibilang segmen terlemah dan saya tidak menyangka ini buatan Jason Eisener, karena gayanya benar-benar bukan Jason banget (sok akrab), jika melirik film-film sebelumnya, termasuk segmennya di “The ABCs of Death” dan film pendek “Treevenge”. Tone film Jason yang biasanya mencolok mata, sekarang berubah haluan mencolok-colok telinga saya. Ya walau saya kecewa dengan segmen terakhir, “V/H/S 2” tetaplah hiburan gila, terserah jika nanti mau dilanjutkan sampai 100 pun, saya tetap akan menonton.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Bone Tomaha...
Review - Raksasa Dar...
Review - Indonesia K...
Review - Rumah Malai...