Review: Sang Kiai

written by Rangga Adithia on June 7, 2013 in Asian Film and CinemaTherapy and Drama and Film Indonesia with no comments

“Sang Kiai” bisalah dibilang sebuah lompatan besar dalam karir penyutradaraan seorang Rako Prijanto, yang lebih dikenal dengan film-film bertemakan komedi  macam “D’Bijis” (2007) dan romansa anak muda, “Malaikat Tanpa Sayap” (2012) misalnya. Jejak rekamnya pun tidak mulus-mulus amat, beberapa film dapatkan pujian, sisanya terbawa “arus”, film-film komedi yang bikin geleng kepala. Lepas dari itu, saya tidak serta-merta langsung menghunuskan kritikan pada film yang menceritakan tentang sepak terjang Kiai Haji Hasyim Asy’ari ini, bermodal dari cuplikan trailer. Toh dari potongan-potongan adegan dalam trailer berdurasi dua menitan tersebut, saya malah penasaran kepingin nonton, “kayanya epik” itulah respon spontan saya ketika melihat trailer “Sang Kiai”. Memotret seorang tokoh penting kemudian ditampilkan dalam sebuah film biopik memang bukan perkara mudah, tapi bukan berarti tidak bisa, kita punya kok beberapa film biopik hebat: “Tjoet Nja’ Dhien”-nya Eros Djarot, “Gie” (2005), atau yang lebih dekat ada “Sang Pencerah” karya Hanung Bramantyo, yang rilis 2010 silam. Habibie & Ainun yang kemarin laris manis bak kacang goreng itu juga termasuk, terlepas dari kemasan yang terasa nge-pop—lupakan “Si Anak Kampoeng” dan “Obama Anak Menteng”.

Berlatar belakang tahun 1942, di Jawa Timur, ketika pasukan Jepang baru masuk ke Indonesia, berembel-embel propaganda “saudara tua Bangsa Asia”, kemudian menendang Belanda. Sehabis itu kita tahu, Jepang hanya ingin merampas tongkat estafet dari Belanda untuk menjajah bangsa kita. Kala itu banyak Kiai-Kiai yang ditangkapi, karena melakukan perlawanan terhadap Jepang, salah-satunya ialah menentang kewajiban untuk membungkuk hormat kepada Kaisar Jepang sebagai keturunan Dewa Matahari atau dikenal dengan sebutan Seikerei, karena hal itu tidaklah sesuai dengan ajaran Islam. Pertentangan itu juga terjadi di Pesantren Tebuireng, pimpinan KH Hasyim Asy’ari, yang menolak keras untuk mengikuti segala aturan yang jelas-jelas bertentangan dengan keyakinannya. Walau sempat mencoba melawan dan melindungi Kiai mereka, para santri akhirnya harus rela melihat guru mereka dibawa Jepang, KH Hasyim Asy’ari pun tidak ingin terjadi pertumpahan darah di pondok pesantrennya. Segala cara dilakukan untuk bisa membebaskan Kiai, oleh putra-putranya, KH Wahid Hasyim, Karim Hasyim dan Yusuf Hasyim, lewat jalan baik-baik diplomasi dan juga cara lebih kasar. Hasilnya nihil, KH Hasyim Asy’ari tetap ditawan dan justru dipindahkan ke penjara lain.

Banyak yang akan diceritakan dari film “Sang Kiai”, tidak saja ketika sang pendiri Nahdlatul Ulama tersebut harus terkurung di penjara demi keyakinannya, tapi ketika KH Hasyim Asy’ari nantinya bebas dan membantu perjuangan Indonesia lewat pemikiran-pemikiran serta ajaran-ajarannya. Berjuang demi kepentingan umat melalui jalan diplomasi, ketika nanti juga KH Hasyim Asy’ari masuk dalam organisasi bentukan Jepang, sekaligus menjadi ketuanya. Dari segi produksi, apa yang sudah ditampikan “Sang Kiai” bolehlah dikatakan epik, dari awal penonton sudah diajak merasakan seperti apa tahun 40-an, setting yang dibangun pasukan artistik “Sang Kiai” benar-benar membawa penonton masuk ke jaman itu, ketika Indonesia sedang dijajah oleh Jepang. Dari pemilihan lokasi yang memanfaatkan gedung-gedung kuno, penempatan kendaraan-kendaraan perang, hingga ke tata kostum. Dukungan artistik yang jempolan itu memang kemudian jadi daya tarik lebih dari film yang ditulis oleh Anggoro Saronto (Sang Pialang), membuat saya semakin nyaman menjelajahi kisah hidup KH Hasyim Asy’ari, ditambah penataan gambar yang menarik berkat olahan sinematografi Muhammad Firdaus. Well, ya diakui “Sang Kiai” itu memang begitu mantap ketika memamerkan tetek-bengek teknisnya—termasuk juga tata suara dan scoring-nya yang kerap jadi tersangka utama yang membuat emosi saya terombang-ambing. Tapi ada “sayangnya…”.

Berbeda dengan “Sang Pencerah” yang begitu setia menceritakan Ahmad Dahlan, selaku tokoh utama di filmnya, tidak demikian dengan “Sang Kiai” yang di paruh keduanya malah melenceng kemana-kemana—terlalu banyak membagi porsinya dengan Harun yang dimainkan Adipati Dolken, padahal karakter yang menurut saya jam tampilnya bisa dipersingkat. Saya yang ingin sangat mengenal Pak Kiai Hasyim Asy’ari, memang punya banyak waktu untuk tahu lebih jauh sosoknya, tapi ketika melompat dari paruh pertama ke paruh kedua, karakter Harun selalu tiba-tiba memotong, dengan treatment karakter dan porsi cerita yang terbilang lebih nge-pop, dengan sisipan racikan romansa ala Rako. Padahal untuk porsinya Hasyim Asy’ari saja masih banyak yang perlu diceritakan, tapi yah pada akhirnya harus mengalah untuk mempersilahkan Harun menggalau dengan segala macam kegalauan-nya. Posisi karakter Harun nantinya ditempatkan untuk membonceng segala macam dramatisasi yang diperlukan, dalam menemani cerita. Yah sebuah film adakalanya perlu dramatisasi, menggenjot efek hiburan ke penonton, “Argo” yang menang Oscar itu pun perlu “drama”, tidak salah kok asal penempatannya tepat, dan “Sang Kiai” bisa melakukan itu, walau di beberapa bagian bisa dibilang cukup berlebihan. Adegan perang, asyik—kemunculan Bung Tomo itu juga epik, sayang ceritanya tidak membuat saya semakin lebih dekat dengan sang tokoh, Hasyim Asy’ari, belum lagi pendekatannya yang terkadang masih berkesan yah terlalu menggurui. Terlepas dari kekurangan tersebut, saya sekali lagi salut dan acungi jempol untuk tata produksinya, patutlah dijadikan contoh, hebat.

Thanks! Silahkan baca review/artikel lainnya:

Review - Turbo Kid (...
Tujuh Film Horor Fav...
Review - Don't Breat...
Review - Train to Bu...